Search

21.10.21

SELARAS

“Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasai seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” (1 Korintus 9:27 TB) Saat saya makan siang di sebuah food court, tanpa sengaja saya mendengar pembicaraan dua orang pria yang berpakaian rapi layaknya pimpinan perusahaan, yang juga sedang duduk makan di belakang meja tempat saya duduk. Salah satu dari mereka berkata, “Ah sekarang cari pegawe mending yang biasa-biasa aja. Yang terlalu fanatik (red: dalam hal kegiatan Rohani) malah banyak yang ga becus kerjanya. Absen tinggi, disuruh lembur susah. Ngomong aja Tuhan, Tuhan, tapi kelakuan ga lebih bener dari yang ga pernah ke gereja.” Perkataan tersebut menampar saya cukup keras, seolah-olah Tuhan mengingatkan saya tentang bagaimana pentingnya menghidupi integritas dan nilai-nilai yang dimiliki orang percaya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Walaupun begitu, saya dapat mengerti pemikiran mereka. Dalam posisi mereka sebagai pimpinan perusahaan, yang mereka nilai bukanlah seberapa sering kita berdoa ataupun seberapa banyak kita mengikuti ibadah dalam seminggu. Tapi nilai-nilai yang kita miliki dalam bersikap dan bekerja. Sahabat, sebagai orang percaya, kita bukan hanya sekumpulan orang yang dipisahkan dari dunia, melainkan juga diutus keluar untuk menjadi berbeda dan mewarnai dunia dengan nilai-nilai kebenaran. Oleh karena itu, kehidupan kerohanian kita haruslah selaras dengan keseharian kita di manapun kita ditempatkan. Seberapa banyak firman yang kita telah dengar, sebanyak itu pulalah kita perlu menghidupi dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Jadilah terang bukan hanya lewat perkataan kita, namun juga lewat perbuatan hidup kita.

KACAMATA

“Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” (Matius 5:8 TB) Bagi Saudara yang menggunakan kacamata untuk membantu penglihatan dalam melakukan aktivitas harian pasti mengerti bagaimana rasanya saat meminum atau menyantap suatu minuman atau makanan yang panas dan uap panas tersebut dapat mengganggu penglihatan pada kacamata kita. Atau saat jejak sidik jari kita menempel di lensa pada kacamata kita sehingga pandangan kita terganggu saat menggunakan kacamata tersebut. Oleh karena itu, kita perlu rutin membersihkan kacamata kita untuk memastikan pandangan pada kacamata kita menjadi bersih dan jelas. Dalam perjanjian lama, Tuhan digambarkan sebagai sosok yang maha suci dan kudus. Hanya orang-orang yang suci dan kudus jugalah yang dapat diizinkan untuk “melihat” Tuhan. Mereka mempersiapkan diri dengan baik untuk bertemu Tuhan: membersihkan diri mereka, mempersembahkan korban penghapusan dosa, berpuasa, dan lain sebagainya. Karena hanya orang-orang yang suci dan kudus yang dapat melihat kebesaran dan keagungan Tuhan. Setelah karyaNya di kayu salib yang merobek tirai bait Allah, kita memang dapat menghampiri Tuhan kapanpun dan dalam kondisi apapun kita. Namun, seringkali kita lupa bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang kudus, dan Ia rindu agar kita juga bersekutu dan menjalani hidup kita dengan kekudusan, hati yang suci dan menghidupi nilai-nilai kebenaran. Sama seperti kacamata, kita perlu selalu menjaga kekudusan hati dan kehidupan kita saat ini, agar kita dapat dengan jelas “melihat” hadirat dan kehendakNya dalam hidup kita.

BELAJAR DARI JUKIR

“Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu. Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya.” (Kejadian 39:21-22 TB) Seorang pria paruh baya terlihat sibuk mengatur berbagai kendaraan di area parkir sebuah bank. Hari itu, terlihat banyak nasabah yang berkunjung untuk melakukan transaksi keuangan. Dengan penuh semangat, ia menyapa para pengunjung yang keluar dari kendaraannya dan mengantar mereka hingga pintu masuk. Panas terik matahari tidak menghilangkan senyuman dari wajahnya. Dari kejauhan, saya memperhatikan kesibukan bapak tersebut. Dari seragam kerjanya, cukup jelas bahwa ia bekerja sebagai juru parkir yang bekerja untuk dirinya sendiri dan bukan sebagai pegawai bagi bank tersebut. Walaupun tidak ada kewajiban baginya untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi para nasabah bank tersebut, namun ia tetap memilih untuk melakukan yang terbaik. Sikapnya dalam bekerja membuat saya kagum, walaupun mungkin tidak semua orang memperhatikan pekerjaannya. Sahabat, integritas dan sikap kita dalam bekerja tidaklah ditentukan oleh jenis dan level pekerjaan kita. Tuhan tidak pernah memandang rendah apapun pekerjaan kita, selama pekerjaan tersebut berkenan di mataNya. Justru, ia rindu agar pekerjaan yang kita lakukan dapat membawa kemuliaan namaNya. Janganlah memandang rendah pekerjaan dan usaha apapun yang kita lakukan saat ini. Dengan pekerjaan dan usaha yang Tuhan percayakan kepada saat ini, kita diberikan kesempatan untuk menunjukkan sikap dan nilai-nilai firman Tuhan dalam pekerjaan kita, sehingga kita dapat dipercaya untuk melakukan hal-hal yang lebih besar. Hal termudah yang dapat kita lakukan untuk membawa kemuliaan bagi nama Tuhan adalah dengan menunjukkan sikap dan nilai-nilai firman Tuhan yang kita miliki dalam dunia usaha dan pekerjaan kita, sehingga orang lain dapat melihat bahwa hidup kita berbeda dan memiliki nilai-nilai yang tidak dunia miliki. Marilah kita tunjukkan nilai-nilai kebenaran yang kita miliki untuk membawa kemuliaan bagi kerajaan Sorga.

TERANG BAGI ALLAH

“Tetapi lampu selalu ditaruh di tempat yang tinggi, supaya menerangi semua orang yang ada di dalam rumah. Begitulah hendaknya terangmu menyinari orang lain. Maksud-Ku, biar orang-orang lain melihat perbuatan-perbuatan baik yang kamu lakukan, lalu memuliakan Bapamu yang di surga.” (Matius 5:15-16 TSI) Siapa yang tidak kenal Agnez Mo? Bintang besar yang kini berkarir di dunia internasional tersebut terkenal sebagai seorang aktris yang menjalani pekerjaannya dengan professional dan penuh persiapan yang sungguh-sungguh. Ia memiliki mimpi dan berani mewujudkannya hingga menjadi kenyataan. Dalam sebuah wawancaranya akhir-akhir ini, ia mengungkapkan apa yang menjadi motivasi dan semangatnya untuk selalu melakukan semua pekerjaannya dengan maksimal. Ia berkata bahwa hidupnya “dipinjamkan” Tuhan untuk menjadi alat kemuliaanNya. Ia merasa bahwa segala talenta dan bakatnya adalah titipan Tuhan yang harus ia kelola dan kembangkan dengan maksimal. Sehingga ia bisa “naik” ke posisi yang tinggi dan dilihat semua orang. Bukan untuk kepentingannya sendiri, namun ia sadar, hanya dari tempat yang tinggilah semua orang dapat melihat pekerjaan Tuhan yang ajaib dalam hidupnya. Sahabat, seringkali kita merasa, kesuksesan yang kita miliki berorientasi pada kehebatan kita. kita merasa layak mendapatkan imbalan atas segala jerih payah dan ketekunan kita selama ini. Namun, tidak dengan orang-orang yang memprioritaskan Tuhan dalam hidupnya. Segala imbalan atas hasil jerih payah dan usahanya ia dedikasikan bagi kemuliaan Tuhan. Ia mengerti, bahwa dengan hidup di atas rata-rata, ia akan menjadi berbeda dan dilihat banyak orang. Kesuksesannya bukanlah untuk kepentingan dirinya sendiri, namun untuk kemuliaan nama Tuhan. Tidaklah salah menjadi hebat dan berprestasi dalam bidang yang kita tekuni saat ini. Namun ingatlah, bahwa Tuhan membawa kita ke tempat yang lebih tinggi bukanlah untuk kejayaan kita sendiri. hal tersebut hanyalah membuat kita tinggi hati dan tidak lagi mengandalkan Tuhan sebagai prioritas utama dalam hidup kita. Ia rindu, lewat apa yang kita kerjakan, menjadi kemuliaan bagi Kerajaan Sorga. Apakah Saudara bersedia?

PERSIAPAN SANG PEMANAH

“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” (Amsal 22:6 TB) Jika bagi sebagian orang anak adalah hadiah dari Tuhan yang terindah, bagi saya agak berbeda. Bagi saya, anak adalah titipan dan tanggung jawab yang Tuhan berikan pada saya. Saya mengingatkan diri saya sendiri bahwa bagaimana pun anak adalah milik Tuhan, bukan milik kedua orang tuanya. Artinya, suatu hari, saya tetap harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan. Itu membuat saya memiliki pola pikir bahwa apapun yang saya ajarkan dan keputusan apapun yang saya ambil bagi kehidupannya, harus sesuai dengan kehendakNya. Sahabat, saya yakin tujuan Tuhan bagi keluarga bukanlah sekedar “beranak cucu dan penuhilah bumi”. Namun, bagaimana kita sebagai orang tua dapat bertanggung jawab mendidik sebuah generasi penerus yang sesuai dengan rancangan Tuhan atas hidup anak-anak kita. Tuhan rindu generasi penerus kita mewarisi iman dan nilai-nilai firman Tuhan yang ada dalam hidup kita. Tuhan juga memakai kita untuk membuat mereka menemukan rencana Tuhan secara spesifik dalam hidupnya dan hidup di dalamnya secara maksimal. Dengan begitu, kita mempersiapkan mereka menjadi generasi anak panah yang hidup tajam dan maksimal sesuai rencanaNya sehingga hidup mereka dapat dipakai bagi kemuliaan namaNya. Saudara, anak-anak yang dipercayakan kepada kita adalah anak-anak panahnya Tuhan yang akan dilesatkan saat waktunya tiba. Artinya, mereka tidak selamanya berada di tangan kita. Pastikan bahwa waktu yang dipercayakan Tuhan bagi Saudara benar-benar kita pakai untuk mempersiapkan mereka menjadi peka dan tajam akan suara dan rencanaNya bagi hidup mereka. Sehingga rencanaNya digenapi dan hidup mereka menjadi kemuliaan bagi Tuhan. Bersyukurlah, bahwa Saudara adalah orang yang tepat dan yang dipilih Tuhan untuk mendidik sebuah generasi masa depan yang akan Tuhan pakai bagi kemuliaan namaNya.

MENGALIHKAN PERHATIAN

“Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” (Yakobus 1:14-15 TB) Seorang artis ditanya oleh media dalam sebuah wawancara mengenai cara bagaimana ia akhirnya dapat menurunkan berat badannya secara drastis. Ia mengatakan, “Saya tidak percaya akhirnya saya dapat berhasil menurunkan berat badan saya ke angka yang saya raih saat ini. Ini membuktikan bahwa jika saya bisa, Anda juga pasti bisa. Saya suka sekali makan. Dan diet yang saya lalui beberapa tahun terakhir ini sangat menyiksa saya. Namun izinkan saya memberi Anda rahasia saya. Setiap kali keinginan saya untuk makan muncul, maka saya akan mengalihkan perhatian saya kepada hal lain: bekerja, berolahraga, maupun mendengarkan podcast favorit saya.” Dalam sebuah studi penelitian yang dijelaskan dalam Journal of Neuron, cara kerja otak untuk menghapus memori yang lama adalah dengan menggantikan (replace) memori tersebut dengan memori yang baru. Oleh karena itu, cara paling ampuh untuk mengalihkan perhatian kita dari satu hal yang sedang kita pikirkan adalah bukan dengan berusaha keras untuk tidak mengingatnya. Namun dengan mengalihkan perhatian kita terhadap hal lain. Sahabat, begitu pula yang perlu kita lakukan saat terlintas di benak kita untuk melakukan hal-hal yang tidak berkenan di hati Bapa. Yakobus berkata bahwa dosa dimulai dari keinginan yang dibuahi (di dalam otak). Oleh karena itu, sebelum keinginan tersebut dibuahi dan menjadi matang, kita perlu mengalihkan perhatian kita dengan hal positif dan melawan pikiran tersebut dengan firman yang menjadi pedang Roh kita. Roh Kudus, yang adalah penolong kita, akan memampukan kita untuk melakukannya, jika kita memiliki hubungan yang erat denganNya.

BERKATA SEBALIKNYA

“Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (Markus 11:24 TB) Eddy adalah seorang pengusaha yang baru saja keluar dari zona nyamannya sebagai seorang pegawai kantoran dan mencoba memulai usahanya sendiri dengan membuka toko kecil-kecilan di salah satu area pusat perniagaan di kotanya. Dengan segala usaha dan perjuangan yang ia lakukan dalam bulan-bulan pertamanya, ia belum juga memperoleh hasil penjualan yang cukup untuk menutup modal awal usahanya. Ia merasa hilang harapan dan hampir menyerah. Namun, sahabatnya menantangnya untuk melakukan sebuah kebiasaan sederhana yang mengubah kerugian usahanya menjadi kesusksesan besar dalam bisnisnya. Sang Sahabat menyuruhnya untuk mengucapkan kata-kata positif setiap pagi ia membuka tokonya di pagi hari, walaupun kondisinya saat itu berkebalikan dengan kenyataan yang ada. Ia menurutinya. Sambil membuka toko kecilnya setiap pagi, ia berkata bahwa tokonya hari ini akan ramai pengunjung serta mendapatkan hasil penjualan yang cukup untuk menutup biaya operasionalnya. Ia mengucapkan harapannya bahwa tokonya dapat memenuhi kebutuhan pengunjungnya dan membantu mereka mendapatkan harga yang terbaik. Tanpa sadar, ia telah bernubuat setiap hari bahwa ia bertemu orang-orang yang tepat dan usahanya dapat memberkati banyak orang. Dalam beberapa waktu kemudian, hasil usahanya meningkat berlipat kali ganda. Bahkan, ia berhasil melakukan ekspansi bisnis dan membuka cabang di daerah lain di kotanya. Sahabat, percayakah kita bahwa perkataan berkat kita dapat menembus roh kita untuk menyampaikan doa dan harapan iman kita kepada Allah? Oleh karena itu, perkatakanlah perkataan positif yang membangun iman kita, sekalipun bertentangan dengan kenyataan yang ada saat ini. Ucapkan syukur atas segala hal yang kita miliki dan yang belum kita miliki. Karena perkataan kita merupakan wujud dari iman dan harapan kita kepada Allah. Dan ia memiliki kuasa untuk membangun manusia roh kita menjadi semakin kuat dan mengubah kemustahilan menjadi sebuah mujizat yang memuliakan namaNya.

KASIH DAN PENGAMPUNAN

“Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.” (Lukas 7:47 TB) Sewaktu saya baru bertobat, pemikiran saya tentang mengasihi hanyalah sedangkal mengadakan kegiatan misi ataupun bakti sosial kepada orang-orang yang belum mengenal Yesus dan membagikan makanan maupun kebutuhan lainnya yang mereka perlukan. Namun, seiring pertumbuhan rohani saya dengan Tuhan, saya mengerti dengan jelas, bahwa tindakan mengasihi yang paling dalam dan sulit untuk kita lakukan adalah mengasihi orang yang kita kenal dekat, namun ternyata memperlakukan kita dengan tidak baik. Seringkali, orang yang paling sulit kita kasihi bukanlah orang lain yang jauh dan tidak kita kenal. Karena seringkali, yang menyakiti hati kita adalah orang-orang yang mengenal kita dengan baik: pasangan kita, anak-anak, maupun rekan kerja atau pelayanan kita. Saya belajar, bahwa tindakan mengasihi tidak dapat dilakukan tanpa kita memiliki kemampuan untuk mengampuni. Bukan hanya sekali,namun berulang kali. Sahabat, tanpa kita mengenal dan mengalami kasih dan pengampunan Bapa, kita tidak akan mungkin dapat mengasihi dan mengampuni dengan benar. Karena hanya kasih Bapalah yang akan memampukan kita untuk mengasihi dan mengampuni, sama seperti Bapa mengasihi dan mengampuni setiap kesalahan kita. Kedua hal ini merupakan karakter ilahi yang Tuhan rindu kita miliki dalam setiap kehidupan orang percaya. Lewat setiap proses, kejadian, dan hal-hal yang terjadi dalam hidup kita, hati kita dibentuk sehingga kita belajar untuk hidup, sama seperti Allah hidup. Siapapun orang yang menyakiti hati kita tidaklah penting, namun, proses itulah yang membuat kita semakin hari, semakin seruapa dengan Kristus. Oleh karena itu, mari kita syukuri setiap proses pendewasaan yang Tuhan berikan dalam hidup kita. Ingatlah, Tuhan belum selesai bekerja dalam hidup Saudara.

Y.O.L.O

“Hidup kami terbatas. Hanya Engkau yang tahu berapa lama kami hidup. Engkau telah menentukan batas bagi kami dan tidak ada yang dapat mengubahnya.” (Ayub 14:5 VMD) You Only Live Once. Pernah dengar kalimat ini? Ya. Memang hidup Cuma sekali. Dan kita punya dua pilihan: menikmati hidup kita, atau menghidupinya dengan bijaksana. Terkadang banyak orang yang terjebak dengan pilihan pertama. Karena hidup hanya sekali, lakukanlah apapun yang ingin Anda lakukan selagi bisa. Tetapi, pola pikir seperti ini membuat kita menjadi self-centered. Yang penting hidup kita. kita hanya berpusat pada mimpi dan pencapaian apa yang ingin kita raih dalam hidup kita. apapun halangannya, kita akan berusaha bagaimanapun caranya sampai kita mendapatkannya. Namun berbeda dengan pilihan kedua: menghidupinya dengan bijaksana. Di akhir hidup kita, kita akan mempertanggungjawabkan seluruh waktu yang kita miliki selama hidup kita kepada Tuhan. Pernahkah Saudara bayangkan saat Tuhan bertanya: “ Jadi, apa saja yang sudah kamu lakukan selama kamu hidup?” Apa yang akan Saudara jawab? Hidup ini bukan soal seberapa panjang umur kita. tapi seberapa banyak hal yang kita lakukan dalam hidup kita untuk orang lain. Kita percaya, bahwa Tuhan tidak terlalu iseng untuk menciptkan kita tanpa alasan dan tujuan yang spesifik. Bahkan setiap kejadian, kesempatan, dan pertemuan hidup kita dengan orang lain, sudah ditentukan Tuhan dari sejak kita dibentuk di dalam kandungan. Jadi, ada tugas dan tanggung jawab yang perlu kita lakukan dengan hidup kita, dengan waktu yang Tuhan percayakan bagi kita. dengan pola pikir seperti ini, kita akan memandang hidup kita dengan lebih berarti. Bukan sekedar rutinitas, atau sekedar berfokus dengan masalah dan kesusahan hidup kita sendiri. Sudahkah Saudara menyadarinya? Sudahkah Saudara berjalan di dalam rencanaNya?

BONDING

“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya” (Filipi 3:10) Saat melahirkan anak, saya baru mengerti betapa luar biasanya ikatan atau bonding antara seorang ibu dan bayinya saat proses menyusui. Menyusui bukan sekedar mencukupi kebutuhan jasmani anak kita, namun di dalam prosesnya, tercipta ikatan batin yang menumbuhkan rasa kasih sayang dan kedekatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata di antara keduanya. Itulah mengapa perasaan seorang Ibu biasanya lebih kuat saat anaknya mengalami hal yang tidak menyenangkan. Seorang Ibu juga merupakan orang yang paling mengerti kebutuhan anaknya dan yang mengenal dengan jelas kepribadian anaknya. Allah Bapa kita di Sorga adalah pribadi yang rindu dekat dengan kita, bahkan lebih dari seorang Ibu, Ia adalah pribadi yang menciptakan tubuh, jiwa, dan roh kita. Ia bukan hanya memenuhi semua kebutuhan kita, namun Ia terlebih rindu bersekutu dengan roh kita. karena dengan persekutuan pribadi denganNya, bonding antara roh kita dan rohNya akan menjadi semakin kuat. Kita akan mengenal pribadiNya lebih dalam, dan kita mengerti apa kehendakNya atas hidup kita. Roh yang kuat tidak terbentuk dalam semalam saat kita menerima keselamatan. Ia tercipta dari jam-jam doa kita setiap hari. Semakin hari, semakin kita akan menjadi seperti Kristus dalam perkataan, pemikiran, dan perbuatan kita dalam hidup sehari-hari. Kita mengenal apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita. Kita mengerti respon dan keputusan seperti apa yang harus kita ambil saat berada dalam situasi tertentu. Kita tahu dengan jelas apa yang Tuhan suka, dan apa yang Ia tidak suka. Sahabat, bagaimana bonding kita dengan Tuhan hari-hari ini? Ia rindu bersekutu dengan kita. Mari datang dengan hati yang haus akan pengenalan kita kepadaNya.

FIREPROOF

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5:8) Ada sebuah film yang selalu mengingatkan saya tentang kasih, yang berjudul Fireproof. Film ini mengisahkan seorang petugas pemadam kebakaran yang berusaha menyelamatkan hubungan dengan istrinya yang retak karena berbagai konflik di antara keduanya. Kemudian ayahnya memberikan sebuah buku yang berisi berbagai tindakan yang perlu ia lakukan untuk istrinya setiap hari sebelum mereka memutuskan untuk berpisah. Awal ia berkomitmen untuk melakukannya sangat tidak mudah. Karena ia tidak mendapat respon yang baik dari istrinya atas segala perbuatan baik yang coba ia lakukan dan pula, ia melakukannya hanya karena paksaan sang Ayah. Namun, akhirnya ia berhasil untuk bertahan dan tetap melakukannya. Bukan lagi karena pakaan, namun ajaibnya, kasihnya malah semakin bertumbuh, dan ia melakukan segala sesuatunya dengan segenap hatinya. Akhirnya, istrinya menyadari betapa dalam kasih yang ia miliki dan hubungan mereka kembali pulih, bahkan semakin bertumbuh di dalam kasih yang teruji lewat tempaan masalah dan rintangan yang mereka hadapi. Kasih dapat terwujud nyata lewat tindakan pengampunan. Dan itulah yang Tuhan tunjukkan untuk kita. Bahkan Ia mengasihi kita pada saat kita masih berdosa. Pada saat belum ada hal baik yang kita lakukan untukNya. Pada saat kita masih belum mengerti, bahwa kita dikasihi. Kasih Allah yang tidak terbatas Ia tunjukkan bagi kita di atas kayu salib untuk menggantikan seluruh kegagalan, cela, kepahitan, dan kesalahan kita, dan menukarnya dengan keselamatan, sukacita, dan damai sejahtera. Bukan hanya mengampuni masa lalu kita, namun Ia juga memberikan kesempatan dan kepercayaanNya berulang kali untuk setiap kesalahan kita di masa depan. Bersyukurlah bahwa kita dikasihi dengan kasih yang kekal. Dan kasih itu telah mengubahkan dan memulihkan kehidupan kita menjadi baru.

BATU MASALAH

“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! (Roma 11:32) Seno sedang berjalan-jalan di sebuah jalan setapak kecil di kaki gunung dekat rumahnya. Namun, langkah kakinya harus terhenti karena sebuah batu yang cukup besar menghalangi jalan yang sedang ia lalui. Dengan susah payah ia mencoba mendorong batu itu ke pinggir agar dapat lewat, namun usahanya sia-sia saja. Batu tersebut terlalu berat dan besar untuk ia pindahkan sendirian. Ia mencoba mencari benda di sekitarnya yang dapat ia gunakan untuk menggulingkan batu itu ke pinggir, namun tidak berhasil. Setelah sejam ia kelelahan berpikir dan mencari cara, ia memutuskan untuk beristirahat dan mencoba menenangkan pikirannya. Tiba-tiba, saat ia menoleh ke samping, ia melihat sebuah jalan setapak lain yang lebih kecil dari jalan yang sedang ia lalui. Penasaran, ia mencoba melewati jalan tersebut dan setelah melaluinya. Ia baru menyadari bahwa jalan itu adalah jalan pintas untuk mengitari batu tersebut sehingga ia dapat melanjutkan perjalanannya kembali. Sahabat, saat kita menghadapi batu masalah dalam jalan kehidupan kita, yang kita pikirkan seringkali hanyalah bagaimana cara menyingkirkan batu di depan mata kita. Berbagai cara dan usaha kita lakukan, namun seolah semuanya tidak berhasil. Akhirnya kita kelelahan, depresi, dan berbagai emosi negatif muncul dalam hati dan pikiran kita, karena kita berusaha memecahkan masalah dengan pemikiran dan logika kita sendiri. Tuhan kita adalah Allah yang kreatif. Ia dapat memakai segala macam cara dan keadaan untuk menolong kita. KuasaNya tidak dapat dibatasi oleh pemahaman dan logika manusia. Ingatlah, bahwa atas segala masalah yang kita hadapi, Tuhan sudah memiliki solusinya untuk kita. Yang perlu kita lakukan adalah berani untuk menyerahkan kedaulatan hidup kita dan memercayakan semua masalah kita kepadaNya. Percayalah bahwa Ia sanggup menolong dengan caraNya yang ajaib dan tepat pada waktuNya.

ZONA MISI

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. (Efesus 2:10) Semut adalah binatang yang seringkali kita jumpai secara berkelompok saat mereka berada dalam sarang mereka. Menurut Saudara, bagaimana cara mengusir semut sebanyak itu secara cepat? Ya, yang kita lakukan adalah mengguncang dan mengusik mereka sehingga mereka pergi berpencar dan berhamburan meninggalkan tempat tersebut dan kemudian mencari rumah yang baru. Sama seperti kita, Tuhan telah memanggil kita untuk dapat keluar dari zona nyaman dan kehidupan kita yang lama dan menjejakkan kaki pada keadaan, situasi, bahkan lingkungan yang baru, di mana Tuhan ingin menempatkan kita. Ia rindu memakai hidup kita untuk melakukan pekerjaan misi, dalam bidang kehidupan apapun kita saat ini. Jelas ditulis dalam Efesus 2:10, bahwa kita diciptakan untuk melakukan pekerjaan Allah, yaitu pemberitaan kabar baik, yang sudah dipersiapkan sebelumnya untuk kita. Artinya, pekerjaan ini bukan hanya untuk sebagian orang yang bergerak di bidang misi, namun untuk semua orang yang dipanggil sesuai dengan rencanaNya. Jadi, bersyukurlah untuk orang-orang, komunitas, dan berbagai kesempatan yang kita miliki saat ini dalam kehidupan kita. Satu hal yang pasti, Tuhanlah yang mempertemukan kita dengan mereka. Mereka adalah tanggung jawab kita yang Tuhan berikan kepada kita. Dan kita adalah perpanjangan tangan Tuhan untuk menyentuh hidup mereka. Walaupun mungkin pada awalnya penuh ketidakpastian dan ada berbagai masalah yang harus kita hadapi, tapi percayalah Tuhan pasti memperlengkapi kita dengan hikmat dan kekuatanNya. Dan Ia akan selalu menyertai kita untuk setiap apapun yang kita lakukan bagi kemuliaanNya.

FOLLOWING VS. FOLLOWERS

“Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.” (1 Petrus 2:12 TB) Jika Saudara memiliki akun sebuah media sosial, pasti sudah tidak asing lagi dengan dua istilah tersebut di atas. Following artinya jumlah akun yang kita ikuti, sementara followers artinya jumlah akun yang mengikuti update setiap posting-an kita. Di dunia maya, jumlah followers dianggap lebih penting dibanding jumlah following, karena jumlah followers menunjukkan seberapa besar atau banyak pengaruh kita di media sosial tersebut. Begitu juga seharusnya kehidupan kita dalam dunia nyata. Seberapa banyak pengaruh kita bagi kehidupan orang lain? Dan apakah kehadiran dan keberadaaan kita dalam komunitas dan market place kita membawa pengaruh yang positif atau yang negatif bagi mereka? Seperti yang Paulus katakan bahwa kita adalah surat yang terbuka, setiap perkataan dan perbuatan kita membawa dampak yang luar biasa bagi kehidupan orang lain. Apakah Saudara memilih menjadi pembawa damai dan harapan bagi mereka yang belum percaya, atau sebaliknya, memiliki sikap hidup yang tidak sesuai dengan nilai firman Tuhan? Sahabat, Injil dapat diberitakan lewat pengaruh hidup kita. Allah memakai kita untuk menjadi contoh nyata yang merepresentasikan nilai-nilai kerajaan Allah di tengah-tengah dunia ini. Oleh karena itu, milikilah integritas dan teladan hidup yang benar di hadapan Allah dan manusia. Kita adalah duta-duta kerajaan Allah dan kekristenan terwujud nyata dari sikap kita sehari-hari di komunitas kita masing-masing.

PAHLAWAN IMAN

“Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” (Yeremia 29:7) Bulan ini adalah bulan yang selalu digaung-gaungkan dengan mengingat kembali kisah perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia oleh para pejuang pendahulu kita. Mereka semua layak disebut pahlawan oleh karena jasa dan pengorbanan mereka untuk membela bangsa dan memperjuangkan kemerdekaan. Bukan karena memiliki kemampuan khusus yang luar biasa, namun karena mereka mau mendahulukan kepentingan bangsa dan negara di atas kehidupan pribadi mereka. Saat ini, secara administrasi pemerintahan, Indonesia memang sudah merdeka dari cengkraman penjajahan. Namun, seperti kita semua sadari, ada beberapa aspek kehidupan bangsa kita yang belum dapat dikatakan merdeka sepenuhnya dan masih harus diperjuangkan hingga saat ini. Dan kita, sebagai yang ditempatkan Tuhan untuk tinggal dan membangun negara ini, memiliki tanggung jawab yang besar untuk memperjuangkannya. Kita telah dipanggil untuk menjadi pahlawan iman bagi bangsa kita, Indonesia. Kita bukan saja hidup untuk kesejahteraan kita dan keluarga kita sendiri, namun, terlebih penting dari itu, Tuhan menempatkan kita di negara ini untuk sebuah tujuan yang lebih penting, yaitu kemuliaan Tuhan atas Indonesia. Sahabat, apakah permohonan doa kita sudah menyematkan harapan kita tentang Indonesia di dalamnya? Indonesia butuh pahlawan-pahlawan yang memperjuangkan dan bersyafaat bagi keselamatan bangsanya di hadapan Tuhan. Apakah dalam setiap bidang kehidupan yang kita jalani saat ini, ada hati kita untuk bangsa kita di dalamnya? Kontribusi nyata apakah yang sudah kita lakukan bagi bangsa ini? Marilah kita menjadi pahlawan iman bagi Indonesia. Karena kalau bukan kita, siapa lagi?

TERANG BAGI DUNIA

“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.” (Matius 5: 14-15) Lilin dan senter adalah sebuah benda yang mungkin teracuhkan saat siang hari atau saat arus listrik berjalan normal – di mana benda penerang lain, yaitu lampu, dapat berfungsi dengan baik untuk menerangi ruangan saat malam hari. Namun, saat listrik padam, mendadak kedua benda tersebut menjadi benda paling dicari untuk menerangi ruangan yang gelap. Dalam banyak kesaksian yang sering kita jumpai, seringkali orang bertobat dan menerima Tuhan sebagai Juruselamat saat mereka berada dalam masalah dan kondisi yang tidak berpengharapan. Di saat itulah manusia menjadi sadar bahwa segala kehebatan dan harta yang mereka miliki tidak memiliki arti apapun, dan hanya pribadi Tuhan yang mampu mereka andalkan untuk menyelamatkan mereka. Di tengah situasi dan kondisi yang sedang dunia alami akhir-akhir ini, sebenarnya inilah kesempatan kita untuk bersinar sebagai terang dan memancarkan kemuliaan Tuhan. Saatnya kasih Tuhan dinyatakan lewat setiap tindakan aktif kita sebagai anak-anakNya, dalam setiap aspek kehidupan yang bisa kita bagikan untuk orang lain yang membutuhkan. Semakin “gelap” kondisi yang sedang kita hadapi hari-hari ini, semakin banyak kesempatan kita untuk menerangi dunia ini dengan kasih Kristus. Dalam bidang apapun yang kita lakukan, kita bisa berkarya untuk memberkati dunia ini dengan talenta dan kreativitas yang Tuhan berikan kepada kita. Sehingga, kerinduan Tuhan akan keselamatan jiwa-jiwa boleh menjadi nyata dan nama Tuhan dipermuliakan melalui kehidupan kita. Sahabat, marilah kita menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk menyentuh hati dan menolong mereka. Saatnya kita menjadi jawaban atas setiap permasalahan mereka dan menjadi kasih yang nyata dalam hidup mereka. Karena untuk itulah kita telah dipanggil. Ia mau agar kita dapat memiliki kerinduan yang sama untuk mengasihi mereka.

ANAK PANAH

“Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.” (Mazmur 127:4) Saat anak pertama kami lahir, Tuhan menyadarkan kami, sebagai orang tua, bahwa anak-anak bukanlah sekadar hadiah terindah dalam perjalanan kehidupan keluarga kami. Namun, terlebih penting, mereka adalah kepercayaan yang Tuhan berikan kepada kami sebagai orang tua untuk mendidiknya sesuai dengan rencana yang sudah Tuhan tetapkan dalam hidupnya. Pola pikir tersebut akhirnya mengubah cara pandang kami terhadap mereka. Kami yakin bahwa suatu saat nanti mereka akan menjadi orang-orang yang Tuhan pakai secara luar biasa untuk memberkati orang-orang di sekitarnya. Sehingga, sedari kecil, kami tidak melihat mereka sebagai anak kecil yang biasa-biasa saja. Kami melihat calon-calon pemimpin yang akan memengaruhi dunia mereka kelak. Dan kami diberikan kepercayaan untuk mendidik mereka. Mazmur 127:4 menulis dengan jelas, bahwa anak-anak adalah seperti anak panah yang Tuhan pakai untuk menancap tepat pada sasaranya. Sebelum saatnya tiba untuk diluncurkan, ia perlu berada pada busur yang direntangkan terlebih dulu untuk diarahkan pada sasarannya. Namun, ia tidak akan berada di busur tersebut selama-lamanya. Hingga pada saat yang tepat, Sang Pemanah akan melepasnya sehingga ia bisa mencapai sasarannya dengan tepat. Sebagai orang tua, kita memiliki rentang waktu yang terbatas. Kita perlu mempersiapkan anak/cucu kita sebelum akhirnya mereka siap meluncur ke sasaran yang tepat, sesuai dengan rencana yang Tuhan persiapkan untuk mereka. . Saat kita merentangkan busur kesabaran, jerih payah, waktu, dan segala tenaga yang kita curahkan untuk mempersiapkan mereka, percayalah semuanya tidak akan menjadi sia-sia. Tuhan turut bekerja dan Ia akan memberi kita kekuatan dan hikmat yang kita butuhkan. Karena saat ia memercayakan anak-anak dalam hidup kita, percayalah Tuhan yang akan memperlengkapi dan memampukan kita untuk mempersiapkan mereka menjadi anak-anak panah yang siap diluncurkan ke sasaran yang tepat.

OTOT ROHANI

“Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.” (Roma 8:13 TB) Sewaktu remaja, saya adalah anggota klub renang yang berlatih antara 6-10 jam setiap minggunya. Bagi saya, berenang dengan total jarak tempuh empat kilometer dalam satu kali sesi latihan adalah hal rutin yang saya harus jalani hampir setiap hari. Saya masih ingat ketika di awal sesi latihan, saya harus berhenti di pinggir kolam renang karena otot kaki saya kram, terasa panas dan kebal. Juga saat setiap kali saya bangun pagi keesokan harinya, saya merasakan pegal-pegal luar biasa sekujur tubuh saya. Namun, dengan rutinitas tersebut, semakin hari saya semakin terbiasa dan saya bisa merasakan bahwa otot-otot saya menjadi semakin kuat. Saya tidak lagi merasa kram atau pegal-pegal, bahkan saya merasa tubuh saya semakin bugar dan fit. Sama seperti olahragawan yang melatih otot-otot jasmaninya menjadi semakin kuat, begitu pula kita perlu melatih manusia roh kita supaya semakin kuat. Manusia roh tidak dengan sendirinya menjadi kuat saat kita menerima keselamatan. Kita perlu melatih roh kita menjadi kuat untuk bisa melawan kedagingan kita yang selama ini menguasai kehidupan kita yang lama. Butuh konsisten dan disiplin yang tinggi untuk tetap bertahan (endure) dalam proses yang tidak menyenangkan dan mengikis kedagingan kita hari demi hari. Di samping itu, kita juga perlu mengisi kehidupan roh kita dengan hubungan yang intim dengan Tuhan lewat doa dan firman yang kita renungkan setiap hari, sehingga roh kita menjadi kuat oleh semua proses yang diperhadapkan kepada kita. Sahabat, jika saat ini kita ada dalam kondisi dan situasi yang tidak kita harapkan, percayalah bahwa Tuhan sedang dan masih bekerja dalam hidup kita. Ia sangat peduli dan rindu untuk membuat manusia roh kita kuat dan menjadi semakin serupa Kristus. Karena itulah yang menjadi tujuan akhir kekristenan kita, sehingga rencana Tuhan dapat digenapi secara maksimal dalam kehidupan kita.