Search
22.9.09
Harta Karun
Pelayanan, sekali lagi, bukan hanya sebatas sebuah kegiatan rohani yang kita lakukan untuk Tuhan di gereja, bukan hanya sebatas sebuah kegiatan sosial yang kita lakukan untuk orang lain. Pelayanan bicara tentang hidup kita, apakah berkenan di hadapan Tuhan dan memuliakanNya.
Pelayanan yang terbaik bagi Tuhan adalah pelayanan yang didasari dengan sikap hati yang benar, yang mengasihi Tuhan, dan selalu ingin menyenangkan hatiNya. Pelayanan yang terbaik juga merupakan bukti penyerahan total hidup kita, untuk mengabdi (hidup) bagi Dia. Seperti wanita yang mengurapi Yesus, ia bahkan memecahkan buli-buli minyak yang harganya kira-kira setara dengan upah kerja tiga ratus hari seorang pekerja pada saat itu. Minyak wangi adalah simbol dari sesuatu hal yang berharga dalam hidup kita. Untuk memberikan pelayanan yang terbaik, wanita tersebut bahkan rela memberikan “harta”nya yang terbaik bagi Tuhan.
Sahabat, apakah yang menjadi “harta karun” kehidupan kita? Apakah itu pekerjaan kita, keluarga, teman-teman, hobi, atau hal yang lainnya? Maukah kita menyerahkan semuanya bagi Tuhan dan melayani Tuhan dengan “harta karun” tersebut sebagai persembahan yang terbaik bagiNya?
Mengaktifkan Kasih Agape
Kita telah diselamatkan oleh kebenaran. Dan Tuhan telah menciptakan kita untuk hidup melayani Tuhan dan sesama kita. Ia telah memersiapkan suatu “pekerjaan baik” untuk kita dan Ia mau supaya kita hidup di dalamnya. Ketika kita menyadari fungsi kita adalah pelayan bagi Tuhan dan sesama kita, seharusnya kita menyadari satu hal ini: bahwa seorang pelayan tidak mementingkan kepentingannya sendiri, tetapi mendahulukan kepentingan orang lain. Jadi, Tuhan mau supaya kita tidak hidup hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk Tuhan dan untuk orang lain.
Untuk dapat hidup seperti itu, kita perlu sebuah pengikat dan dasar yang kuat, yaitu kasih agape. Kasih agape adalah kasih yang Tuhan tunjukkan kepada manusia. Kasih yang tidak mengharapkan imbalan, tanpa syarat, dan tulus. Kasih agape tidak egois, ia juga tidak mencari penghargaan dan pengakuan atas tindakan kasih yang dilakukannya dari orang lain. Kasih agape tidak memikirkan dirinya sendiri, namun selalu memberi kepada orang lain. Kasih agape sudah ada dalam diri setiap orang percaya, namun ia perlu diaktifkan dan dilatih setiap hari dengan menghadapi setiap kekurangan dan kelemahan manusia. Kasih itu panjang sabar. Ia baru muncul kalau ada orang yang membuat kita tidak sabar. Kasih itu murat hati. Ia baru muncul kalau ada seseorang yang perlu kita ampuni. Dan lain sebagainya.
Jika kita masing-masing tahu bahwa hidup kita telah dirancang oleh Tuhan untuk melayani, bukan hanya dilayani, dan kasih agape itu telah diaktifkan di dalam kita, pelayanan yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari kita akan menjadi ekselen karena kita ingin menyenangkan Tuhan.
Bertekun Dalam Janji BerkatNya
(Ulangan 8:18)
Facebook. Siapa yang kini tak kenal dengan situs jejaring sosial tersebut. Bahkan kini pamornya di Indonesia mengalahkan situs pendahulunya, Friendster. Pada awalnya, situs ini sebenarnya dibuat sebagai situs jaringan pertemanan terbatas di kalangan kampus Harvard. Penggagas ide situs ini muncul dari seorang pria berumur 25 tahun yang bernama Mark Zuckerberg. Nama ‘facebook’ ia ambil dari buku Facebook, yang berisi daftar anggota komunitas dalam satu kampus dan diberikan kepada mahasiswa atau staf fakultas yang baru agar bisa lebih mengenal orang lain di kampus bersangkutan.
Mark, yang hobi mengotak-atik program pembuatan website dari kamar asramanya, menggarap proyeknya secara serius dan tekun. Hanya dalam waktu sekitar dua minggu, Facebook telah mampu menjaring dua per tiga lebih mahasiswa Harvard sebagai anggota tetap. Bukan hanya itu, Mark pun mengembangkan inovasinya sehingga situs yang ia buat memiliki nilai lebih dari situs pertemanan lainnya. Hasilnya, hingga akhir Februari 2009, pengguna account Facebook telah mencapai angka 150 juta orang. Penghargaan terakhir diterima Mark adalah dari World Economic Forum (WEF) dan termasuk 230 orang yang dianggap berpengaruh bagi dunia sebagai Young Global Leaders 2009.
Sebagian dari kita mungkin berpikir memang ada orang-orang yang dilahirkan untuk sukses dan memiliki segudang prestasi dalam hidupnya. Namun orang yang tak mengenal kebenaran pun tahu, kunci untuk hidup berprestasi adalah ketekunan dan kerja keras. Apalagi kita yang telah mengerti kebenaran. Tuhan menyatakan janji dan berkatNya bagi orang yang mengandalkan Tuhan dalam kehidupannya. Jadi kuncinya, andalkan Tuhan, dan milikilah ketekunan untuk terus berusaha.
TAK ADA KETEKUNAN YANG TAK MEMBAWA HASIL.
Membuat Allah Tersenyum
Salah satu film favorit saya saat kecil adalah film kolosal yang bercerita tentang kehidupan kerajaan di negeri Cina. Satu hal yang saya pelajari dari film tersebut adalah adegan di mana seluruh isi kerajaan tersebut, entah itu dayang, selir, pembawa pesan, atau bahkan putri dan pangerannya, menyembah Sang Raja dengan penuh hormat. Apapun yang sedang dilakukan, ketika Sang Raja lewat di depan mereka, mereka langsung menghentikan pekerjaan mereka, dan sembah sujud ke hadapan Sang Raja. Seolah-olah mereka sangat menghormati raja mereka dan apapun yang mereka lakukan dalam istana tersebut, semuanya untuk kepentingan Sang Raja dan untuk menyenangkan hati Sang Raja.
Begitu pula dengan kita. Pada saat kita dilahirkan ke dunia, Allah ingin kita hidup, dan kelahiran kita memberiNya kesenangan besar. Allah sebenarnya tidak perlu menciptakan kita, namun Dia memilih untuk menciptakan kita demi kesenanganNya sendiri, untuk kepentinganNya, untuk kemuliaanNya, dan untuk tujuanNya. Itu sebabnya penyembahan kita kepada Tuhan, bukanlah untuk kepentingan dan kesenangan kita, tapi untuk kepentingan dan kesenangan Allah sendiri.
Penyembahan, sekali lagi, bukan soal musik dan tidak ada kaitannya dengan gaya atau volume atau kecepatan lagu. Penyembahan adalah tentang mendatangkan kesenangan bagi Allah. Jadi, apapun yang kita lakukan untuk kemuliaanNya – bekerja, belajar, melayani di gereja, melakukan pekerjaan rumah tangga – dengan penuh kesadaran akan kehadiranNya setiap waktu dalam hidup kita, kita sedang menyembahNya dengan cara yang Ia inginkan.
15.5.09
Kesibukan Bukan Penghalang
Sebagai anak, dulu saya seringkali mengeluh mengapa orang tua saya selalu sibuk dengan urusan pekerjaannya, sehingga tak banyak waktu yang mereka luangkan untuk kami, anak-anaknya. Tak jarang pula saya jadi mulai kurang peduli dengan keadaan keluarga kami. Tak banyak cerita yang saya bagikan untuk mereka, komunikasi pun seperlunya, bahkan cenderung jika ada maunya. Ketika saya pulang dari berbagai aktivitas saya di siang atau sore hari, seringkali saya tidak mendapatkan mereka berada di rumah. Mereka baru pulang larut malam, pada saat beberapa saatnya lagi saya harus tidur.
Namun ternyata, bukan saya satu-satunya orang di dunia ini yang mengalami keadaan demikian. Seorang teman terbaik saya pun ternyata hampir-hampir tak pernah ada waktu yang cukup untuk keluarga. Seluruh anggota keluarganya masing-masing sibuk dengan urusan pekerjaannya sendiri. Namun saya sangat mengagumi sikapnya yang selalu tetap berusaha menjaga hubungan baik dengan keluarganya. Setelah pulang beraktivitas di malam hari, tentunya ia sangat lelah dan ingin segera pergi tidur. Namun, ketika ia pulang dan mendapati ayahnya belum tidur, ia selalu memutuskan untuk menemani sang ayah, duduk di sampingnya untuk entah sekedar berbagai cerita hari itu, atau mungkin ada obrolan yang dapat ia diskusikan dengan sang ayah.
Saya selalu ingat kata-katanya, bahwa tak seharusnya melulu kita yang minta diperhatikan. Mungkin orang tua kita sibuk dengan pekerjaannya, namun tak berarti kita menjadi egois dan dengan pasif berharap mereka meluangkan waktunya untuk kita. Mengapa bukan kita yang berusaha berkorban sedikit waktu kita untuk mereka dengan cara kita terlebih dahulu yang menghampiri mereka dan membagi hidup kita untuk mereka? Karena seharusnya kesibukan kita tidak menjadi penghalang untuk kita tetap memiliki hubungan yang hangat di dalam keluarga. Sahabat, sebelum menjadi berkat bagi orang lain, mari menjadi berkat dalam lingkungan keluarga yang telah Tuhan percayakan kepada kita.
4.5.09
Fokus dan Konsistensi
Akhir-akhir ini, yang selalu "menghantui" pikiran saya adalah pergumulan saya tentang masa depan. Apa yang akan saya lakukan setelah saya lulus, pekerjaan apa yang akan saya ambil, di mana tempat kerja yang saya inginkan, apa rencana saya empat sampai lima tahun mendatang, dan lain sebagainya. Sejujurnya sebagai mahasiswa tingkat akhir, mungkin itu menjadi sindrom kebingungan yang harus dihadapi. Untuk pertama kalinya dalam hidup mungkin, ia harus benar-benar mengambil suatu keputusan yang tidak mudah dan cukup besar, karena keputusan tersebut akan memengaruhi hidupnya di masa yang akan datang. Untuk pertama kalinya, ia sendiri -tidak lagi oleh orang tua atau teman-teman di sekitarnya- yang harus memutuskan rencana kehidupannya dan belajar untuk mengambil keputusannya sendiri.
Saya mulai memikirkan pekerjaan yang saya sukai, bakat dan hobi yang saya miliki, pekerjaan yang mungkin akan menjadi prospek yang sangat bagus di kemudian hari. Lalu saya menemukan satu hal, bahwa apapun yang akan saya lakukan di masa yang akan datang, hal ini yang harus saya ingat: fokus dan konsistensi.
Fokus berarti terus memandang kepada satu tujuan, tanpa membiarkan diri dialihkan oleh perhatian-perhatian yang lain (yang mungkin lebih menarik perhatian kita). Fokus harus dimulai dari komitmen. Komitmen untuk tetap memandang tujuan tersebut, bagaimanapun kesulitannya. Namun fokus tak berarti apa-apa tanpa konsistensi. Saat kesulitan tersebut datang, kita butuh konsistensi. Konsistensi adalah ketekunan saat halangan dan tantangan datang. Konsistensilah yang menjaga kita akan tetap berada dalam jalur pandang kita, dan membantu kita menyelesaikan tujuan yang kita miliki sampai akhir.
Saya telah melihat beberapa contoh dalam hidup orang lain, bagaimana sulitnya ketika ia memutuskan untuk tetap berfokus pada apa yang sedang dilakukannya, sementara banyak hal lain yang sepertinya menarik untuk juga dilakukan. Namun ketika ia fokus pada apa yang menjadi tujuannya, sekarang saya melihat keberhasilan tersebut dalam hidupnya.
Terkadang kita berhenti berjalan saat batu besar di depan menghadang jalan kita, lalu memutuskan untuk berbelok ke jalan lain daripada menyingkirkan batu besar tersebut sehingga kita bisa menyelesaikan perjalanan kita. Mungkin kita lupa, bahwa di setiap jalan yang kita tempuh, pasti memiliki "batu besar"nya sendiri-sendiri. Daripada memilih jalan yang memiliki "batu" ter"kecil" dan termudah dalam perjalanan kita, lebih baik kita tetap berada dalam jalan kita dan menyingkirkan batu besar tersebut untuk kemudian berjalan lagi menyelesaikan perjalanan kita.
Ketika kita berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, banyak hal yang harus kita mulai lagi. Adaptasi, proses pembelajaran, proses sosialisasi, penetapan tujuan, dan lainnya. Jika kita terus menerus memulai proses tersebut, akhirnya kita hanya membuang-buang waktu untuk hal yang seharusnya dapat kita capai dalam waktu tertentu. Karena sesuatu yang terus menerus dimulai dan dirintis dari awal tidak akan pernah maksimal dan bahkan mencapai kesuksesan yang kita impikan. Mengapa tak memilih fokus dulu di jalan yang kita tempuh, untuk kemudian memulai perjalanan yang baru setelah kita mencapai garis akhir? =)
10.3.09
Mulai Dari Apa yang Ada Padamu
Dulu saya memiliki sebuah pemikiran yang keliru, bahwa untuk dapat memuliakan Allah dengan harta dan kekayaan yang kita punya, saya harus menjadi seorang “jutawan” terlebih dahulu. Dari pemikiran itulah saya memiliki sikap hati yang salah ketika Tuhan mengingatkan untuk memberikan sebagian uang saya untuk memberkati orang lain. “Kebutuhan hidup saya saja belum tercukupi, mana bisa saya memberikan uang yang saya perlukan untuk orang lain?”
Memuliakan Tuhan lewat harta yang kita miliki sebenarnya simpel saja. Seorang teman pernah bersaksi pada saya. Suatu ketika di sore hari sepulangnya dari kantor setelah seharian bekerja, seorang ibu paruh baya mendatangi rumahnya. Dengan muka memelas mengaku bahwa ia tersesat dan mengutarakan maksudnya untuk kembali ke kota asalnya namun ia tidak memiliki uang yang cukup. Ketika ia melihat ibu itu, hatinya dipenuhi dengan belas kasihan sehingga akhirnya ia memutuskan untuk memberikan selembar uang dua puluh ribu rupiah kepadanya, sambil mengucapkan “Tuhan Yesus mengasihi Ibu.”. Tentu saja dengan sedikit kebingungan, si Ibu tadi sangat berterimakasih kepada teman saya tersebut.
Saat menceritakan kesaksiannya, spontan saya bertanya, bagaimana jika itu hanya cara si ibu untuk menarik simpatinya. Namun ia menjawab, bahwa yang terpenting adalah motivasi dan kasih yang kita berikan, soal si Ibu tadi berbohong atau tidak, itu urusannya dengan Tuhan. Namun, tindakan sederhana yang dapat kita lakukan untuk seseorang, akan dapat menjadi sangat berarti baginya, dan hal tersebut akan membuat nama Tuhan dipermuliakan atas kehidupan kita.
Tidak perlu sekaya Bill Gates untuk dapat memuliakan Tuhan lewat harta. Kita dapat memberikan harta yang sudah Tuhan percayakan atas kita dengan tindakan sederhana yang bisa kita lakukan. Mari mulai dari apa yang ada pada kita dan dengan motivasi yang benar.
12.1.09
MENJADI RADIKAL
“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi muridku” (Lukas 14:27)
Banyak orang Kristen masih berpandangan bahwa merupakan dua hal yang berbeda antara orang percaya dengan murid Kristus. Itu sebabnya mereka seringkali sudah menjadi Kristen selama bertahun-tahun tapi kerohaniannya tidak pernah bertumbuh, karena mereka tidak pernah mau “diajar” melalui program pendalaman alkitab atau kelas pemuridan lainnya. Namun jika kita meneliti Kisah Para Rasul 11:26b, dapat ditarik kesimpulan bahwa semua orang percaya adalah murid Kristus. Jadi, menjadi murid Kristus bukanlah sebuah pilihan.
Menjadi murid Kristus berarti mengikuti teladan Kristus dan belajar terus menerus sampai menjadi sama seperti gurunya, Tuhan Yesus. Lalu bagaimana caranya agar kita dapat menjadi murid Kristus? Dalam bacaan kita hari ini, terdapat lima karakter yang harus dimiliki setiap murid Kristus.
Pertama, punya prioritas (ayat 26). Tuhan harus menjadi prioritas pertama dalam hidup kita, yang tercermin lewat semua aspek hidup kita. Kedua, berani bayar harga (ayat 27). Pikul salib berarti penyangkalan terhadap ego (free will) bahwa hidup kita bukan milik kita lagi (ketaatan mutlak pada Yesus). Ketiga, mau diproses dan memiliki hati yang mau terus menerus belajar dan diubah untuk menjadi sama seperti Kristus (ayat 28). Keempat, pantang menyerah (ayat 29-30), tetap setia dalam proses Tuhan. Kelima, totalitas (ayat 33). Segala yang kita miliki adalah milik Tuhan. Sayangnya banyak orang yang menganggap Yesus HANYA sebagai penolong, bukan penguasa atas hidup mereka.
Inti dari kelima hal tersebut sama, yaitu untuk memiliki karakter sebagai murid Kristus, kita harus memiliki satu sikap radikal dalam mengikut Yesus. Keradikalan tersebut dapat tercermin dari sikap hati kita ketika menghadapi masalah dan proses, mengambil keputusan penting, serta tindakan-tindakan kita.
MENJADI MURID KRISTUS BUKANLAH SEBUAH PILIHAN. SEMUA ORANG PERCAYA ADALAH MURID KRISTUS
DANAU GALILEA VS. LAUT MATI
Kita pasti sudah sering mendengar tentang cerita Danau Galilea dan Laut Mati. Keduanya memiliki karakteristik yang jauh bertolak belakang. Di Danau Galilea ada kehidupan. Banyak ikan yang hidup di sana, ada tumbuhan-tumbuhan hijau yang tumbuh di sekitarnya. Sementara Laut Mati, seperti namanya, tidak ada kehidupan. Karena kadar garam yang terlalu tinggi, tidak ada tumbuhan maupun ikan-ikan yang dapat hidup di sana.
Ketika saya teliti lagi – coba Anda lihat peta “Palestina pada Zaman Tuhan Yesus” di halaman akhir Alkitab Anda – ternyata Danau Galilea memperoleh airdari sungai-sungai kecil yang ada di sekitarnya, lalu mengalirkannya lagike Sungai Yordan. Membuat tanah di sepanjang aliran antara danau itudengan Sungai Yordan menjadi subur. Sebaliknya, Laut Mati memerolehair dari Sungai Yordan dan dari sungai-sungai kecil lainnya, tetapi tidak mengalirkannya kembali ke mana pun.
Ketika kita menerima fiman, entah dari kotbah di gereja maupun dari saat teduh yang kita dapat, kita harus menjadi pelaku firman. Untuk menjadi pelaku firman, kita dapat belajar untuk membagikan setiap firman yang kita dapat. Ketika kita membagikan firman kepada orang lain, kita juga sedang berbicara kepada diri kita sendiri dan mengaminkan firman tersebut, sehingga itulah yang meneguhkan kita untuk menjadi pelaku firman.
Seperti Danau Galilea yang mengalirkan kembali airnya kepada sungai lain, seperti itulah hendaknya kehidupan kita, untuk membagikan berkat dari firman yang telah kita peroleh dari orang lain.
MEMBAGIKAN FIRMAN ADALAH SALAH SATU BENTUK KONGKRIT KITA UNTUK MENJADI PELAKU FIRMAN
Ember yang Berlubang
Ada seorang kakek yang tinggal dengan cucu lelakinya. Setiap pagi, kakek ini bangun lebih awal untuk membaca Alkitab. Suatu hari cucunya bertanya, "Kakek, apa sih gunanya Kakek membaca Alkitab setebal itu? Memangnya Kakek hafal apa yang sudah Kakek baca?" Dengan tenang sang Kakek mengambil sebuah ember tua yang kotor dan melobanginya. Lalu ia menjawab, "Bawa keranjang ini ke sungai, penuhi dengan air, dan bawa kemari."
Maka sang Cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi semua air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya. Sambil terengah-engah ia berkata, "Lihat Kek, percuma!" Dengan bijaksana sang Kakek berkata, "Lihatlah embernya." Ketika sang Cucu melihat embernya, untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa ember itu sekarang berbeda. Ember itu telah berubah dari ember tua yang kotor, kini menjadi bersih luar dan dalam.
Sang Kakek menjelaskan, ”Cucuku, hal itulah yang terjadi ketika kamu membaca Alkitab. Kamu mungkin tidak memahami dan mengingat segalanya, tetapi ketika kamu membacanya dan merenungkannya kembali, kamu akan berubah, luar dalam. Tuhan telah mengubahkan kita lewat firmanNya. Itu adalah kuasa firman yang sungguh nyata dalam hidup kita..”
Sahabat, terkadang kita menganggap tidak ada perubahan yang berarti ketika hari ini kita membaca dan merenungkan firmanNya atau tidak. Sama saja. Namun, lewat firmanNya, Roh Kuduslah yang bekerja setiap hari untuk mengubahkan kehidupan kita. Pemazmur berkata, renungkanlah firman siang dan malam, sehingga kehidupan kita seluruhnya dikuasai oleh firman Tuhan, dan biarlah kuasa Roh Kudus yang bekerja lewat firmanNya dalam hidup kita.
MEMBACA DAN MERENUNGKAN FIRMAN ADALAH SEBUAH BAGIAN DARI PROSES PEMBENTUKAN KARAKTER YANG TUHAN KERJAKAN DALAM KEHIDUPAN KITA