Search
5.8.18
EGO
Kita mungkin sudah sangat sering mendengar kata-kata ini: Kedewasaan seseorang tidak ditentukan dari usianya, namun dari karakternya. Kita bisa mengenal orang-orang yang sangat mudah tersinggung dan marah saat situasi berubah menjadi tidak mengenakkan. Atau orang-orang yang membalas dengan sikap yang kurang baik saat ia disakiti oleh orang lain. Atau orang-orang yang membalas kebaikan seseorang hanya kepada orang yang memberi keuntungan untuk kehidupannya.
Lebih tepatnya, kedewasaan ditentukan dari ego nya. Semakin rendah tingkat ego nya, semakin dewasa karakternya. Apakah ia masih bisa mengasihi saat disakiti? Apakah ia masih bisa memberikan pengampunan walaupun ia diperlakukan tidak adil dan tidak mengenakkan oleh seseorang? Apakah ia mau mendahulukan kepentingan orang lain dan tidak melulu hanya memikirkan dirinya sendiri?
Kita dipanggil untuk suatu tujuan dan pekerjaan yang mulia, dan kita yang tidak layak karena dosa, sudah disucikan dan dikuduskan oleh Allah untuk melakukan pekerjaan baik yang sudah dipersiapkan Allah sebelumnya. Jadi, hidup kita bukanlah milik kita sendiri. Oleh karena itu, hiduplah sebagaimana kita seharusnya hidup untuk Allah. Tanggalkan semua ego kita dan biar kehendak Tuhan yang bekerja atas hidup kita. More of you, less of me.
SYARAT DAN KETENTUAN (TIDAK) BERLAKU
Mengasihi, jika dilihat dari etimologi kata nya, adalah sebuah tindakan aktif yang nyata untuk memberikan “sesuatu”. Apa itu? Ego kita. Untuk mengasihi, kita perlu menanggalkan status sosial kita, bahkan status ekonomi kita. Dan saat kita siap untuk mengasihi seseorang, kita harus siap juga untuk memberikan pengampunan berulang-ulang. Kecuali ia adalah Tuhan yang tidak pernah salah.
Saat kita mengasihi, Tuhan rindu kita bisa mengasihi orang lain sama seperti Tuhan Yesus mengasihi kita tanpa syarat dan memberikan pengampunan yang tak terbatas. Jauh sebelum kita menyadari dosa-dosa kita, Tuhan sudah mati dan menebus seluruh kesalahan kita. Bahkan untuk kesalahan-kesalahan di masa yang akan datang, yang belum kita lakukan.
Tanpa terlebih dulu kita mengalami kasih Yesus dalam hidup kita, rasanya mustahil untuk bisa mengasihi orang lain seperti itu. Bersyukurlah bahwa kita telah mengenal Tuhan. Mulai saat ini, saat ada orang lain yang menguji kasih kita dan menyerang ego kita, ingatlah bahwa Tuhan sudah terlebih dahulu mengampuni semua dosa-dosa kita. Layakkah kita marah?
11.3.18
Curse
Aku ingin hari kelahiranku hilang selamanya.
Aku ingin malam itu mereka tidak pernah mengatakan, ‘Ia seorang anak laki-laki!’
Aku ingin hari itu tetap gelap.
Aku ingin Allah melupakan hari itu.
Aku ingin terang tidak bersinar pada hari itu.
Aku ingin hari itu tetap gelap segelap maut, ditutupi oleh awan yang tergelap.
Aku ingin kegelapan menjauhkan malam itu, dikeluarkan dari kalender dan tidak termasuk dalam bulan apa pun.
Aku ingin malam itu tidak menghasilkan sesuatu, dan tidak terdengar suara gembira pada malam itu.
Biarlah bintang senja menjadi gelap.
Biarlah malam menunggu pagi yang tidak pernah datang.
Aku ingin malam tidak pernah melihat cahaya matahari.
Aku ingin malam itu menghentikan aku dilahirkan, dan menghentikan aku melihat kesusahan ini.
Mengapa aku tidak mati ketika aku dilahirkan?
Mengapa aku tidak mati pada waktu kelahiranku?
Mengapa ibuku memegang aku pada lututnya?
Mengapa susunya menyusui aku?
Sekiranya aku telah mati ketika aku lahir, aku berada dalam damai sekarang.
Mengapa aku tidak menjadi anak yang mati pada hari kelahirannya dan dikuburkan dalam tanah?
Aku ingin sekiranya aku dikubur seperti bayi yang tidak pernah melihat terang hari.
Orang jahat berhenti membuat kesusahan dan yang lelah dapat beristirahat.
Bahkan para tawanan bebas dalam kuburan; mereka tidak mendengar penjaganya berteriak kepada mereka.
Semua orang ada dalam kuburan — orang penting dan yang tidak berapa penting, bahkan hamba dibebaskan dari tuannya.
Mengapa harus orang yang menderita terus hidup? Mengapa diberikan hidup kepada orang yang jiwanya pahit?
Orang seperti itu ingin mati, tetapi kematian tidak datang.
Mereka mencari kematian lebih daripada mencari harta tersembunyi.
Mereka seandainya senang mendapatkan kuburannya. Mereka gembira menemukan kuburnya.
Allah memegang masa depannya dalam rahasia dan membangun tembok sekeliling mereka untuk melindunginya.
Ketika tiba waktunya makan, aku hanya mengeluh dengan sedih bukan dengan sukacita.
Keluhanku mengalir seperti air.
Aku takut bahwa sesuatu yang mengerikan dapat terjadi padaku.
Apa yang paling kutakuti terjadi padaku.
Aku tidak dapat tenang atau beristirahat.
Aku sangat bingung untuk beristirahat.”
~Ayub
ketika mengutuki hari kelahirannya~
5.2.18
Menikah Adalah Bunuh Diri
Well. Memang iya.
Satu hari setelah hari pernikahan berlalu, Anda akan mulai diperhadapkan dengan masalah-masalah yang harus dihadapi bersama dan bersepakat untuk mencari sebuah solusi bersama-bersama. Saya katakan sebuah, karena hanya satu solusi yang akan muncul untuk satu masalah. Untuk mengeluarkan yang hanya satu solusi ini, mungkin di dalamnya ada tukar pikiran, perbedaan cara pandang, dan adu argumen karena masing-masing memiliki pola pikir dan sikap menghadapi masalah yang berbeda-beda. Wajar saja, karena masing-masing diasuh dengan cara dan latar belakang yang berbeda.
Kenapa saya bilang bunuh diri? Karena memang benar-benar harus membunuh "diri sendiri". Ga bisa lagi ngotot "saya yang benar dan kamu yang salah.". Ga bisa lagi "pokoknya gua kaya gini, lu harus ngertiin gua." Ga bisa jua "ini urusan gua, lu tau apa?", atau "ini uang gua, ga usa ikut campur". Atau bahkan, "lu egois banget ya, ga ngertiin perasaan gua.". Karena ketika kita bilang "kamu egois", berarti sesungguhnya kamu juga egois dan menuntut lebih.
Setelah menikah, kita harus belajar menunkan ego dan keinginan kita, tidak lagi menuntut hak kita untuk dipenuhi, tapi sebaliknya, belajar memberi dan melayani pasangan kita, karena itulah kasih yang sesungguhnya. Kasih bukan bicara soal romantisme, hadiah-hadiah, dan kejutan-kejutan manis seperti masa pacaran. Kasih bicara jauh lebih dalam dari itu.
Menikah itu harus siap disakitin kapan aja, tapi juga siap memberi pengampunan kapan aja. Terus mencintai pasangan kita sampai kapanpun, meskipun di saat yang bersamaan, setiap hari makin keliatan belangnya kaya apa.
Kalo liat pasangan lain selalu lebih romantis dan keluarganya harmonis, saya percaya ada sebuah effort yang besar di dalamnya dari kedua belah pihak. Hubungan pernikahan itu ga bisa diantepin gitu doang terus jadi harmonis sendiri. Perlu diusahain sampai akhirnya jadi kaya gitu. Kehidupan pernikahan itu hasil kerja tim. Masing-masing punya peran sendiri-sendiri. Tapi bukan berarti kalau perannya ga jalan, lalu saling menuntut dan menyalahkan. Balik lagi, masing-masing harus terus support dan tetap mengasihi pasangannya.
Apalagi setelah ada anak-anak. Hubungan pernikahan adalah ujian berikutnya. Di mana kita harus benar-benar satu visi dan di depan mereka menunjukkan bagaimana mengasihi pasangan kita dengan kasih yang tulus. Warisan terbaik yang bisa kita berikan untuk mereka bukanlah uang yang berlimpah, tapi bagaimana kita memberikan mereka teladan kasih dan menunjukkan kepada mereka bagaimana cara mengasihi yang benar. Karena itulah yang akan menjadi bekal yang akan mereka bawa masuk ke dalam dunia pernikahan mereka.
Apakah kasih ada batasnya? Saya rasa, kasih yang benar tidak ada batasnya. Karena kasih seharusnya tanpa "syarat dan ketentuan berlaku". Kasih adalah sebuah keputusan. Keputusan untuk tetap melakukan yang sama walaupun disakiti berkali-kali. Mungkin terlihat bodoh, konyol, dan sia-sia. Namun sesungguhnya, orang yang bisa mengasihi pasangannya sedalam itu, adalah orang yang mengerti, bahwa dirinya juga sebenarnya tidak pantas menerima kasih Tuhan dalam hidupnya. Hanya orang yang sadar bahwa dirinya dikasihilah yang bisa mengasihi orang lain sedalam itu.
Orang yang mungkin menyebalkan yang selalu Anda lihat setiap hari di rumah, adalah orang yang Tuhan berikan untuk Anda kasihi, sama seperti Tuhan sudah mengasihi Anda tanpa syarat. Kalau Tuhan saja mengasihi dia (yang paling tau belangnya daripada Anda sendiri), apa hak Anda untuk tidak menerima dan mengerti dia apa adanya?
Marriage is not a place to "stand up for your rights". Marriage is a decision to serve the other, wheter in bed or out.
1 Corithians 7:4 MSG