Search
Showing posts with label integritas. Show all posts
Showing posts with label integritas. Show all posts
21.10.21
SELARAS
“Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasai seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” (1 Korintus 9:27 TB)
Saat saya makan siang di sebuah food court, tanpa sengaja saya mendengar pembicaraan dua orang pria yang berpakaian rapi layaknya pimpinan perusahaan, yang juga sedang duduk makan di belakang meja tempat saya duduk. Salah satu dari mereka berkata, “Ah sekarang cari pegawe mending yang biasa-biasa aja. Yang terlalu fanatik (red: dalam hal kegiatan Rohani) malah banyak yang ga becus kerjanya. Absen tinggi, disuruh lembur susah. Ngomong aja Tuhan, Tuhan, tapi kelakuan ga lebih bener dari yang ga pernah ke gereja.”
Perkataan tersebut menampar saya cukup keras, seolah-olah Tuhan mengingatkan saya tentang bagaimana pentingnya menghidupi integritas dan nilai-nilai yang dimiliki orang percaya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Walaupun begitu, saya dapat mengerti pemikiran mereka. Dalam posisi mereka sebagai pimpinan perusahaan, yang mereka nilai bukanlah seberapa sering kita berdoa ataupun seberapa banyak kita mengikuti ibadah dalam seminggu. Tapi nilai-nilai yang kita miliki dalam bersikap dan bekerja.
Sahabat, sebagai orang percaya, kita bukan hanya sekumpulan orang yang dipisahkan dari dunia, melainkan juga diutus keluar untuk menjadi berbeda dan mewarnai dunia dengan nilai-nilai kebenaran. Oleh karena itu, kehidupan kerohanian kita haruslah selaras dengan keseharian kita di manapun kita ditempatkan. Seberapa banyak firman yang kita telah dengar, sebanyak itu pulalah kita perlu menghidupi dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Jadilah terang bukan hanya lewat perkataan kita, namun juga lewat perbuatan hidup kita.
BELAJAR DARI JUKIR
“Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu. Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya.” (Kejadian 39:21-22 TB)
Seorang pria paruh baya terlihat sibuk mengatur berbagai kendaraan di area parkir sebuah bank. Hari itu, terlihat banyak nasabah yang berkunjung untuk melakukan transaksi keuangan. Dengan penuh semangat, ia menyapa para pengunjung yang keluar dari kendaraannya dan mengantar mereka hingga pintu masuk. Panas terik matahari tidak menghilangkan senyuman dari wajahnya. Dari kejauhan, saya memperhatikan kesibukan bapak tersebut. Dari seragam kerjanya, cukup jelas bahwa ia bekerja sebagai juru parkir yang bekerja untuk dirinya sendiri dan bukan sebagai pegawai bagi bank tersebut. Walaupun tidak ada kewajiban baginya untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi para nasabah bank tersebut, namun ia tetap memilih untuk melakukan yang terbaik. Sikapnya dalam bekerja membuat saya kagum, walaupun mungkin tidak semua orang memperhatikan pekerjaannya.
Sahabat, integritas dan sikap kita dalam bekerja tidaklah ditentukan oleh jenis dan level pekerjaan kita. Tuhan tidak pernah memandang rendah apapun pekerjaan kita, selama pekerjaan tersebut berkenan di mataNya. Justru, ia rindu agar pekerjaan yang kita lakukan dapat membawa kemuliaan namaNya. Janganlah memandang rendah pekerjaan dan usaha apapun yang kita lakukan saat ini. Dengan pekerjaan dan usaha yang Tuhan percayakan kepada saat ini, kita diberikan kesempatan untuk menunjukkan sikap dan nilai-nilai firman Tuhan dalam pekerjaan kita, sehingga kita dapat dipercaya untuk melakukan hal-hal yang lebih besar.
Hal termudah yang dapat kita lakukan untuk membawa kemuliaan bagi nama Tuhan adalah dengan menunjukkan sikap dan nilai-nilai firman Tuhan yang kita miliki dalam dunia usaha dan pekerjaan kita, sehingga orang lain dapat melihat bahwa hidup kita berbeda dan memiliki nilai-nilai yang tidak dunia miliki. Marilah kita tunjukkan nilai-nilai kebenaran yang kita miliki untuk membawa kemuliaan bagi kerajaan Sorga.
FOLLOWING VS. FOLLOWERS
“Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.” (1 Petrus 2:12 TB)
Jika Saudara memiliki akun sebuah media sosial, pasti sudah tidak asing lagi dengan dua istilah tersebut di atas. Following artinya jumlah akun yang kita ikuti, sementara followers artinya jumlah akun yang mengikuti update setiap posting-an kita. Di dunia maya, jumlah followers dianggap lebih penting dibanding jumlah following, karena jumlah followers menunjukkan seberapa besar atau banyak pengaruh kita di media sosial tersebut.
Begitu juga seharusnya kehidupan kita dalam dunia nyata. Seberapa banyak pengaruh kita bagi kehidupan orang lain? Dan apakah kehadiran dan keberadaaan kita dalam komunitas dan market place kita membawa pengaruh yang positif atau yang negatif bagi mereka? Seperti yang Paulus katakan bahwa kita adalah surat yang terbuka, setiap perkataan dan perbuatan kita membawa dampak yang luar biasa bagi kehidupan orang lain. Apakah Saudara memilih menjadi pembawa damai dan harapan bagi mereka yang belum percaya, atau sebaliknya, memiliki sikap hidup yang tidak sesuai dengan nilai firman Tuhan?
Sahabat, Injil dapat diberitakan lewat pengaruh hidup kita. Allah memakai kita untuk menjadi contoh nyata yang merepresentasikan nilai-nilai kerajaan Allah di tengah-tengah dunia ini. Oleh karena itu, milikilah integritas dan teladan hidup yang benar di hadapan Allah dan manusia. Kita adalah duta-duta kerajaan Allah dan kekristenan terwujud nyata dari sikap kita sehari-hari di komunitas kita masing-masing.
23.1.18
KALAU BUAH BISA NGOMONG
Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah
dan buahmu itu tetap,. Yohanes 15:16
Sebagai
seorang istri dan ibu, adalah tugas saya untuk menjaga kesehatan seluruh
anggota keluarga saya lewat pola makan kami.
Sebisa mungkin, harus selalu ada buah-buahan di rumah untuk kami
konsumsi setiap harinya. Namun, ada juga
saat-saat di mana buah-buahan yang saya beli akhirnya harus berakhir di tong
sampah karena sudah menjadi busuk sebelum kami sempat mengkonsumsinya. Biasanya karena saya yang membeli buah
terlalu banyak, atau kami yang lupa atau tidak sempat mengkonsumsinya.
Karena saya
yang membuangnya ke tong sampah, rasanya tidak tega juga merelakannya dibuang
begitu saja. Saya membayangkan bagaimana
jika buah-buah ini punya perasaan dan bisa bicara. Berlebihan memang, namun Tuhan memberikan
sebuah insight dari kejadian
ini. Apakah buah tersebut akan sedih
saat mereka tahu saya membuangnya begitu saja?
Dan apakah si pohon darimana buah itu berasal juga akan ikut marah dan
bersepakat untuk “mogok berbuah”?
Bagaimana ya jadinya jika mereka bisa protes kepada manusia? Mungkinkah mereka akan bilang, “Kamu tidak
tahu ya betapa susah dan berjuangnya kami sejak kami masih berupa bibit, hingga
sekarang menjadi buah yang manis? Dan
kamu membuangnya begitu saja?”
Saya rasa,
mereka tidak akan seperti itu, karena buah dihasilkan bukan untuk keuntungan si
buah maupun si pohon itu sendiri, namun untuk dapat dinikmati oleh orang lain.
Menjadi berbuah berarti tidak hitung-hitungan dan mencari keuntungan apa yang
bisa didapat dari apa yang sudah kita lakukan ataupun perjuangkan. Ia akan tetap berbuah manis, sekalipun ia
tidak dinikmati orang lain, atau bahkan diperlakukan orang dengan tidak
semestinya. Proses dari sebuah bibit
menjadi buah yang manis memang membutuhkan perjuangan untuk mematikan keinginan
daging, setia dalam penantian waktu, dan beriman dan tetap berharap meskipun
keadaan tidak seperti yang kita harapkan, dan konsisten untuk mau terus
bertumbuh. Namun ia tidak akan menjadi
marah dan kecewa ketika ia tidak “dinikmati” dan malah “dibuang” oleh orang
lain. Ia akan tetap berbuah walaupun
proses yang ia alami tidak mudah.
Tuhan ingin
kita untuk berbuah, dan buah kita itu tetap.
Buah tidak bisa dihasilkan dari sesuatu yang instant. Ia butuh proses, ia butuh pengorbanan, dan ia
tidak memikirkan dirinya sendiri.
Fokusnya hanya bagaimana menghasilkan sesuatu yang dapat menjadi berkat
dan berguna bagi orang lain, bukan dirinya sendiri.
TOPENG
Mat 12:33 Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka
baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik
pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal.
Beberapa bulan yang lalu, saya baru saja berkenalan seorang rekan
yang cukup ramah dan sopan, tutur bicaranya cukup baik, dan ramah kepada setiap
orang. Jika kami berkumpul bersama
teman-teman lainnya, kehadirannya pasti membawa suasana menjadi lebih ceria dan
seru. Namun saya kaget saat suatu hari
ia menjawab telepon dengan agak sembunyi-sembunyi, dengan cukup ketus dan ia
setengah membentak orang yang sedang ia ajak bicara. Mimik mukanya langsung berubah masam dan
cemberut. Sama sekali berbeda dengan
pembawaan dirinya selama ini. Tak lama
setelah ia menyudahi pembicaraannya di telepon, spontan mimik mukanya kembali
ceria seperti sedia kala, seperti tidak ada apapun yang terjadi
sebelumnya. Di pertemuan-pertemuan
berikutnya, barulah saya tau, jika orang tuanya meneleponnya, dia akan selalu
menjawab teleponnya seperti itu.
Sungguh ironi bukan?
Kita bisa mengumbar senyum kebahagiaan dengan orang yang baru atau
bahkan belum dan tidak kita kenal, namun bersikap begitu ketus dengan anggota
keluarga terdekat kita sendiri. Di luar
rumah mungkin kita dikenal sebagai pribadi yang ramah kepada orang lain, namun
di rumah kita bersikap begitu dingin. Seakan-akan,
kehidupan yang kita kenakan di luar rumah adalah kehidupan bertopeng. Saat kita pulang ke keluarga kita, kita
melepas topeng tersebut dan menjadi diri kita yang “sesungguhnya”.
Keluarga adalah tempat pertama di mana seharusnya kita
mempraktekkan kasih dan teladan yang baik.
Anggota keluarga kita, seberapapun menyebalkannya mereka, adalah
orang-orang yang ditempatkan TUhan untuk menempa dan membentuk karakter kita. Dengan begitu kita bisa menghasilkan buah-buah
yang baik untuk dibagikan kepada orang lain di luar keluarga kita.
Ketika kita meminta kesabaran, mungkin Tuhan akan membuat
Mama lebih cerewet dari biasanya. Ketika
kita meminta kasih, kita akan diperhadapkan dengan kelemahan-kelemahan istri
yang perlu kita terima dan mengerti.
Ketika kita meminta kemurahan hati, mungkin Tuhan akan melatih kita
dengan mengizinkan anak-anak yang melakukan kesalahan untuk kita ampuni.
Saat kita sudah lulus uji karakter di dalam rumah, kita akan
menghasilkan buah yang baik di luar rumah.
Dan buah yang baik ini dapat dinikmati semua orang, dan menjadi berkat
untuk banyak orang. Buah yang baik berasal
dari pohon yang baik. Dari pohonlah
suatu pohon dikenal. Bagaimana bisa kita
memberikan buah yang baik saat tidak ada kehidupan yang baik dari pohon tempat
kita bertumbuh? Buah tersebut hanya
menjadi buah karbitan dan rekayasa, bukan murni dengan kualitas yang baik.
Mari belajar untuk pertama-tama menunjukkan integritas dan sikap
yang baik kepada anggota keluarga kita sendiri.
Kasihi mereka, seberapapun menyebalkannya mereka. Telepon orang tua kita sekedar menanyakan
kabar mereka, sehingga anak-anak kita tahu bahwa seorang anak harus mengasihi
orang tuanya. Kasihi anak-anak kita saat
mereka berbuat kesalahan, sehingga mereka mengerti dan belajar bagaimana mereka
harus mengampuni orang lain. Berikan
kata-kata yang membangun kepada suami atau istri kita, ucapkan kata-kata yang
penuh kasih. Saat kasih kita sempurna di
dalam keluarga, kasih Tuhan nyata atas hidup kita dan kita menjadi berkat bagi
orang lain
PENGUASA HATI
“Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati;
tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.” Roma 8:13
Suatu kali mobil saya ditabrak cukup keras dari arah depan
oleh seorang pengendara motor saat saya hendak dalam perjalanan menuju
kantor. Saat kami berdua menepi dan saya
turun dari mobil, tanpa ba bi bu sang pengendara langsung mengomel pada saya
dan mengatakan saya tidak hati-hati dalam mengendarai mobil saya. Padahal jelas-jelas saya yang ditabrak dan
kap mobil saya sampai ringsek tidak bisa ditutup seperti seharusnya. Walaupun demikian, saya berusaha
mengingat-ingat kembali apakah saat kejadian saya keluar dari jalur yang
seharusnya hingga dia bisa menabrak mobil saya dengan cukup kencang. Namun, secara kedagingan saya, rasanya ingin
marah balik kepada si pengedara motor ini.
Bagi yang pernah ditabrak dengan tiba-tiba, pasti tahu bagaimana rasanya
bukan? Kesal, marah, panik, sedih,
campur aduk jadi satu.
Saya berusaha tetap bersikap tenang dan tidak ikut-ikutan
menjadi panas. Saya lihat keadaan motor
nya, secara sekilas hanya rusak bagian plat nomor saja. Pun si pengendara terlihat baik-baik saja,
tidak jatuh ke aspal sedikitpun.
Lagipula mobil saya pun di asuransikan, saya tidak perlu membayar biaya
perbaikan mobil tersebut. Singkat
cerita, akhirnya saya membiarkan si pengendara motor ini pergi tanpa membayar
sepeserpun kepada saya. Saya lihat
kerusakan mobil saya cukup parah, dan jika dia harus membayar kerusakannya,
mungkin bisa menghabiskan jutaan rupiah karena beberapa part body mobilnya ikut
rusak.
Walaupun seakan ada suara dalam hati saya yang menyesali
mengapa saya “dengan bodohnya” membiarkan dia pergi, namun saya yakin bahwa
saya sudah mengambil keputusan yang tepat.
Saya berhasil menguasai diri saya sendiri untuk marah dan bertindak
dengan hikmat.
Dari kejadian tersebut, Tuhan mengajarkan saya sesuatu. Saat kita bisa menjaga situasi hati kita,
kita akan dapat menguasai pikiran kita, perasaan kita, perkataan kita, dan akhirnya
perbuatan kita. Untuk menguasai hati
kita, tidak mudah, karena hanya Tuhanlah yang bisa melakukannya. Saat kita memenuhi hati kita dengan Roh dan
kebenaran firman Tuhan, Tuhan menguasai seluruh aspek kehidupan kita.
Semua dimulai dari bagaimana hubungan kita dengan
Tuhan. Ketika kita berakar dan bertumbuh
di dalam firmanNya, Tuhan akan diam dan tinggal di dalam kita dan menguasai
kehidupan kita seluruhnya: hati, pikiran, perasaan, bahkan perbuatan kita
APAKAH ENGKAU YESUS?
Sebab inilah yang diperintahkan
kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang
tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung
bumi." (Kis 13:47)
Sekelompok salesman menghadiri pertemuan di Chicago. Namun karena pertemuan berakhir lebih lambat
dari yang telah dijadwalkan, mereka mengejar penerbangan pulang dengan
tergesa-gesa. Ketika mereka sedang berlari-lari, salah satu dari mereka tidak sengaja
menendang meja gadis penjual apel. Dan
apel-apel itu pun berjatuhan.
Tanpa berhenti, mereka semua tetap berlari
dan masuk ke dalam pesawat, kecuali satu.
Dia berhenti, lalu kembali ke pintu airport.
Di sana berceceran banyak sekali buah
apel di lantai. Gadis penjual apel yang buta
itu sedang berusaha untuk meraih buah-buah apel yang bertebaran, tanpa
seorangpun yang peduli membantunya.
Salesman itu berlutut di sampingnya,
mengumpulkan apel-apel dan menaruhnya kembali ke dalam keranjang serta
memajangnya di meja seperti semula. Ia memisahkan
apel-apel yang rusak ke dalam keranjang yang lain lalu pria itu mengeluarkan
uang dari dompetnya dan berkata kepada si gadis penjual, "Ini ambilah $20 untuk
semua kerusakan ini. Apa kau tidak
apa-apa?" Gadis itu mengangguk. Pria
itu melanjutkan "Saya harap kita tidak merusak harimu begitu parah".
Ketika pria itu beranjak pergi, gadis
penjual apel yang buta itu memanggilnya, "Tuan....". Pria itu berhenti, dan ia menoleh ke belakang
untuk menatap kedua matanya yang buta. Gadis
itu melanjutkan, "Apakah engkau Yesus?"
Seringkali bukan apa yang kita bicarakan atau kotbahkan dari mulut kita
yang mengubahkan orang lain, namun perbuatan nyata kitalah yang membawa
keselamatan bagi orang lain. Tuhan rindu
memakai kita untuk menjadi alatNya sebagai pembawa keselamatan bagi lingkungan
terdekat kita.
Hari ini, mari kita renungkan kembali, sudahkah perilaku dan perbuatan
kita mencerminkan dan mewakilkan pribadi Yesus, sehingga orang lain – terutama keluarga
kita yang belum mengenal Tuhan – dapat mengenal pribadi dan kasihNya yang nyata
dalam hidup kita?
28.12.15
Teman Imajiner
“Knowing
God leads to self-control…” 2 Pet 1:5a NLT
Saya sering menemukan anak
perempuan saya yang berusia 3,5 tahun terlihat mengobrol sendiri dengan teman
imajinasinya saat bermain sendiri atau saat sedang bersama saya. Terkadang dia membayangkan bahwa boneka
kesayangannya “hidup” dan bermain bersamanya.
Seringkali ia berperan sebagai ibu dari sang boneka, atau terkadang ia
berperan sebagai gurunya di sekolah dan sedang mengajar murid-muridnya. Saya seringkali tertawa sendiri melihat
tingkah lucunya. Entah bagaimana dia
bisa menganggap teman imajinasinya berinteraksi dan menganggapnya benar-benar
ada di hadapannya.
Seringkali kita juga melupakan
hal yang serupa, bahwa Tuhan benar-benar ada di samping kita, apapun yang
sedang kita lakukan dan dalam keadaan seperti apapun kita saat itu. Seringkali kita memisahkan kegiatan rohani
dengan kegiatan sehari-hari kita. Dan
kata “amin” di ujung doa kita seperti tirai atau pintu yang kita tutup dan kita
lupakan secepat kilat. Kita melupakan kehadiranNya
di tengah-tengah kita dalam kegiatan rutinitas kita: menyetir mobil, sikat
gigi, memasak, bekerja, bahkan saat kita bergosip, atau merencanakan sesuatu
yang jahat dan tidak adil pada orang lain.
Jika boleh mengutip kata-kata
Gary Thomas dalam bukunya Sacred Parenting, ia berkata seharusnya waktu doa
kita sama rohaninya dengan waktu kita memasak dan mengupas kentang. Dengan demikian, kita akan lebih memerhatikan
kata-kata kita, tindak tanduk kita, pola pikir kita, saat kita melakukan
kegiatan sehari-hari kita. kita akan
memperlakukan karyawan kita dengan lebih baik, kita tidak akan bergosip
mengenai rekan kerja kita, kita akan bersikap lebih bijaksana pada anak-anak
kita, dan sebagainya. Karena kita
menganggap bahwa Tuhan benar-benar nyata dan menyertai setiap detik kehidupan
kita.
Memang, bukan demikian kita
jadi bisa menguasai diri kita dalam sekejap mata. Tentu saja tidak akan pernah terjadi jika
kita tidak pernah memiliki hubungan yang khusus dan serius dengan Tuhan. Karena kunci penguasaan diri adalah pengetahuan
akan firman Tuhan. Artinya, perlu ada
investasi waktu yang terus menerus kita luangkan untuk mengenal firmanNya hari
lepas hari. Itulah yang akan membentuk
kebiasaan dan karakter yang baik dalam hidup kita, sehingga Roh Kudusnya
menuntun kita untuk bisa menguasai diri dalam segala hal. Sahabat NK, marilah kita introspeksi diri
kita, sudahkah kita menginvestasikan waktu kita setiap hari untuk pengenalan
akan firmanNya?
The Ambassador
Sewaktu saya masih duduk di
bangku SMA, saat itu baru mulai ramai salah satu produk obat-obatan terkemuka
yang dijual dengan sistem MLM (Multi Level Marketing). Suatu hari, seorang teman lelaki yang tidak
terlalu dekat dengan saya tiba-tiba mengajak saya bertemu dan mengobrol di
perpustakaan. Karena tidak ada maksud
apapun yang saya sadari dan juga karena tidak enak menolak permintaannya,
akhirnya saya menemuinya. Begitu ngobrol
basa basi sebentar, dia akhirnya mengutarakan maksudnya dan mengajak saya untuk
bergabung dalam tim marketingnya.
Singkat cerita, karena saya bukan orang yang termasuk peka dengan
pemikiran bisnis, saya tidak begitu tertarik dan menolaknya secara halus.
Namun walalupun demikian, mau
tidak mau, suka tidak suka, toh tetap saya juga adalah seorang marketing nya
Tuhan, yang menjual cerita dan kisah hidup kita seperti surat yang terbuka dan
dilihat semua orang. Semua kejadian dan
masalah yang kita hadapi, pada akhirnya hanya untuk kemuliaan Tuhan. Jadi kekristenan itu tentang bagaimana kita
meresponi dan menyikapi setiap masalah dalam kehidupan kita. Bisa jadi, keputusan dan pola pikir kita yang
salah, malah membuat orang lain semakin salah sangka ataupun malah membenci
Tuhan.
Jika seorang sales dan
marketing di dunia ini menjual produknya kepada masyarakat, kita lebih dari
sekedar seorang marketing, kita adalah duta besar kerajaan Allah, yang sudah
dipilih dan dipisahkan Allah, untuk menjadi representasi Tuhan dalam kehidupan
kita sehari-hari. Kita menjual hidup
kita. Kita tidak sekedar menjual
janji-janji Tuhan kepada mereka, kita menjual contoh dan teladan hidup kita
kepada orang lain. Dari situlah Tuhan
memakai kita untuk membawa mereka kepada jalan keselamatan.
Duta besar tidak ditempatkan di
negaranya sendiri. Ia ditempatkan di
luar negaranya, di mana ia telah ditetapkan.
Mungkin itu di sekolah, kampus, tempat kerja, bahkan keluarga. Orang lain tidak melihat kehidupan kita di
dalam gereja. Mereka melihat sikap hati
dan hidup kita saat kita menghadapi ujian di sekolah atau kampus, saat kita
menghadapi masalah pelik di kantor, dan bahkan saat kita menghadapi konflik
dengan orang lain termasuk di dalam keluarga.
Mari lihat kembali hidup
kita. Seberapa fokus kita untuk
menjalani tugas mulia kita sebagai duta besarnya Allah? Kita diciptakan bukan untuk menghidupi
keinginan kita sendiri, tapi ada satu tugas mulia yang Tuhan percayakan dan
untuk kita lakukan sesuai dengan kehendakNya.
Subscribe to:
Posts (Atom)