Search

Showing posts with label kasih. Show all posts
Showing posts with label kasih. Show all posts

14.4.25

Menolak Pelukan Tuhan

Ada gambaran yang begitu lembut tapi menyayat hati saat Yesus menatap Yerusalem dan berkata: “Berapa kali Aku ingin mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.” (Lukas 13:34). Bukan amarah yang terdengar di sana, tapi kerinduan yang dalam. Bukan kemarahan atas penolakan, tapi hati yang hancur karena kasih-Nya ditolak.

Yesus tahu betul bahwa sebentar lagi Ia akan disalibkan. Ia tahu bahwa kota yang Ia kasihi akan membunuh-Nya, sebagaimana mereka telah membunuh para nabi sebelumnya. Tapi yang ada dalam hati-Nya bukan pembalasan, melainkan kasih. Ia tetap ingin merangkul mereka. Ia tetap ingin menyelamatkan. Betapa luar biasanya kasih semacam itu—kasih yang tetap memilih untuk memberi walaupun tahu akan ditolak.

Mengapa sering kali kita menolak kasih dan belas kasih Tuhan? Bukankah kita justru sangat membutuhkannya? Namun itulah ironi terbesar: Tuhan mengasihi kita jauh sebelum kita sadar bahwa kita jatuh dalam dosa. Bahkan, sebelum kita sadar bahwa dosa membawa kita menuju maut. Misi penyelamatan-Nya sering kali kita anggap sebagai kungkungan, batasan, dan ancaman terhadap "kebebasan" kita. Kita merasa Tuhan sedang mengatur hidup kita terlalu banyak, padahal semua yang Ia lakukan adalah untuk menyelamatkan kita dari kehancuran.

Iblis bekerja dengan licik, membuat kita percaya bahwa kita baik-baik saja tanpa Tuhan. Kita dibuat merasa tidak perlu diselamatkan. Kita tidak merasa butuh pertolongan, karena yang rusak tidak terlihat di permukaan. Padahal, jauh di dalam hati dan jiwa, kita sedang menjauh dari Sang Sumber Hidup. Kita berjalan menuju jurang, tapi merasa sedang di jalan yang benar.

Kasih Tuhan bukanlah respons terhadap cinta kita—itu inisiatif-Nya. Tuhan mengasihi kita bahkan saat kita masih berdosa. Ia tidak menunggu kita berubah dulu, tidak menunggu kita sadar dulu, tidak menuntut jaminan bahwa pengorbanan-Nya akan dibalas. Dia tetap memilih salib, sekalipun Ia tahu banyak hati akan tetap dingin. Dia memilih mati, agar setiap orang—yang sadar maupun belum sadar—punya kesempatan untuk hidup yang kekal.

Salib adalah undangan, bukan paksaan. Pelukan Tuhan terbuka lebar, tapi tidak memaksa. Ia ingin kita datang dengan kerelaan hati. Namun setiap hari, Ia tetap berdiri di jalan, menunggu kita pulang. Menunggu kita berhenti lari. Menunggu kita percaya bahwa tidak ada tempat seaman dan sehangat pelukan-Nya.

Hari ini, jika suara Tuhan mengetuk hatimu, jangan keraskan hatimu. Jangan biarkan tipu daya dunia dan dusta iblis terus membutakan. Kasih itu nyata. Belas kasih itu tersedia. Dan pelukan itu... masih terbuka lebar untukmu.

21.10.21

KASIH DAN PENGAMPUNAN

“Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.” (Lukas 7:47 TB) Sewaktu saya baru bertobat, pemikiran saya tentang mengasihi hanyalah sedangkal mengadakan kegiatan misi ataupun bakti sosial kepada orang-orang yang belum mengenal Yesus dan membagikan makanan maupun kebutuhan lainnya yang mereka perlukan. Namun, seiring pertumbuhan rohani saya dengan Tuhan, saya mengerti dengan jelas, bahwa tindakan mengasihi yang paling dalam dan sulit untuk kita lakukan adalah mengasihi orang yang kita kenal dekat, namun ternyata memperlakukan kita dengan tidak baik. Seringkali, orang yang paling sulit kita kasihi bukanlah orang lain yang jauh dan tidak kita kenal. Karena seringkali, yang menyakiti hati kita adalah orang-orang yang mengenal kita dengan baik: pasangan kita, anak-anak, maupun rekan kerja atau pelayanan kita. Saya belajar, bahwa tindakan mengasihi tidak dapat dilakukan tanpa kita memiliki kemampuan untuk mengampuni. Bukan hanya sekali,namun berulang kali. Sahabat, tanpa kita mengenal dan mengalami kasih dan pengampunan Bapa, kita tidak akan mungkin dapat mengasihi dan mengampuni dengan benar. Karena hanya kasih Bapalah yang akan memampukan kita untuk mengasihi dan mengampuni, sama seperti Bapa mengasihi dan mengampuni setiap kesalahan kita. Kedua hal ini merupakan karakter ilahi yang Tuhan rindu kita miliki dalam setiap kehidupan orang percaya. Lewat setiap proses, kejadian, dan hal-hal yang terjadi dalam hidup kita, hati kita dibentuk sehingga kita belajar untuk hidup, sama seperti Allah hidup. Siapapun orang yang menyakiti hati kita tidaklah penting, namun, proses itulah yang membuat kita semakin hari, semakin seruapa dengan Kristus. Oleh karena itu, mari kita syukuri setiap proses pendewasaan yang Tuhan berikan dalam hidup kita. Ingatlah, Tuhan belum selesai bekerja dalam hidup Saudara.

FIREPROOF

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5:8) Ada sebuah film yang selalu mengingatkan saya tentang kasih, yang berjudul Fireproof. Film ini mengisahkan seorang petugas pemadam kebakaran yang berusaha menyelamatkan hubungan dengan istrinya yang retak karena berbagai konflik di antara keduanya. Kemudian ayahnya memberikan sebuah buku yang berisi berbagai tindakan yang perlu ia lakukan untuk istrinya setiap hari sebelum mereka memutuskan untuk berpisah. Awal ia berkomitmen untuk melakukannya sangat tidak mudah. Karena ia tidak mendapat respon yang baik dari istrinya atas segala perbuatan baik yang coba ia lakukan dan pula, ia melakukannya hanya karena paksaan sang Ayah. Namun, akhirnya ia berhasil untuk bertahan dan tetap melakukannya. Bukan lagi karena pakaan, namun ajaibnya, kasihnya malah semakin bertumbuh, dan ia melakukan segala sesuatunya dengan segenap hatinya. Akhirnya, istrinya menyadari betapa dalam kasih yang ia miliki dan hubungan mereka kembali pulih, bahkan semakin bertumbuh di dalam kasih yang teruji lewat tempaan masalah dan rintangan yang mereka hadapi. Kasih dapat terwujud nyata lewat tindakan pengampunan. Dan itulah yang Tuhan tunjukkan untuk kita. Bahkan Ia mengasihi kita pada saat kita masih berdosa. Pada saat belum ada hal baik yang kita lakukan untukNya. Pada saat kita masih belum mengerti, bahwa kita dikasihi. Kasih Allah yang tidak terbatas Ia tunjukkan bagi kita di atas kayu salib untuk menggantikan seluruh kegagalan, cela, kepahitan, dan kesalahan kita, dan menukarnya dengan keselamatan, sukacita, dan damai sejahtera. Bukan hanya mengampuni masa lalu kita, namun Ia juga memberikan kesempatan dan kepercayaanNya berulang kali untuk setiap kesalahan kita di masa depan. Bersyukurlah bahwa kita dikasihi dengan kasih yang kekal. Dan kasih itu telah mengubahkan dan memulihkan kehidupan kita menjadi baru.

5.8.18

SYARAT DAN KETENTUAN (TIDAK) BERLAKU


Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."
Luk 6:36

Hanya satu golongan atau kategori manusia di dunia ini yang bilang mengasihi itu mudah.  Mau tahu golongan apa itu?  Golongan manusia galau yang sedang saling jatuh cinta.  Saya salah satu pengikutnya.  Dulu, pada jamannya.  Namun seiring bertambahnya pengenalan akan Tuhan, saya belajar bahwa mengasihi di sini tidak berbicara tentang cinta dan perasaan antarmanusia.  Mengasihi sesama manusia tidak hanya berbicara hubungan keluarga, pasangan, maupun teman yang kita kenal.  Sesama manusia berbicara tentang semua orang.  Semua.  Orang yang kita kenal dan tidak kenal.  Orang yang bersikap baik dan juga yang bersikap menyebalkan.  Orang yang mencintai kita dan yang juga menyakiti hati kita.  Orang yang terlihat baik namun ternyata memiliki rencana jahat atas kita. 

Mengasihi, jika dilihat dari etimologi kata nya, adalah sebuah tindakan aktif yang nyata untuk memberikan “sesuatu”.  Apa itu?  Ego kita.  Untuk mengasihi, kita perlu menanggalkan status sosial kita, bahkan status ekonomi kita.   Dan saat kita siap untuk mengasihi seseorang, kita harus siap juga untuk memberikan pengampunan berulang-ulang.  Kecuali ia adalah Tuhan yang tidak pernah salah. 

Saat kita mengasihi, Tuhan rindu kita bisa mengasihi orang lain sama seperti Tuhan Yesus mengasihi kita tanpa syarat dan memberikan pengampunan yang tak terbatas.  Jauh sebelum kita menyadari dosa-dosa kita, Tuhan sudah mati dan menebus seluruh kesalahan kita.  Bahkan untuk kesalahan-kesalahan di masa yang akan datang, yang belum kita lakukan.        

Tanpa terlebih dulu kita mengalami kasih Yesus dalam hidup kita, rasanya mustahil untuk bisa mengasihi orang lain seperti itu.  Bersyukurlah bahwa kita telah mengenal Tuhan.  Mulai saat ini, saat ada orang lain yang menguji kasih kita dan menyerang ego kita, ingatlah bahwa Tuhan sudah terlebih dahulu mengampuni semua dosa-dosa kita.  Layakkah kita marah?

23.1.18

TOPENG



Mat 12:33  Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal.

Beberapa bulan yang lalu, saya baru saja berkenalan seorang rekan yang cukup ramah dan sopan, tutur bicaranya cukup baik, dan ramah kepada setiap orang.  Jika kami berkumpul bersama teman-teman lainnya, kehadirannya pasti membawa suasana menjadi lebih ceria dan seru.  Namun saya kaget saat suatu hari ia menjawab telepon dengan agak sembunyi-sembunyi, dengan cukup ketus dan ia setengah membentak orang yang sedang ia ajak bicara.  Mimik mukanya langsung berubah masam dan cemberut.  Sama sekali berbeda dengan pembawaan dirinya selama ini.  Tak lama setelah ia menyudahi pembicaraannya di telepon, spontan mimik mukanya kembali ceria seperti sedia kala, seperti tidak ada apapun yang terjadi sebelumnya.  Di pertemuan-pertemuan berikutnya, barulah saya tau, jika orang tuanya meneleponnya, dia akan selalu menjawab teleponnya seperti itu.

Sungguh ironi bukan?  Kita bisa mengumbar senyum kebahagiaan dengan orang yang baru atau bahkan belum dan tidak kita kenal, namun bersikap begitu ketus dengan anggota keluarga terdekat kita sendiri.  Di luar rumah mungkin kita dikenal sebagai pribadi yang ramah kepada orang lain, namun di rumah kita bersikap begitu dingin.  Seakan-akan, kehidupan yang kita kenakan di luar rumah adalah kehidupan bertopeng.  Saat kita pulang ke keluarga kita, kita melepas topeng tersebut dan menjadi diri kita yang “sesungguhnya”.

Keluarga adalah tempat pertama di mana seharusnya kita mempraktekkan kasih dan teladan yang baik.  Anggota keluarga kita, seberapapun menyebalkannya mereka, adalah orang-orang yang ditempatkan TUhan untuk menempa dan membentuk karakter kita.  Dengan begitu kita bisa menghasilkan buah-buah yang baik untuk dibagikan kepada orang lain di luar keluarga kita.

Ketika kita meminta kesabaran, mungkin Tuhan akan membuat Mama lebih cerewet dari biasanya.  Ketika kita meminta kasih, kita akan diperhadapkan dengan kelemahan-kelemahan istri yang perlu kita terima dan mengerti.  Ketika kita meminta kemurahan hati, mungkin Tuhan akan melatih kita dengan mengizinkan anak-anak yang melakukan kesalahan untuk kita ampuni.

Saat kita sudah lulus uji karakter di dalam rumah, kita akan menghasilkan buah yang baik di luar rumah.  Dan buah yang baik ini dapat dinikmati semua orang, dan menjadi berkat untuk banyak orang.  Buah yang baik berasal dari pohon yang baik.  Dari pohonlah suatu pohon dikenal.  Bagaimana bisa kita memberikan buah yang baik saat tidak ada kehidupan yang baik dari pohon tempat kita bertumbuh?  Buah tersebut hanya menjadi buah karbitan dan rekayasa, bukan murni dengan kualitas yang baik.

Mari belajar untuk  pertama-tama menunjukkan integritas dan sikap yang baik kepada anggota keluarga kita sendiri.  Kasihi mereka, seberapapun menyebalkannya mereka.  Telepon orang tua kita sekedar menanyakan kabar mereka, sehingga anak-anak kita tahu bahwa seorang anak harus mengasihi orang tuanya.  Kasihi anak-anak kita saat mereka berbuat kesalahan, sehingga mereka mengerti dan belajar bagaimana mereka harus mengampuni orang lain.  Berikan kata-kata yang membangun kepada suami atau istri kita, ucapkan kata-kata yang penuh kasih.  Saat kasih kita sempurna di dalam keluarga, kasih Tuhan nyata atas hidup kita dan kita menjadi berkat bagi orang lain

APAKAH ENGKAU YESUS?



Sebab inilah yang diperintahkan kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi." (Kis 13:47)


Sekelompok salesman menghadiri pertemuan di Chicago.  Namun karena pertemuan berakhir lebih lambat dari yang telah dijadwalkan, mereka mengejar penerbangan pulang dengan tergesa-gesa. Ketika mereka sedang berlari-lari, salah satu dari mereka tidak sengaja menendang meja gadis penjual apel.  Dan apel-apel itu pun berjatuhan. 
Tanpa berhenti, mereka semua tetap berlari dan masuk ke dalam pesawat, kecuali satu.  Dia berhenti, lalu kembali ke pintu airport.  Di sana berceceran banyak sekali buah apel di lantai.  Gadis penjual apel yang buta itu sedang berusaha untuk meraih buah-buah apel yang bertebaran, tanpa seorangpun yang peduli membantunya. 
Salesman itu berlutut di sampingnya, mengumpulkan apel-apel dan menaruhnya kembali ke dalam keranjang serta memajangnya di meja seperti semula.  Ia memisahkan apel-apel yang rusak ke dalam keranjang yang lain lalu pria itu mengeluarkan uang dari dompetnya dan berkata kepada si gadis penjual, "Ini ambilah $20 untuk semua kerusakan ini.  Apa kau tidak apa-apa?" Gadis itu mengangguk.  Pria itu melanjutkan "Saya harap kita tidak merusak harimu begitu parah". 
Ketika pria itu beranjak pergi, gadis penjual apel yang buta itu memanggilnya, "Tuan....".  Pria itu berhenti, dan ia menoleh ke belakang untuk menatap kedua matanya yang buta.  Gadis itu melanjutkan, "Apakah engkau Yesus?"
                Seringkali bukan apa yang kita bicarakan atau kotbahkan dari mulut kita yang mengubahkan orang lain, namun perbuatan nyata kitalah yang membawa keselamatan bagi orang lain.  Tuhan rindu memakai kita untuk menjadi alatNya sebagai pembawa keselamatan bagi lingkungan terdekat kita.  
 Hari ini, mari kita renungkan kembali, sudahkah perilaku dan perbuatan kita mencerminkan dan mewakilkan pribadi Yesus, sehingga orang lain – terutama keluarga kita yang belum mengenal Tuhan – dapat mengenal pribadi dan kasihNya yang nyata dalam hidup kita?

FIREPROOF



“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5:8 
Saya sangat suka sekali dengan film ini.  Bagi Anda yang belum pernah menonton film ini, film ini bercerita tentang seorang pria yang bekerja di Departemen Pemadam Kebakaran Amerika Serikat yang harus siap kapan saja untuk memadamkan kebakaran dan menyelamatkan nyawa orang banyak.  Ia memiliki seorang istri, namun dikisahkan bahwa hubungan rumah tangga mereka tidak terjalin cukup baik.  Sering terjadi perbedaan pendapat, yang akhirnya berujung pada adu mulut dan saling menghindar.  Tidak ada lagi cinta dan kasih di antara mereka. 
Mereka hampir saja bercerai, hingga suatu saat sang Ayah dari pria tersebut memintanya untuk membaca sebuah buku catatan miliknya, dan meminta anaknya untuk melakukan sebuah tindakan kasih yang sederhana setiap hari selama 40 hari, sebelum mereka memutuskan untuk bercerai.  Pada hari-hari pertama, sangat berat bagi pria ini untuk melakukannya, karena tindakan kasihnya tidak digubris sama sekali oleh istrinya.  Hingga suatu hari pria tersebut tidak tahan lagi dan ingin berhenti dari tindakan bodohnya tersebut. 
Ia menemui ayahnya.  Dalam perbincangannya, sang Ayah mendorongnya untuk tidak menyerah, karena apa yang Yesus lakukan juga dalam hidup pria tersebut juga sama seperti apa yang pria tersebut rasakan.  Dan Yesus memilih untuk tetap mengasihinya tanpa syarat, walaupun pria tersebut tidak menggubrisnya sama sekali.
Kita telah menerima hadiah kasih karunia dan keselamatan bahkan pada saat kita belum mengenal Allah dan hidup dalam dosa-dosa kita (Roma 5:8).  Itulah yang Yesus lakukan dan kerjakan: mengasihi kita tanpa syarat dan tanpa takut kita tidak menanggapi kembali tindakan kasih tersebut.  Dan yang luar biasa dari kasih Kristus adalah, bahwa kita tidak mungkin dapat mengasihi orang lain sebelum kita mengenal dan menerima tindakan kasih agapenya Tuhan dalam hidup kita.  Sama seperti kita yang belum pernah merasakan bagaimana rasanya dikasihi oleh seorang pribadi tanpa syarat, demikianlah pula kita kita tidak akan bisa mengasihi orang lain sama seperti Yesus mengasihi kita.
Kasih mengubah banyak hal.  Seperti yang diutarakan dalam 1 Korintus 13, kasih membuat kita mampu untuk memiliki hati seperti Kristus dan melakukan kebenaran firman sesuai dengan kehendakNya.  Kasih yang Yesus berikan untuk kita adalah kasih yang tahan uji (fireproof), karena kasihNya bukan lahir atas dasar kebaikan dan balas jasa atas apa yang orang lain lakukan untuk kita, namun karena tindakan inisiatif Tuhan untuk mengasihi kita terlebih dahulu, terlepas dari apa respon kita atas kasihNya. 

Sudahkah Anda menerima kasih karunia ini dan membagikannya juga dengan orang lain?  Mari, di bulan penuh kasih ini, saatnya kita memperkenalkan juga kasih Yesus kepada orang lain, sehingga bukan hanya kita, namun orang lain juga dapat mengecap kebaikan kasih Yesus di dalam kehidupannya.