Search
Showing posts with label marketplace. Show all posts
Showing posts with label marketplace. Show all posts
21.10.21
SELARAS
“Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasai seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” (1 Korintus 9:27 TB)
Saat saya makan siang di sebuah food court, tanpa sengaja saya mendengar pembicaraan dua orang pria yang berpakaian rapi layaknya pimpinan perusahaan, yang juga sedang duduk makan di belakang meja tempat saya duduk. Salah satu dari mereka berkata, “Ah sekarang cari pegawe mending yang biasa-biasa aja. Yang terlalu fanatik (red: dalam hal kegiatan Rohani) malah banyak yang ga becus kerjanya. Absen tinggi, disuruh lembur susah. Ngomong aja Tuhan, Tuhan, tapi kelakuan ga lebih bener dari yang ga pernah ke gereja.”
Perkataan tersebut menampar saya cukup keras, seolah-olah Tuhan mengingatkan saya tentang bagaimana pentingnya menghidupi integritas dan nilai-nilai yang dimiliki orang percaya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Walaupun begitu, saya dapat mengerti pemikiran mereka. Dalam posisi mereka sebagai pimpinan perusahaan, yang mereka nilai bukanlah seberapa sering kita berdoa ataupun seberapa banyak kita mengikuti ibadah dalam seminggu. Tapi nilai-nilai yang kita miliki dalam bersikap dan bekerja.
Sahabat, sebagai orang percaya, kita bukan hanya sekumpulan orang yang dipisahkan dari dunia, melainkan juga diutus keluar untuk menjadi berbeda dan mewarnai dunia dengan nilai-nilai kebenaran. Oleh karena itu, kehidupan kerohanian kita haruslah selaras dengan keseharian kita di manapun kita ditempatkan. Seberapa banyak firman yang kita telah dengar, sebanyak itu pulalah kita perlu menghidupi dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Jadilah terang bukan hanya lewat perkataan kita, namun juga lewat perbuatan hidup kita.
BELAJAR DARI JUKIR
“Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu. Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya.” (Kejadian 39:21-22 TB)
Seorang pria paruh baya terlihat sibuk mengatur berbagai kendaraan di area parkir sebuah bank. Hari itu, terlihat banyak nasabah yang berkunjung untuk melakukan transaksi keuangan. Dengan penuh semangat, ia menyapa para pengunjung yang keluar dari kendaraannya dan mengantar mereka hingga pintu masuk. Panas terik matahari tidak menghilangkan senyuman dari wajahnya. Dari kejauhan, saya memperhatikan kesibukan bapak tersebut. Dari seragam kerjanya, cukup jelas bahwa ia bekerja sebagai juru parkir yang bekerja untuk dirinya sendiri dan bukan sebagai pegawai bagi bank tersebut. Walaupun tidak ada kewajiban baginya untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi para nasabah bank tersebut, namun ia tetap memilih untuk melakukan yang terbaik. Sikapnya dalam bekerja membuat saya kagum, walaupun mungkin tidak semua orang memperhatikan pekerjaannya.
Sahabat, integritas dan sikap kita dalam bekerja tidaklah ditentukan oleh jenis dan level pekerjaan kita. Tuhan tidak pernah memandang rendah apapun pekerjaan kita, selama pekerjaan tersebut berkenan di mataNya. Justru, ia rindu agar pekerjaan yang kita lakukan dapat membawa kemuliaan namaNya. Janganlah memandang rendah pekerjaan dan usaha apapun yang kita lakukan saat ini. Dengan pekerjaan dan usaha yang Tuhan percayakan kepada saat ini, kita diberikan kesempatan untuk menunjukkan sikap dan nilai-nilai firman Tuhan dalam pekerjaan kita, sehingga kita dapat dipercaya untuk melakukan hal-hal yang lebih besar.
Hal termudah yang dapat kita lakukan untuk membawa kemuliaan bagi nama Tuhan adalah dengan menunjukkan sikap dan nilai-nilai firman Tuhan yang kita miliki dalam dunia usaha dan pekerjaan kita, sehingga orang lain dapat melihat bahwa hidup kita berbeda dan memiliki nilai-nilai yang tidak dunia miliki. Marilah kita tunjukkan nilai-nilai kebenaran yang kita miliki untuk membawa kemuliaan bagi kerajaan Sorga.
TERANG BAGI ALLAH
“Tetapi lampu selalu ditaruh di tempat yang tinggi, supaya menerangi semua orang yang ada di dalam rumah. Begitulah hendaknya terangmu menyinari orang lain. Maksud-Ku, biar orang-orang lain melihat perbuatan-perbuatan baik yang kamu lakukan, lalu memuliakan Bapamu yang di surga.” (Matius 5:15-16 TSI)
Siapa yang tidak kenal Agnez Mo? Bintang besar yang kini berkarir di dunia internasional tersebut terkenal sebagai seorang aktris yang menjalani pekerjaannya dengan professional dan penuh persiapan yang sungguh-sungguh. Ia memiliki mimpi dan berani mewujudkannya hingga menjadi kenyataan. Dalam sebuah wawancaranya akhir-akhir ini, ia mengungkapkan apa yang menjadi motivasi dan semangatnya untuk selalu melakukan semua pekerjaannya dengan maksimal. Ia berkata bahwa hidupnya “dipinjamkan” Tuhan untuk menjadi alat kemuliaanNya. Ia merasa bahwa segala talenta dan bakatnya adalah titipan Tuhan yang harus ia kelola dan kembangkan dengan maksimal. Sehingga ia bisa “naik” ke posisi yang tinggi dan dilihat semua orang. Bukan untuk kepentingannya sendiri, namun ia sadar, hanya dari tempat yang tinggilah semua orang dapat melihat pekerjaan Tuhan yang ajaib dalam hidupnya.
Sahabat, seringkali kita merasa, kesuksesan yang kita miliki berorientasi pada kehebatan kita. kita merasa layak mendapatkan imbalan atas segala jerih payah dan ketekunan kita selama ini. Namun, tidak dengan orang-orang yang memprioritaskan Tuhan dalam hidupnya. Segala imbalan atas hasil jerih payah dan usahanya ia dedikasikan bagi kemuliaan Tuhan. Ia mengerti, bahwa dengan hidup di atas rata-rata, ia akan menjadi berbeda dan dilihat banyak orang. Kesuksesannya bukanlah untuk kepentingan dirinya sendiri, namun untuk kemuliaan nama Tuhan.
Tidaklah salah menjadi hebat dan berprestasi dalam bidang yang kita tekuni saat ini. Namun ingatlah, bahwa Tuhan membawa kita ke tempat yang lebih tinggi bukanlah untuk kejayaan kita sendiri. hal tersebut hanyalah membuat kita tinggi hati dan tidak lagi mengandalkan Tuhan sebagai prioritas utama dalam hidup kita. Ia rindu, lewat apa yang kita kerjakan, menjadi kemuliaan bagi Kerajaan Sorga. Apakah Saudara bersedia?
FOLLOWING VS. FOLLOWERS
“Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.” (1 Petrus 2:12 TB)
Jika Saudara memiliki akun sebuah media sosial, pasti sudah tidak asing lagi dengan dua istilah tersebut di atas. Following artinya jumlah akun yang kita ikuti, sementara followers artinya jumlah akun yang mengikuti update setiap posting-an kita. Di dunia maya, jumlah followers dianggap lebih penting dibanding jumlah following, karena jumlah followers menunjukkan seberapa besar atau banyak pengaruh kita di media sosial tersebut.
Begitu juga seharusnya kehidupan kita dalam dunia nyata. Seberapa banyak pengaruh kita bagi kehidupan orang lain? Dan apakah kehadiran dan keberadaaan kita dalam komunitas dan market place kita membawa pengaruh yang positif atau yang negatif bagi mereka? Seperti yang Paulus katakan bahwa kita adalah surat yang terbuka, setiap perkataan dan perbuatan kita membawa dampak yang luar biasa bagi kehidupan orang lain. Apakah Saudara memilih menjadi pembawa damai dan harapan bagi mereka yang belum percaya, atau sebaliknya, memiliki sikap hidup yang tidak sesuai dengan nilai firman Tuhan?
Sahabat, Injil dapat diberitakan lewat pengaruh hidup kita. Allah memakai kita untuk menjadi contoh nyata yang merepresentasikan nilai-nilai kerajaan Allah di tengah-tengah dunia ini. Oleh karena itu, milikilah integritas dan teladan hidup yang benar di hadapan Allah dan manusia. Kita adalah duta-duta kerajaan Allah dan kekristenan terwujud nyata dari sikap kita sehari-hari di komunitas kita masing-masing.
PAHLAWAN IMAN
“Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” (Yeremia 29:7)
Bulan ini adalah bulan yang selalu digaung-gaungkan dengan mengingat kembali kisah perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia oleh para pejuang pendahulu kita. Mereka semua layak disebut pahlawan oleh karena jasa dan pengorbanan mereka untuk membela bangsa dan memperjuangkan kemerdekaan. Bukan karena memiliki kemampuan khusus yang luar biasa, namun karena mereka mau mendahulukan kepentingan bangsa dan negara di atas kehidupan pribadi mereka.
Saat ini, secara administrasi pemerintahan, Indonesia memang sudah merdeka dari cengkraman penjajahan. Namun, seperti kita semua sadari, ada beberapa aspek kehidupan bangsa kita yang belum dapat dikatakan merdeka sepenuhnya dan masih harus diperjuangkan hingga saat ini. Dan kita, sebagai yang ditempatkan Tuhan untuk tinggal dan membangun negara ini, memiliki tanggung jawab yang besar untuk memperjuangkannya. Kita telah dipanggil untuk menjadi pahlawan iman bagi bangsa kita, Indonesia. Kita bukan saja hidup untuk kesejahteraan kita dan keluarga kita sendiri, namun, terlebih penting dari itu, Tuhan menempatkan kita di negara ini untuk sebuah tujuan yang lebih penting, yaitu kemuliaan Tuhan atas Indonesia.
Sahabat, apakah permohonan doa kita sudah menyematkan harapan kita tentang Indonesia di dalamnya? Indonesia butuh pahlawan-pahlawan yang memperjuangkan dan bersyafaat bagi keselamatan bangsanya di hadapan Tuhan. Apakah dalam setiap bidang kehidupan yang kita jalani saat ini, ada hati kita untuk bangsa kita di dalamnya? Kontribusi nyata apakah yang sudah kita lakukan bagi bangsa ini? Marilah kita menjadi pahlawan iman bagi Indonesia. Karena kalau bukan kita, siapa lagi?
TERANG BAGI DUNIA
“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.” (Matius 5: 14-15)
Lilin dan senter adalah sebuah benda yang mungkin teracuhkan saat siang hari atau saat arus listrik berjalan normal – di mana benda penerang lain, yaitu lampu, dapat berfungsi dengan baik untuk menerangi ruangan saat malam hari. Namun, saat listrik padam, mendadak kedua benda tersebut menjadi benda paling dicari untuk menerangi ruangan yang gelap.
Dalam banyak kesaksian yang sering kita jumpai, seringkali orang bertobat dan menerima Tuhan sebagai Juruselamat saat mereka berada dalam masalah dan kondisi yang tidak berpengharapan. Di saat itulah manusia menjadi sadar bahwa segala kehebatan dan harta yang mereka miliki tidak memiliki arti apapun, dan hanya pribadi Tuhan yang mampu mereka andalkan untuk menyelamatkan mereka.
Di tengah situasi dan kondisi yang sedang dunia alami akhir-akhir ini, sebenarnya inilah kesempatan kita untuk bersinar sebagai terang dan memancarkan kemuliaan Tuhan. Saatnya kasih Tuhan dinyatakan lewat setiap tindakan aktif kita sebagai anak-anakNya, dalam setiap aspek kehidupan yang bisa kita bagikan untuk orang lain yang membutuhkan. Semakin “gelap” kondisi yang sedang kita hadapi hari-hari ini, semakin banyak kesempatan kita untuk menerangi dunia ini dengan kasih Kristus. Dalam bidang apapun yang kita lakukan, kita bisa berkarya untuk memberkati dunia ini dengan talenta dan kreativitas yang Tuhan berikan kepada kita. Sehingga, kerinduan Tuhan akan keselamatan jiwa-jiwa boleh menjadi nyata dan nama Tuhan dipermuliakan melalui kehidupan kita.
Sahabat, marilah kita menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk menyentuh hati dan menolong mereka. Saatnya kita menjadi jawaban atas setiap permasalahan mereka dan menjadi kasih yang nyata dalam hidup mereka. Karena untuk itulah kita telah dipanggil. Ia mau agar kita dapat memiliki kerinduan yang sama untuk mengasihi mereka.
23.1.18
TOPENG
Mat 12:33 Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka
baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik
pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal.
Beberapa bulan yang lalu, saya baru saja berkenalan seorang rekan
yang cukup ramah dan sopan, tutur bicaranya cukup baik, dan ramah kepada setiap
orang. Jika kami berkumpul bersama
teman-teman lainnya, kehadirannya pasti membawa suasana menjadi lebih ceria dan
seru. Namun saya kaget saat suatu hari
ia menjawab telepon dengan agak sembunyi-sembunyi, dengan cukup ketus dan ia
setengah membentak orang yang sedang ia ajak bicara. Mimik mukanya langsung berubah masam dan
cemberut. Sama sekali berbeda dengan
pembawaan dirinya selama ini. Tak lama
setelah ia menyudahi pembicaraannya di telepon, spontan mimik mukanya kembali
ceria seperti sedia kala, seperti tidak ada apapun yang terjadi
sebelumnya. Di pertemuan-pertemuan
berikutnya, barulah saya tau, jika orang tuanya meneleponnya, dia akan selalu
menjawab teleponnya seperti itu.
Sungguh ironi bukan?
Kita bisa mengumbar senyum kebahagiaan dengan orang yang baru atau
bahkan belum dan tidak kita kenal, namun bersikap begitu ketus dengan anggota
keluarga terdekat kita sendiri. Di luar
rumah mungkin kita dikenal sebagai pribadi yang ramah kepada orang lain, namun
di rumah kita bersikap begitu dingin. Seakan-akan,
kehidupan yang kita kenakan di luar rumah adalah kehidupan bertopeng. Saat kita pulang ke keluarga kita, kita
melepas topeng tersebut dan menjadi diri kita yang “sesungguhnya”.
Keluarga adalah tempat pertama di mana seharusnya kita
mempraktekkan kasih dan teladan yang baik.
Anggota keluarga kita, seberapapun menyebalkannya mereka, adalah
orang-orang yang ditempatkan TUhan untuk menempa dan membentuk karakter kita. Dengan begitu kita bisa menghasilkan buah-buah
yang baik untuk dibagikan kepada orang lain di luar keluarga kita.
Ketika kita meminta kesabaran, mungkin Tuhan akan membuat
Mama lebih cerewet dari biasanya. Ketika
kita meminta kasih, kita akan diperhadapkan dengan kelemahan-kelemahan istri
yang perlu kita terima dan mengerti.
Ketika kita meminta kemurahan hati, mungkin Tuhan akan melatih kita
dengan mengizinkan anak-anak yang melakukan kesalahan untuk kita ampuni.
Saat kita sudah lulus uji karakter di dalam rumah, kita akan
menghasilkan buah yang baik di luar rumah.
Dan buah yang baik ini dapat dinikmati semua orang, dan menjadi berkat
untuk banyak orang. Buah yang baik berasal
dari pohon yang baik. Dari pohonlah
suatu pohon dikenal. Bagaimana bisa kita
memberikan buah yang baik saat tidak ada kehidupan yang baik dari pohon tempat
kita bertumbuh? Buah tersebut hanya
menjadi buah karbitan dan rekayasa, bukan murni dengan kualitas yang baik.
Mari belajar untuk pertama-tama menunjukkan integritas dan sikap
yang baik kepada anggota keluarga kita sendiri.
Kasihi mereka, seberapapun menyebalkannya mereka. Telepon orang tua kita sekedar menanyakan
kabar mereka, sehingga anak-anak kita tahu bahwa seorang anak harus mengasihi
orang tuanya. Kasihi anak-anak kita saat
mereka berbuat kesalahan, sehingga mereka mengerti dan belajar bagaimana mereka
harus mengampuni orang lain. Berikan
kata-kata yang membangun kepada suami atau istri kita, ucapkan kata-kata yang
penuh kasih. Saat kasih kita sempurna di
dalam keluarga, kasih Tuhan nyata atas hidup kita dan kita menjadi berkat bagi
orang lain
APAKAH ENGKAU YESUS?
Sebab inilah yang diperintahkan
kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang
tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung
bumi." (Kis 13:47)
Sekelompok salesman menghadiri pertemuan di Chicago. Namun karena pertemuan berakhir lebih lambat
dari yang telah dijadwalkan, mereka mengejar penerbangan pulang dengan
tergesa-gesa. Ketika mereka sedang berlari-lari, salah satu dari mereka tidak sengaja
menendang meja gadis penjual apel. Dan
apel-apel itu pun berjatuhan.
Tanpa berhenti, mereka semua tetap berlari
dan masuk ke dalam pesawat, kecuali satu.
Dia berhenti, lalu kembali ke pintu airport.
Di sana berceceran banyak sekali buah
apel di lantai. Gadis penjual apel yang buta
itu sedang berusaha untuk meraih buah-buah apel yang bertebaran, tanpa
seorangpun yang peduli membantunya.
Salesman itu berlutut di sampingnya,
mengumpulkan apel-apel dan menaruhnya kembali ke dalam keranjang serta
memajangnya di meja seperti semula. Ia memisahkan
apel-apel yang rusak ke dalam keranjang yang lain lalu pria itu mengeluarkan
uang dari dompetnya dan berkata kepada si gadis penjual, "Ini ambilah $20 untuk
semua kerusakan ini. Apa kau tidak
apa-apa?" Gadis itu mengangguk. Pria
itu melanjutkan "Saya harap kita tidak merusak harimu begitu parah".
Ketika pria itu beranjak pergi, gadis
penjual apel yang buta itu memanggilnya, "Tuan....". Pria itu berhenti, dan ia menoleh ke belakang
untuk menatap kedua matanya yang buta. Gadis
itu melanjutkan, "Apakah engkau Yesus?"
Seringkali bukan apa yang kita bicarakan atau kotbahkan dari mulut kita
yang mengubahkan orang lain, namun perbuatan nyata kitalah yang membawa
keselamatan bagi orang lain. Tuhan rindu
memakai kita untuk menjadi alatNya sebagai pembawa keselamatan bagi lingkungan
terdekat kita.
Hari ini, mari kita renungkan kembali, sudahkah perilaku dan perbuatan
kita mencerminkan dan mewakilkan pribadi Yesus, sehingga orang lain – terutama keluarga
kita yang belum mengenal Tuhan – dapat mengenal pribadi dan kasihNya yang nyata
dalam hidup kita?
28.12.15
Superhero
“Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu,
dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah
dengan berani”
Kisah Para Rasul 4:31
Kita semua pasti tahu cerita-cerita pahlawan Marvel Comics,
sebuah perusahaan animasi Amerika yang sangat terkenal, di antaranya Superman,
Spiderman, Batman, dan lain sebagainya.
Mereka semuanya sebenarnya hanyalah seorang tokoh yang biasa saja dalam
kehidupan sehari-harinya, namun kesamaannya, mereka peka akan kebutuhan
masyarakat sekitarnya dan rindu untuk membantu mereka dalam membasmi kriminal
dan kejahatan yang terjadi di sekitar mereka.
Saat kejahatan terjadi, dengan cara yang berbeda-beda,
mereka berubah dengan sekejap mata menjadi superhero yang memiliki kekuatan
super dan menolong orang lain yang sedang kesusahan tersebut. Sehingga mereka lolos dari tindakan kriminal
atau kejadian yang membahayakan hidup mereka.
Dalam cerita tersebut, terkadang ada saatnya ketika
kejahatan tersebut terjadi, mereka tidak bertindak sebagaimana mestinya. Ketika mereka menjadi lengah, atau fokus
mereka teralihkan oleh hal lain, atau saat mereka memutuskan untuk tidak
menjadi peka lagi atas kejahatan yang terjadi.
Di saat itu, mereka tidak bisa memakai kekuatan mereka untuk menolong
orang lain.
Sama seperti kita, kita adalah superhero-superhero-nya
Allah yang sudah dipanggil, dipisahkan, dan
dipilih untuk meneruskan
pekerjaan Bapa di dunia,
yaitu menjadi saksiNya dan memberitakan injil kebenaran kepada semua orang. Dan Tuhan telah
memperlengkapi kita dengan kuasa dan otoritas Roh Kudus yang membantu kita melakukannya, asal kita menyerahkan kehidupan kita
kepadaNya dan mau taat untuk dipakai bagi kemuliaanNya. Kuasa Roh kuduslah yang memampukan kita untuk melakukan
pekerjaan-pekerjaan luar biasa seperti yang Rasul-Rasul lakukan pada masa
jemaat mula-mula. Mereka bersaksi dan
melakukan banyak mujizat, menjadi orang yang disegani semua orang, dan membawa
mereka kepada kebenaran Kristus.
Sudahkah kita penuh dengan Roh senantiasa setiap
hari? Kita perlu mengasah iman dan hati
kita terus menerus sehingga kita menjadi peka akan kehendak Tuhan dalam
kehidupan kita dan tidak menjadi lengah.
Percayalah, Tuhan mau dan bisa memakai hidup kita secara luar biasa untuk
membawa kemuliaan bagi namaNya.
Anak Detak
15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu
meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi
semua orang di dalam rumah itu.
16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di
depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu
yang di sorga."
Mat 5:15-16
Beberapa
hari terkahir ini, anak saya sangat ketagihan sekali untuk menonton video
pendek, produksi dari sebuah kegerakan yang peduli dengan edukasi anak-anak
bernama Anak Detak (www.anakdetak.com). Kegerakan ini berawal dari sepasang suami
istri (Philip Triatna & Julie Tane) yang rindu untuk berbuat sesuatu bagi
negeri ini lewat talenta yang mereka punya.
Mereka membuat beberapa video pendek berisi ilustrasi lewat
gambar-gambar yang menarik, dengan bertujuan mengedukasi dan menanamkan
nilai-nilai positif kepada anak-anak Indonesia.
Salah satu video sederhana yang sangat disukai anak saya adalah video
mereka yang mengajarkan anak-anak untuk rajin sikat gigi. Video ini sangat menginspirasi anak saya
untuk mau sikat gigi tanpa harus disuruh-suruh lagi.
Saya
sangat kagum kepada sepasang suami istri ini, terhadap apa yang mereka lakukan
untuk anak-anak negeri ini. Saya yakin,
bukan hanya anak saya yang merasakan manfaat ini, namun seluruh anak Indonesia
yang menonton video tersebut. Dalam
sebuah sesi singkat yang saya ikuti, mereka share tentang apa yang mereka
lakukan untuk negeri ini. Mereka
tergerak untuk berbuat sesuatu lewat apa yang mereka bisa lakukan, dan Tuhan
menolong mereka. Mereka mendapat sponsor dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan
dan Perlindungan Anak sehingga mereka dapat mempromosikan video-video yang
mereka buat di application store Android Indonesia. Selain itu, mereka juga membuat sebuah board
game menarik yang menuntun kita bagaimana untuk memiliki sebuah mimpi dan
mewujudkannya menjadi kenyataan. Bersama
board game ini, mereka diundang di banyak universitas dan perusahaan dan
memotivasi mereka untuk berani bermimpi dan mewujudkannya.
Seringkali
kita berpikir, bahwa kita tidak punya keahlian apapun, atau merasa tidak cukup
kaya untuk berbuat atau berbagi sesuatu untuk lingkungan kita. Namun Tuhan tidak memerlukan semuanya itu
dari kita. Tuhan hanya perlu hati kita,
yang rela dan rindu dipakai untuk menjadi berkat bagi sekitar kita. Ketika kita taat dan mau melakuan yang
terbaik, percayalah bahwa Tuhan sedang membawa kita menuju rencanaNya yang
besar. Dan setiap kesempatan yang datang
dalam hidup kita adalah seperti anak tangga yang membuat kita semakin dekat
dengan rencanaNya.
Mari lakukan yang terbaik dari setiap apa yang
sedang kita kerjakan. Jika kita masih
sekolah atau kuliah, belajarlah dengan baik, karena Tuhan sedang mempersiapkan
kita untuk menjadi yang terbaik sehingga kita bisa menjadi berkat buat orang
lain lewat keahlian kita. Jika kita ada
di market place dalam pekerjaan kita, bekerjalah dengan jujur dan maksimal, karena
Tuhan ingin memakai kita untuk menjadi
perpanjangan tanganNya untuk membantu lingkungan sekitar kita.
The Ambassador
Sewaktu saya masih duduk di
bangku SMA, saat itu baru mulai ramai salah satu produk obat-obatan terkemuka
yang dijual dengan sistem MLM (Multi Level Marketing). Suatu hari, seorang teman lelaki yang tidak
terlalu dekat dengan saya tiba-tiba mengajak saya bertemu dan mengobrol di
perpustakaan. Karena tidak ada maksud
apapun yang saya sadari dan juga karena tidak enak menolak permintaannya,
akhirnya saya menemuinya. Begitu ngobrol
basa basi sebentar, dia akhirnya mengutarakan maksudnya dan mengajak saya untuk
bergabung dalam tim marketingnya.
Singkat cerita, karena saya bukan orang yang termasuk peka dengan
pemikiran bisnis, saya tidak begitu tertarik dan menolaknya secara halus.
Namun walalupun demikian, mau
tidak mau, suka tidak suka, toh tetap saya juga adalah seorang marketing nya
Tuhan, yang menjual cerita dan kisah hidup kita seperti surat yang terbuka dan
dilihat semua orang. Semua kejadian dan
masalah yang kita hadapi, pada akhirnya hanya untuk kemuliaan Tuhan. Jadi kekristenan itu tentang bagaimana kita
meresponi dan menyikapi setiap masalah dalam kehidupan kita. Bisa jadi, keputusan dan pola pikir kita yang
salah, malah membuat orang lain semakin salah sangka ataupun malah membenci
Tuhan.
Jika seorang sales dan
marketing di dunia ini menjual produknya kepada masyarakat, kita lebih dari
sekedar seorang marketing, kita adalah duta besar kerajaan Allah, yang sudah
dipilih dan dipisahkan Allah, untuk menjadi representasi Tuhan dalam kehidupan
kita sehari-hari. Kita menjual hidup
kita. Kita tidak sekedar menjual
janji-janji Tuhan kepada mereka, kita menjual contoh dan teladan hidup kita
kepada orang lain. Dari situlah Tuhan
memakai kita untuk membawa mereka kepada jalan keselamatan.
Duta besar tidak ditempatkan di
negaranya sendiri. Ia ditempatkan di
luar negaranya, di mana ia telah ditetapkan.
Mungkin itu di sekolah, kampus, tempat kerja, bahkan keluarga. Orang lain tidak melihat kehidupan kita di
dalam gereja. Mereka melihat sikap hati
dan hidup kita saat kita menghadapi ujian di sekolah atau kampus, saat kita
menghadapi masalah pelik di kantor, dan bahkan saat kita menghadapi konflik
dengan orang lain termasuk di dalam keluarga.
Mari lihat kembali hidup
kita. Seberapa fokus kita untuk
menjalani tugas mulia kita sebagai duta besarnya Allah? Kita diciptakan bukan untuk menghidupi
keinginan kita sendiri, tapi ada satu tugas mulia yang Tuhan percayakan dan
untuk kita lakukan sesuai dengan kehendakNya.
22.11.14
Kantung Air yang Bocor
… Bagaimana
mereka dapat percaya kepada Dia, … jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Roma
10:14
Apa jadinya jika sebuah kantong air
diisi air terus menerus tanpa disalurkan ke kantong air yang lainnya? Kantong air itu akan terisi sangat penuh
air. Ketika kantong itu tidak dapat
menampungnya lagi, kantong air itu akan pecah dan bocor sehingga sedikit air
saja yang masih tersisa di kantong tersebut.
Hidup kita bagaikan kantong air. Tuhan telah memberikan kantong-kantong berkat
kepada kita. Ketika Tuhan mengisikan
berkat-berkat materi maupun nonmateri ke dalam hidup kita. Namun satu hal yang harus selalu kita
ingat. Berkat yang telah kita terima,
bukan sepenuhnya milik kita. Kita
hanyalah penyalur berkat. Oleh karena
itulah, kita diberkati untuk memberkati orang lain juga.
Allah sangat menyayangi
jiwa-jiwa. Oleh karena itulah Dia
relakan Yesus untuk menjadi juruselamat bagi jiwa-jiwa yang terhilang. Karya Yesus di kayu salib memang sudah selesai. Namun misi Allah untuk dunia ini belum
selesai. Dan Dia ingin kita melanjutkan
karya Yesus di dunia. Dia ingin agar
kita dapat membawa jiwa-jiwa kepadaNya.
Masih banyak jiwa-jiwa yang berkekurangan, secara rohani, maupun jasmani
(materi). Kita dapat membagikan berkat
yang telah kita terima untuk mereka. Apa
yang telah kita berikan untuk jiwa-jiwa yang terhilang adalah sebuah investasi
kekal bagi kerajaan Allah.
Keadaan kita mungkin lebih baik dari
mereka. Namun pernahkah kita memikirkan
pelayanan misi yang dilakukan oleh rekan-rekan seperjuangan kita? Pernahkah kita berpikir untuk memberikan
kontribusi bagi ladang misiNya?
Tidak Melayani (di Gereja)
“Take your everyday, ordinary
life – your sleeping, eating, going-to-work, and walking-around life – and
place it before God as an offering.”
(Bawalah kehidupan sehari-harimu,
yakni tidur, makan, pergi bekerja, dan berjalan-jalan, dan letakkan itu di
hadapan Allah sebagai sebuah persembahan.)
Romans 12:1 The Message
Saya
teringat ketika masih pacaran dulu.
Sepertinya saya bisa melakukan apa saja demi menyenangkan hati pacar
saya tanpa harus diminta: membuatkan dia bekal saat dia melakukan perjalanan
keluar kota, membelikannya barang yang saat itu ia sangat butuhkan, membantunya
mengerjakan hal-hal dalam bidang yang kurang dia kuasai namun saya kuasai, dan
hal-hal simple lainnya namun saya kerjakan dengan penuh sukacita, walaupun itu
harus mengurangi waktu luang dan tenaga bahkan uang yang saya miliki.
Begitu
juga halnya dengan pelayanan. Kita bisa
melayani di mana saja, sesuai dengan kehendakNya, di mana Ia menempatkan
kita. Bukan hanya di gereja tentu saja,
karena melayani bukan hanya untuk para pendeta dan pengerja full timer. Justru pelayanan terbaik kita terlihat bukan
ketika kita ada di gereja, tetapi sewaktu kita ada di kehidupan kita
sehari-hari. Kita semua adalah pelayan
Tuhan di profesinya masing-masing. Dan
untuk memberikan pelayanan yang terbaik, kita perlu memberikan hati kita. Di mana hati kita berada, di situ kita bisa
memberikan yang terbaik. Karena kita
melakukannya bukan dengan rutinitas atau terpaksa, atau motivasi lain,
melainkan dengan hati yang rela dan rindu untuk memberikan yang terbaik.
Tidak
peduli bidang apapun yang kita kerjakan, entah itu pekerjaan yang besar atau
kecil, yang terlihat atau tidak terlihat orang lain, yang berpenghasilan besar
atau berpenghasilan kecil. Karena
motivasi utama kita hanyalah menyenangkan hati Tuhan.
Mari
kita kembali pada esensi pelayanan, yaitu menyenangkan hati Allah, membuat Ia
tersenyum atas apa yang sedang kita lakukan.
Apapun bidang yang kita kerjakan, itulah pelayanan kita. Bagaimana selama ini kita mengerjakan
pelayanan kita? Sudahkah kita
menyenangkan hati Allah?
TEMPAT PELAYANAN
TERBAIK ADALAH DI MANA KITA PALING BANYAK MENGHABISKAN SEBAGIAN BESAR HIDUP
KITA.
Subscribe to:
Posts (Atom)