Search
Showing posts with label kehendak Allah. Show all posts
Showing posts with label kehendak Allah. Show all posts
21.10.21
BELAJAR DARI JUKIR
“Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu. Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya.” (Kejadian 39:21-22 TB)
Seorang pria paruh baya terlihat sibuk mengatur berbagai kendaraan di area parkir sebuah bank. Hari itu, terlihat banyak nasabah yang berkunjung untuk melakukan transaksi keuangan. Dengan penuh semangat, ia menyapa para pengunjung yang keluar dari kendaraannya dan mengantar mereka hingga pintu masuk. Panas terik matahari tidak menghilangkan senyuman dari wajahnya. Dari kejauhan, saya memperhatikan kesibukan bapak tersebut. Dari seragam kerjanya, cukup jelas bahwa ia bekerja sebagai juru parkir yang bekerja untuk dirinya sendiri dan bukan sebagai pegawai bagi bank tersebut. Walaupun tidak ada kewajiban baginya untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi para nasabah bank tersebut, namun ia tetap memilih untuk melakukan yang terbaik. Sikapnya dalam bekerja membuat saya kagum, walaupun mungkin tidak semua orang memperhatikan pekerjaannya.
Sahabat, integritas dan sikap kita dalam bekerja tidaklah ditentukan oleh jenis dan level pekerjaan kita. Tuhan tidak pernah memandang rendah apapun pekerjaan kita, selama pekerjaan tersebut berkenan di mataNya. Justru, ia rindu agar pekerjaan yang kita lakukan dapat membawa kemuliaan namaNya. Janganlah memandang rendah pekerjaan dan usaha apapun yang kita lakukan saat ini. Dengan pekerjaan dan usaha yang Tuhan percayakan kepada saat ini, kita diberikan kesempatan untuk menunjukkan sikap dan nilai-nilai firman Tuhan dalam pekerjaan kita, sehingga kita dapat dipercaya untuk melakukan hal-hal yang lebih besar.
Hal termudah yang dapat kita lakukan untuk membawa kemuliaan bagi nama Tuhan adalah dengan menunjukkan sikap dan nilai-nilai firman Tuhan yang kita miliki dalam dunia usaha dan pekerjaan kita, sehingga orang lain dapat melihat bahwa hidup kita berbeda dan memiliki nilai-nilai yang tidak dunia miliki. Marilah kita tunjukkan nilai-nilai kebenaran yang kita miliki untuk membawa kemuliaan bagi kerajaan Sorga.
KASIH DAN PENGAMPUNAN
“Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.” (Lukas 7:47 TB)
Sewaktu saya baru bertobat, pemikiran saya tentang mengasihi hanyalah sedangkal mengadakan kegiatan misi ataupun bakti sosial kepada orang-orang yang belum mengenal Yesus dan membagikan makanan maupun kebutuhan lainnya yang mereka perlukan. Namun, seiring pertumbuhan rohani saya dengan Tuhan, saya mengerti dengan jelas, bahwa tindakan mengasihi yang paling dalam dan sulit untuk kita lakukan adalah mengasihi orang yang kita kenal dekat, namun ternyata memperlakukan kita dengan tidak baik.
Seringkali, orang yang paling sulit kita kasihi bukanlah orang lain yang jauh dan tidak kita kenal. Karena seringkali, yang menyakiti hati kita adalah orang-orang yang mengenal kita dengan baik: pasangan kita, anak-anak, maupun rekan kerja atau pelayanan kita. Saya belajar, bahwa tindakan mengasihi tidak dapat dilakukan tanpa kita memiliki kemampuan untuk mengampuni. Bukan hanya sekali,namun berulang kali.
Sahabat, tanpa kita mengenal dan mengalami kasih dan pengampunan Bapa, kita tidak akan mungkin dapat mengasihi dan mengampuni dengan benar. Karena hanya kasih Bapalah yang akan memampukan kita untuk mengasihi dan mengampuni, sama seperti Bapa mengasihi dan mengampuni setiap kesalahan kita. Kedua hal ini merupakan karakter ilahi yang Tuhan rindu kita miliki dalam setiap kehidupan orang percaya. Lewat setiap proses, kejadian, dan hal-hal yang terjadi dalam hidup kita, hati kita dibentuk sehingga kita belajar untuk hidup, sama seperti Allah hidup. Siapapun orang yang menyakiti hati kita tidaklah penting, namun, proses itulah yang membuat kita semakin hari, semakin seruapa dengan Kristus. Oleh karena itu, mari kita syukuri setiap proses pendewasaan yang Tuhan berikan dalam hidup kita. Ingatlah, Tuhan belum selesai bekerja dalam hidup Saudara.
Y.O.L.O
“Hidup kami terbatas. Hanya Engkau yang tahu berapa lama kami hidup. Engkau telah menentukan batas bagi kami dan tidak ada yang dapat mengubahnya.” (Ayub 14:5 VMD)
You Only Live Once. Pernah dengar kalimat ini? Ya. Memang hidup Cuma sekali. Dan kita punya dua pilihan: menikmati hidup kita, atau menghidupinya dengan bijaksana. Terkadang banyak orang yang terjebak dengan pilihan pertama. Karena hidup hanya sekali, lakukanlah apapun yang ingin Anda lakukan selagi bisa. Tetapi, pola pikir seperti ini membuat kita menjadi self-centered. Yang penting hidup kita. kita hanya berpusat pada mimpi dan pencapaian apa yang ingin kita raih dalam hidup kita. apapun halangannya, kita akan berusaha bagaimanapun caranya sampai kita mendapatkannya.
Namun berbeda dengan pilihan kedua: menghidupinya dengan bijaksana. Di akhir hidup kita, kita akan mempertanggungjawabkan seluruh waktu yang kita miliki selama hidup kita kepada Tuhan. Pernahkah Saudara bayangkan saat Tuhan bertanya: “ Jadi, apa saja yang sudah kamu lakukan selama kamu hidup?” Apa yang akan Saudara jawab?
Hidup ini bukan soal seberapa panjang umur kita. tapi seberapa banyak hal yang kita lakukan dalam hidup kita untuk orang lain. Kita percaya, bahwa Tuhan tidak terlalu iseng untuk menciptkan kita tanpa alasan dan tujuan yang spesifik. Bahkan setiap kejadian, kesempatan, dan pertemuan hidup kita dengan orang lain, sudah ditentukan Tuhan dari sejak kita dibentuk di dalam kandungan. Jadi, ada tugas dan tanggung jawab yang perlu kita lakukan dengan hidup kita, dengan waktu yang Tuhan percayakan bagi kita. dengan pola pikir seperti ini, kita akan memandang hidup kita dengan lebih berarti. Bukan sekedar rutinitas, atau sekedar berfokus dengan masalah dan kesusahan hidup kita sendiri. Sudahkah Saudara menyadarinya? Sudahkah Saudara berjalan di dalam rencanaNya?
PAHLAWAN IMAN
“Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” (Yeremia 29:7)
Bulan ini adalah bulan yang selalu digaung-gaungkan dengan mengingat kembali kisah perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia oleh para pejuang pendahulu kita. Mereka semua layak disebut pahlawan oleh karena jasa dan pengorbanan mereka untuk membela bangsa dan memperjuangkan kemerdekaan. Bukan karena memiliki kemampuan khusus yang luar biasa, namun karena mereka mau mendahulukan kepentingan bangsa dan negara di atas kehidupan pribadi mereka.
Saat ini, secara administrasi pemerintahan, Indonesia memang sudah merdeka dari cengkraman penjajahan. Namun, seperti kita semua sadari, ada beberapa aspek kehidupan bangsa kita yang belum dapat dikatakan merdeka sepenuhnya dan masih harus diperjuangkan hingga saat ini. Dan kita, sebagai yang ditempatkan Tuhan untuk tinggal dan membangun negara ini, memiliki tanggung jawab yang besar untuk memperjuangkannya. Kita telah dipanggil untuk menjadi pahlawan iman bagi bangsa kita, Indonesia. Kita bukan saja hidup untuk kesejahteraan kita dan keluarga kita sendiri, namun, terlebih penting dari itu, Tuhan menempatkan kita di negara ini untuk sebuah tujuan yang lebih penting, yaitu kemuliaan Tuhan atas Indonesia.
Sahabat, apakah permohonan doa kita sudah menyematkan harapan kita tentang Indonesia di dalamnya? Indonesia butuh pahlawan-pahlawan yang memperjuangkan dan bersyafaat bagi keselamatan bangsanya di hadapan Tuhan. Apakah dalam setiap bidang kehidupan yang kita jalani saat ini, ada hati kita untuk bangsa kita di dalamnya? Kontribusi nyata apakah yang sudah kita lakukan bagi bangsa ini? Marilah kita menjadi pahlawan iman bagi Indonesia. Karena kalau bukan kita, siapa lagi?
TERANG BAGI DUNIA
“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.” (Matius 5: 14-15)
Lilin dan senter adalah sebuah benda yang mungkin teracuhkan saat siang hari atau saat arus listrik berjalan normal – di mana benda penerang lain, yaitu lampu, dapat berfungsi dengan baik untuk menerangi ruangan saat malam hari. Namun, saat listrik padam, mendadak kedua benda tersebut menjadi benda paling dicari untuk menerangi ruangan yang gelap.
Dalam banyak kesaksian yang sering kita jumpai, seringkali orang bertobat dan menerima Tuhan sebagai Juruselamat saat mereka berada dalam masalah dan kondisi yang tidak berpengharapan. Di saat itulah manusia menjadi sadar bahwa segala kehebatan dan harta yang mereka miliki tidak memiliki arti apapun, dan hanya pribadi Tuhan yang mampu mereka andalkan untuk menyelamatkan mereka.
Di tengah situasi dan kondisi yang sedang dunia alami akhir-akhir ini, sebenarnya inilah kesempatan kita untuk bersinar sebagai terang dan memancarkan kemuliaan Tuhan. Saatnya kasih Tuhan dinyatakan lewat setiap tindakan aktif kita sebagai anak-anakNya, dalam setiap aspek kehidupan yang bisa kita bagikan untuk orang lain yang membutuhkan. Semakin “gelap” kondisi yang sedang kita hadapi hari-hari ini, semakin banyak kesempatan kita untuk menerangi dunia ini dengan kasih Kristus. Dalam bidang apapun yang kita lakukan, kita bisa berkarya untuk memberkati dunia ini dengan talenta dan kreativitas yang Tuhan berikan kepada kita. Sehingga, kerinduan Tuhan akan keselamatan jiwa-jiwa boleh menjadi nyata dan nama Tuhan dipermuliakan melalui kehidupan kita.
Sahabat, marilah kita menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk menyentuh hati dan menolong mereka. Saatnya kita menjadi jawaban atas setiap permasalahan mereka dan menjadi kasih yang nyata dalam hidup mereka. Karena untuk itulah kita telah dipanggil. Ia mau agar kita dapat memiliki kerinduan yang sama untuk mengasihi mereka.
ANAK PANAH
“Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.” (Mazmur 127:4)
Saat anak pertama kami lahir, Tuhan menyadarkan kami, sebagai orang tua, bahwa anak-anak bukanlah sekadar hadiah terindah dalam perjalanan kehidupan keluarga kami. Namun, terlebih penting, mereka adalah kepercayaan yang Tuhan berikan kepada kami sebagai orang tua untuk mendidiknya sesuai dengan rencana yang sudah Tuhan tetapkan dalam hidupnya. Pola pikir tersebut akhirnya mengubah cara pandang kami terhadap mereka. Kami yakin bahwa suatu saat nanti mereka akan menjadi orang-orang yang Tuhan pakai secara luar biasa untuk memberkati orang-orang di sekitarnya. Sehingga, sedari kecil, kami tidak melihat mereka sebagai anak kecil yang biasa-biasa saja. Kami melihat calon-calon pemimpin yang akan memengaruhi dunia mereka kelak. Dan kami diberikan kepercayaan untuk mendidik mereka.
Mazmur 127:4 menulis dengan jelas, bahwa anak-anak adalah seperti anak panah yang Tuhan pakai untuk menancap tepat pada sasaranya. Sebelum saatnya tiba untuk diluncurkan, ia perlu berada pada busur yang direntangkan terlebih dulu untuk diarahkan pada sasarannya. Namun, ia tidak akan berada di busur tersebut selama-lamanya. Hingga pada saat yang tepat, Sang Pemanah akan melepasnya sehingga ia bisa mencapai sasarannya dengan tepat.
Sebagai orang tua, kita memiliki rentang waktu yang terbatas. Kita perlu mempersiapkan anak/cucu kita sebelum akhirnya mereka siap meluncur ke sasaran yang tepat, sesuai dengan rencana yang Tuhan persiapkan untuk mereka. . Saat kita merentangkan busur kesabaran, jerih payah, waktu, dan segala tenaga yang kita curahkan untuk mempersiapkan mereka, percayalah semuanya tidak akan menjadi sia-sia. Tuhan turut bekerja dan Ia akan memberi kita kekuatan dan hikmat yang kita butuhkan. Karena saat ia memercayakan anak-anak dalam hidup kita, percayalah Tuhan yang akan memperlengkapi dan memampukan kita untuk mempersiapkan mereka menjadi anak-anak panah yang siap diluncurkan ke sasaran yang tepat.
5.8.18
SYARAT DAN KETENTUAN (TIDAK) BERLAKU
Hendaklah kamu murah hati, sama seperti
Bapamu adalah murah hati."
Luk 6:36
Mengasihi, jika dilihat dari etimologi kata nya, adalah sebuah tindakan aktif yang nyata untuk memberikan “sesuatu”. Apa itu? Ego kita. Untuk mengasihi, kita perlu menanggalkan status sosial kita, bahkan status ekonomi kita. Dan saat kita siap untuk mengasihi seseorang, kita harus siap juga untuk memberikan pengampunan berulang-ulang. Kecuali ia adalah Tuhan yang tidak pernah salah.
Saat kita mengasihi, Tuhan rindu kita bisa mengasihi orang lain sama seperti Tuhan Yesus mengasihi kita tanpa syarat dan memberikan pengampunan yang tak terbatas. Jauh sebelum kita menyadari dosa-dosa kita, Tuhan sudah mati dan menebus seluruh kesalahan kita. Bahkan untuk kesalahan-kesalahan di masa yang akan datang, yang belum kita lakukan.
Tanpa terlebih dulu kita mengalami kasih Yesus dalam hidup kita, rasanya mustahil untuk bisa mengasihi orang lain seperti itu. Bersyukurlah bahwa kita telah mengenal Tuhan. Mulai saat ini, saat ada orang lain yang menguji kasih kita dan menyerang ego kita, ingatlah bahwa Tuhan sudah terlebih dahulu mengampuni semua dosa-dosa kita. Layakkah kita marah?
23.1.18
KONTAK BATIN
1 Kor 2: 14 FAYH “Tetapi orang yang bukan-Kristen tidak dapat memahami
dan menerima pikiran Allah, yang diajarkan oleh Roh Kudus kepada kita. Baginya pikiran itu kedengaran bodoh, sebab
hanya orang yang memiliki Roh Kudus dapat memahami apa yang dimaksudkan oleh
Roh Kudus. Orang lain tidak dapat
memahaminya.”
Menjalani
kehidupan pernikahan selama 6 tahun membuat saya semakin mengenal pasangan saya
lebih baik hari demi hari, dibandingkan pada saat masih pacaran dulu. Saya bisa mengetahui pada saat perasaannya
tidak baik, sehingga saya bisa bersikap lebih baik untuk menghindari
konflik. Waktu ia merasa lelah, saya
cukup peka untuk membiarkannya istirahat tanpa diganggu anak-anak. Begitu juga pada saat menghadapi sebuah
masalah, saya bisa menebak langkah dan tindakan apa yang kira-kira akan ia
lakukan untuk menemukan solusinya.
Lama-lama kami memiliki pikiran dan pandangan yang sama mengenai banyak
hal dan bagaimana memecahkan masalah.
Hingga sampai
di tahap seperti ini pun, tidak terjadi dalam satu malam. Butuh 6 tahun dan tahun-tahun berikutnya
untuk bisa semakin mengerti dan mengenal pasangan. Di dalamnya sudah banyak konflik dan kesalahpahaman
yang terjadi. Namun yang paling penting,
ada hubungan dan komunikasi yang terus dibangun hari demi hari. Tanpa dua hal ini tentu saja tidak mungkin
saya bisa mengenal pasangan saya dengan baik.
Pernah dengar
cerita saat seseorang mengalami kejadian yang tidak mengenakkan, lalu di saat
yang bersamaan pasangan orang tersebut juga memiliki firasat tidak enak? Saya benar-benar mengalaminya. Semakin kita dekat dengan pasangan, kita
seperti memiliki kontak batin yang sama karena ada kesamaan berpikir dan
berperasaan mengenai suatu hal.
Begitu juga
hubungan kita dengan Tuhan. Seringkali kita
menganggap biasa waktu-waktu pribadi kita dengan Tuhan yang terlawatkan dari
sehari ke sehari. Padahal justru lewat
waktu-waktu seperti inilah kita bisa semakin mengenal kehendakNya dalam hidup
kita.
Roh Kudus
bekerja saat kita menekuk lutut kita untuk berdoa dan mengangkat tangan kita
untuk menyembah Tuhan. ia memberitahukan
kita rencana-rencana rahasia Tuhan untuk hidup kita. Ia memberikan kita hikmat untuk menemukan
panggilan Tuhan dan hidup di dalamnya sehingga menjadi maksimal. Ia juga membuat kita mengerti hal-hal yang
berkenan di mata Tuhan dan sesuai dengan kehendakNya.
KRISTEN ZOMBIE
“Sungguh, Aku membuka kubur-kuburmu dan
membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya, dan Aku akan membawa kamu ke
tanah Israel. Aku akan memberikan Roh-Ku
ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali dan Aku akan membiarkan kamu tinggal di
tanahmu. Dan kamu akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan
membuatnya, demikianlah firman TUHAN." Yehezkiel 37:12 & 14
Pernah lihat
zombie? Saya juga belum pernah lihat
sih, kecuali di film-film. Zombie
identik dengan manusia yang sudah tercemar suatu virus mematikan sehingga
merusakan jaringan sel darah dalam manusia tersebut dan membuat mereka seperti
orang “mati” yang berjalan sempoyongan tanpa kesadaran dan arah tujuan mencari
mangsa yaitu manusia yang belum terinfeksi virus tersebut, untuk dapat ia makan
dan ambil darahnya.
Saya tidak tahu
apakah zombie itu memang benar-benar ada atau hanya khayalan para pembuat
film-film Holywood saja. Yang jelas,
hidup seorang zombie tidak lagi berguna atau sia-sia saja. tidak adanya kesadaran dirinya membuat mereka
kehilangan jati diri dan juga tujuan dalam hidup mereka. Secara fisik mereka memang masih “hidup”,
tapi secara fungsional kerja otaknya sudah “mati”.
Saya kaget sekali
ketika mendapat informasi tentang sebuah survey yang mengatakan bahwa hanya
sekitar 30% orang Kristen yang membaca Alkitabnya rutin setiap hari. Jika lewat firman dan doa Tuhan berbicara
(dan bahkan Ia menyebut Firman ialah Allah sendiri), bagaimana kita dapat
mengenal dan mengalami pribadiNya hari lepas hari?
Pada akhirnya kita
hanya menjadi Kristen zombie yang asal “hidup” sebagai orang Kristen namun kita
kehilangan pengharapan dan kekuatan di dalam Yesus. Lama kelamaan kita akan merasa lelah, karena
kita memakai kekuatan kita sendiri menghadapi setiap masalah dan proses hidup
yang diizinkan terjadi di dalam diri kita.
Salah satu kunci dari
breakthrough adalah menghidupkan kembali “nafas hidup” dalam kehidupan kita
sehari-hari, yaitu kehidupan doa dan firman.
Dari sinilah Tuhan akan memberikan kembali kehidupan yang baru bagi kita
yang selama ini tinggal dan terjebak pada rutinitas kegiatan sehari-hari tanpa
kekuatan dan pengharapan dari Tuhan.
Sahabat, jangan mau jadi
Kristen Zombie. Karena kita seharusnya
memiliki kekuatan dan pengharapan yang senantiasa diperbaharui dalam
Tuhan. Kita harus menjadi semakin kuat,
bukan semakin lemah. Minta kekuatan dan
pengharapan yang baru, mari bangun lagi kehidupan doa dan firman yang
senantiasa melekat kepada Tuhan.
MONYET YANG DIPENJARA
“Ketika
Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah
lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?”
Yohanes 5:6
Ada sebuah percobaan
tentang seekor monyet yang dikurung di dalam sebuah kotak besi kecil berjeruji berukuran 1 x 1 meter selama
bertahun-tahun. Pada awalnya, monyet
tersebut menghabiskan seluruh energinya untuk berusaha keluar dari tempat kecil
yang mengurungnya tersebut. Namun
setelah bertahun-tahun kemudian, binatang tersebut berusaha beradaptasi dengan
kehidupan barunya yang sempit. Ia tidak
lagi loncat kesana kemari dan berusaha membebaskan dirinya sendiri. Dalam kehidupan kesehariannya, ia hanya
berjalan beberapa langkah mondar mandir ke kiri dan kanan, lalu lebih banyak
duduk diam dan membiasakan dirinya untuk hidup dalam kotak kecil tersebut. Beberapa tahun kemudian, kotak besi tersebut
dibongkar dan dilepas. Namun, sang
monyet tetap saja duduk diam dan hanya berjalan beberapa langkah ke kiri dan
kanannya. Ia tidak sadar bahwa
kerangkeng besinya sudah dilepas dan sebenarnya ia bisa kembali loncat kesana
kemari dengan bebasnya seperti semula.
Ia sudah terlanjur nyaman dengan kehidupan barunya dan menyesuaikan diri
untuk hidup dengan kehidupan tersebut.
Dalam alkitab ada dua
contoh kehidupan berbeda yang dapat kita pelajari. Contoh pertama adalah tentang seorang lumpuh
yang berbaring dekat kolam Betesda. Kita
dapat melihat bagaimana ia sudah “kehabisan” pengharapan untuk mengalami
mujizat kesembuhan, setelah 38 tahun ia berusaha untuk mendapat kesembuhan
tersebut. Walaupun ia percaya bahwa
kolam tersebut dapat menyembuhkan penyakitnya, namun ia hanya dapat berbaring
di pinggir kolam tersebut dan menyaksikan orang lain yang mengalami
kesembuhan. Pada akhirnya ia mendoktrin
dirinya sendiri bahwa ia tidak akan mungkin mengalami kesembuhan tersebut dan
membiasakan kehidupannya dengan kondisi tubuhnya yang lumpuh. Contoh kedua tentang seorang wanita yang
sudah dua belas tahun mengalami pendarahan dan tidak kunjung sembuh setelah
berusaha pergi berobat ke berbagai tabib yang ada di kotanya. Namun kita dapat melihat bahwa ia masih
memiliki iman dan pengharapan yang tetap teguh bahwa Yesus dapat
menyembuhkannya.
Terlepas dari berapa
lama penyakit yang diderita oleh kedua orang dalam contoh tersebut kita belajar bahwa kesembuhan datang kepada
orang yang bukan saja beriman dan percaya kepada Tuhan, namun juga bagaimana
kita tetap konsisten dalam iman kita untuk tetap berpengharapan kepada Tuhan,
walaupun kelihatannya tidak ada titik terang dan jalan keluar untuk segala
penyakit dan masalah kita. Sahabat,
percayalah bahwa tidak selamanya Tuhan membiarkan kita mengalami penderitaan
dalam penyakit dan masalah. Tuhan sudah
menyiapkan jalan keluar untuk kita dan tepat pada waktunya. Tuhan ingin lihat kesungguhan dan pengharapan
iman kita dalam Tuhan. Oleh karena itu,
jadilah kuat dalam iman dan pengharapan kita, dan tetap bersyukur atas segala
yang Ia izinkan terjadi dalam hidup kita.
KALAU BUAH BISA NGOMONG
Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah
dan buahmu itu tetap,. Yohanes 15:16
Sebagai
seorang istri dan ibu, adalah tugas saya untuk menjaga kesehatan seluruh
anggota keluarga saya lewat pola makan kami.
Sebisa mungkin, harus selalu ada buah-buahan di rumah untuk kami
konsumsi setiap harinya. Namun, ada juga
saat-saat di mana buah-buahan yang saya beli akhirnya harus berakhir di tong
sampah karena sudah menjadi busuk sebelum kami sempat mengkonsumsinya. Biasanya karena saya yang membeli buah
terlalu banyak, atau kami yang lupa atau tidak sempat mengkonsumsinya.
Karena saya
yang membuangnya ke tong sampah, rasanya tidak tega juga merelakannya dibuang
begitu saja. Saya membayangkan bagaimana
jika buah-buah ini punya perasaan dan bisa bicara. Berlebihan memang, namun Tuhan memberikan
sebuah insight dari kejadian
ini. Apakah buah tersebut akan sedih
saat mereka tahu saya membuangnya begitu saja?
Dan apakah si pohon darimana buah itu berasal juga akan ikut marah dan
bersepakat untuk “mogok berbuah”?
Bagaimana ya jadinya jika mereka bisa protes kepada manusia? Mungkinkah mereka akan bilang, “Kamu tidak
tahu ya betapa susah dan berjuangnya kami sejak kami masih berupa bibit, hingga
sekarang menjadi buah yang manis? Dan
kamu membuangnya begitu saja?”
Saya rasa,
mereka tidak akan seperti itu, karena buah dihasilkan bukan untuk keuntungan si
buah maupun si pohon itu sendiri, namun untuk dapat dinikmati oleh orang lain.
Menjadi berbuah berarti tidak hitung-hitungan dan mencari keuntungan apa yang
bisa didapat dari apa yang sudah kita lakukan ataupun perjuangkan. Ia akan tetap berbuah manis, sekalipun ia
tidak dinikmati orang lain, atau bahkan diperlakukan orang dengan tidak
semestinya. Proses dari sebuah bibit
menjadi buah yang manis memang membutuhkan perjuangan untuk mematikan keinginan
daging, setia dalam penantian waktu, dan beriman dan tetap berharap meskipun
keadaan tidak seperti yang kita harapkan, dan konsisten untuk mau terus
bertumbuh. Namun ia tidak akan menjadi
marah dan kecewa ketika ia tidak “dinikmati” dan malah “dibuang” oleh orang
lain. Ia akan tetap berbuah walaupun
proses yang ia alami tidak mudah.
Tuhan ingin
kita untuk berbuah, dan buah kita itu tetap.
Buah tidak bisa dihasilkan dari sesuatu yang instant. Ia butuh proses, ia butuh pengorbanan, dan ia
tidak memikirkan dirinya sendiri.
Fokusnya hanya bagaimana menghasilkan sesuatu yang dapat menjadi berkat
dan berguna bagi orang lain, bukan dirinya sendiri.
Subscribe to:
Posts (Atom)