Search

22.11.14

CLBK



Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain;
Mazmur 84:2a, 10a

Ada sebuah cara unik yang dilakukan sepasang calon suami istri yang hendak menikah.  Di tengah sibuknya persiapan untuk melangsungkan perayaan pernikahan, mereka menyempatkan diri untuk membuat sebuah video yang berisi kumpulan foto dan video yang mereka punya saat masih berpacaran, disertai penjelasan mengapa mereka memilih pasangan mereka masing-masing, apa kelebihan pasangan tersebut sehingga mereka memantapkan hati dan memutuskan untuk memilih pasangan tersebut dan menikahinya.  Mereka juga menceritakan kejadian-kejadian apa saja yang menyenangkan dan membuat mereka semakin yakin dengan pilihannya. 
Di akhir video, mereka mengungkapkan mengapa mereka membuat video ini.  Mereka berjanji jika suatu saat nanti ada masalah dalam rumah tangga mereka dan membuat hubungan mereka renggang atau retak, mereka akan menonton video ini lagi bersama-sama sehingga mereka ingat mengapa mereka akhirnya memutuskan untuk membangun rumah tangga mereka bersama.
Ketika saya merasa ingin menyerah dengan iman dan harapan saya kepada Tuhan, begitu pulalah yang saya lakukan.  Saya menyempatkan diri untuk merenung dan berdiam diri, dan mengingat semua kebaikan Tuhan yang pernah saya alami: pertolongan Tuhan yang begitu nyata saat saya terpuruk, mujizat yang saya alami dalam sebuah keadaan yang penuh kemustahilan, bagaimana cara Tuhan mengeluarkan saya dari sebuah masalah yang membingungkan dan sepertinya tidak ada jalan keluar, dan lain sebagainya.  Di saat itu, kasih Tuhan melingkupi saya dan itulah yang membuat saya semangat lagi untuk kembali bangkit dan tidak lagi terpuruk pada kondisi yang sedang saya alami.
Mari kita kembali ke kasih mula-mula kepada Kristus.  Di masa menjelang Natal ini, mari koreksi hati kita, apakah api kasih itu masih menyala bahkan berkobar, atau hampir padam?  Siapkanlah diri kita seperti seorang mempelai Kristus yang siap menyambut kedatanganNya.

JAGALAH PELITAMU SETIAP HARI AGAR TIDAK PADAM.

Hadiah Pelayanan



Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
Kolose 3:23

Sewaktu kecil, saya selalu merasa excited saat kenaikan kelas, karena hasil perjuangan saya selama setahun untuk berjuang meraih nilai yang tinggi akan menjadi penentu utama untuk saya bisa mendapatkan mainan yang saya impikan.  Ya, Mama selalu mengiming-imingi saya dengan hadiah sehingga saya belajar dengan rajin di sekolah.  Itulah yang memicu saya untuk belajar dengan rajin.  Namun seiring berjalannya waktu, saat saya beranjak besar dan duduk di bangku kuliah, Mama tidak perlu lagi mengiming-imingi saya hadiah untuk saya belajar dan memperoleh prestasi akademik.  Motivasi saya belajar dengan giat bukan lagi karena saya akan mendapatkan hadiah, namun saya mengerti bahwa semua ilmu yang saya pelajari, akan sangat berguna saat saya bekerja nanti.  Saya berusaha untuk mendapatkan nilai yang terbaik, karena saya juga ingin membuat orang tua saya bangga dan berterimakasih pada mereka telah membiayai saya kuliah hingga selesai saat saya lulus kuliah nanti.
Analogi ini mengingatkan saya pada kehidupan pelayanan kita.  Berapa banyak orang “melayani” di market place dan juga di dalam gereja hanya untuk mengejar berkat?  Mereka berusaha berbuat baik dan melayani Tuhan, namun suatu ketika ada seseorang yang mengecewakan mereka dan membuat mereka undur dari pelayanan?  Atau mereka berharap dengan pelayanan mereka, doa dan harapan dan hal-hal yang baik akan menyertai mereka, namun ketika lelah untuk menunggu jawaban doa dari Tuhan, mereka juga melakukan hal yang sama?
Apa motivasi pelayanan kita?  Apakah kita melayani karena ingin mendapat “hadiah” dari Tuhan?  Kekristenan yang dewasa adalah tetap memberikan yang terbaik saat orang lain tidak mengindahkan pelayanan kita, atau bahkan saat pelayanan kita tidak dihargai dan orang lain mencemooh atau melakukan hal yang buruk terhadap kita.  Karena dasar pelayanan kita adalah rasa ucapan syukur kita kepada Tuhan yang telah melayakkan kita untuk menerima hidup yang kekal dan berkemenangan.  Pelayanan kita janganlah berfokus pada penghargaan manusia, namun pada penghargaan di mata Tuhan.  Ketika kita punya motivasi yang benar tentang pelayanan, apapun yang kita lakukan, kita pasti akan melakukan yang terbaik, karena kita melakukannya untuk Tuhan, bukan untuk manusia.  Dan percayalah, ketika kita tidak fokus pada hadiah apa yang Tuhan akan berikan, Dia pasti akan memberikan hadiah yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. (1 Kor 2:9)


FOKUS PELAYANAN KITA ADALAH MENGEJAR APA YANG TUHAN INGINKAN, BUKAN APA YANG KITA INGINKAN.

Koin dan Mesin Permainan

Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman
2 Timotius 1:9

Saat masih kecil, adik saya sangat suka ketika kami jalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan dan dia tiba-tiba pergi menghilang ke sebuah area permainan khusus anak-anak yang lengkap dengan berbagai macam mesin permainan. Mesin permainan itu hanya akan berfungsi jika kita memasukkan koin di dalamnya. Adik saya senang sekali melihat orang-orang lain bermain dengan mesin permainan tersebut. Nampaknya ia sebenarnya ingin ikut bermain, namun ia tidak punya cukup koin untuk bermain. Sehingga ia hanya menonton mereka bermain.

Ada beberapa orang yang meninggalkan mesin permainan tersebut sebelum waktunya atau sebelum permainan tersebut berakhir, entah dengan alasan apa. Dengan sigap adik saya berlari menuju mesin tersebut dan melanjutkannya bermain hingga permainan tersebut berakhir. Ia tampak begitu gembira karena setelah itu ia mendapatkan beberapa tiket yang keluar dari mesin tersebut sesuai dengan jumlah score yang didapat. Tiket tersebut ia kumpulkan dan ditukar dengan hadiah-hadiah yang ia sukai.

Aku tertawa jika mengingat hal itu. Namun jika dipikir-pikir, hidup kita juga seperti itu. Sebenarnya kita tidak layak menerima keselamatan, atau bahkan mengenal Tuhan dan berkomunikasi dengan Tuhan sedekat seorang ayah dan seorang anak. Kita adalah orang berdosa yang seharusnya mati dan dihukum. Namun, ada seorang Juruselamat yang rela mengorbankan nyawaNya dan menyediakan diriNya untuk kita dapat berlari mendekat kepadaNya, serta memberikan tiket keselamatan yang tidak ternilai harganya. Hidup yang kita hidupi hari lepas hari hanyalah sebatas kasih karunia dan anugerah: sebuah hadiah yang seharusnya tidak kita terima, sebuah hadiah yang diberikan bukan karena kita layak menerimanya, namun hanya karena kebaikan dan kasih sang pemberi. Bagaimana kita memakai dan mengisi hidup kita selama ini?

Hulk

Mazmur 37:8 Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.

Siapa yang tidak tau tokoh Hulk: tokoh dalam komik keluaran Marvel Comic yang akan berubah menjadi monster hijau dan berkekuatan super untuk menghancurkan barang-barang di sekitarnya saat ia berubah emosi menjadi marah atau sedih. Seringkali Hulk menjadi incaran polisi karena tindakan destruktif yang ia lakukan. Hulk akan kembali menjadi normal ketika emosinya pun ikut kembali normal. Namun, sayangnya, semua barang dan keadaan yang telah ia hancurkan, tidak ikut kembali normal seperti sedia kala.

Cerita ini Nampak keren dan menarik untuk ditonton. Ya, jalan cerita yang seru dan menegangkan di beberapa adegan membuat film ini disukai tidak saja oleh anak-anak, tapi juga orang dewasa. Namun, ada hal yang bisa kita pelajari dari tokoh Hulk ini. Bahwa seringkali dalam kemarahan dan kesedihan kita, kita menjadi seperti “Hulk”, menjadi seseorang yang bukan diri kita, dan melakukan tindakan-tindakan destruktif, baik secara fisik maupun batin/emosi jiwa. Kita menjadi lepas kendali dan jadi membabi buta, akhirnya melakukan berbagai tindakan konyol yang pada akhirnya kita sesali di kemudian hari. Banyak hal yang bisa membuat kita marah. Mungkin menurut sebagian orang, marah itu wajar. Memang marah tidak membuat kita berdosa. Namun, ketika kita sudah tidak dapat mengendalikan marah dan emosi kita, itulah yang menjadi dosa di hadapan Tuhan. 
 
Bukan masalah benar atau tidak benarnya sebuah masalah yang membuat kita perlu menjadi marah, namun bagaimana respon kita menghadapi masalah tersebut tanpa perlu menjadi marah dan hilang kendali. Biarlah dalam segala situasi, hidup kita hanya dikendalikan oleh Roh Kudus yang lemah lembut dan penurut, bukan dikendalikan oleh amarah dan emosi sesaat yang mudah berubah-ubah setiap waktu.

Hadiah yang Terindah


Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.
Roma 5:8

Sejak kecil, saya memang lahir di keluarga Kristen.  Saya mengikuti sekolah minggu, ke gereja, beribadah, namun saya belum mengenal Yesus secara pribadi dalam hidup saya.  Saat duduk di bangku sekolah dasar, seorang teman mengajak saya ikut sebuah camp anak saat liburan sekolah tiba.  Awalnya saya pikir, ini hanya sekedar acara untuk mengisi waktu luang saat libur panjang sekolah.  Namun dalam sebuah sesi camp tersebut, saya mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan Yesus dan mengambil langkah iman untuk menjadikanNya sebagai juruselamat saya.  Kejadian tersebut terus berlanjut hingga tahun demi tahun, camp yang saya ikuti karena ajakan teman itu semakin menajamkan kerohanian dan iman saya hingga saat ini saya bisa berdiri teguh bersama Tuhan.  Tuhan bisa pakai seribu satu cara kreatif untuk membawa seseorang untuk mengenal keselamatan.  Beda-beda memang tiap orang, tapi lewat seribu satu kejadian tersebut, tidak pernah ada yang menyangka, kalau saja kejadian sepele yang tidak pernah terpikirkan itu tidak terjadi, entah apa jadinya kita saat ini.
Hidup ini keras, penuh dengan sejuta permasalahan dalam keluarga, pekerjaan, hubungan, dan lain-lain.  Saya tidak bisa membayangkan jika tidak ada kekuatan dan penyertaan tangan Tuhan, saya masih bisa berjuang hingga detik ini.  Perjumpaan pribadi kita dengan Tuhan mengubahkan kehidupan kita, cara pandang kita, karakter kita, dan hidup kita.  Kuasa Injil membawa keselamatan yang kekal, karena itulah keselamatan yang kita terima adalah anugrah terbesar dari Tuhan untuk hidup kita.  Tidak ada hadiah yang lebih indah dari itu.
Banyak orang mencari keselamatan dengan banyak berbuat baik, rajin melakukan kegiatan kerohanian, namun tidak mendapatkannya.  Betapa bersyukurnya kita, bahwa Tuhan yang mencari dan menyelamatkan hidup kita dari kematian kekal. 
Sahabat, jika kita mengerti benar bahwa keselamatan adalah hadiah termahal yang pernah Tuhan berikan untuk kita, maka seharusnya kita tidak melepaskan apa yang sudah kita terima dari Tuhan atau menukarnya dengan hal-hal lain yang terlihat lebih menggiurkan kita.  Semua kenikmatan dunia hanya sementara, namun keselamatan adalah kekal.  Mari periksa kembali, apakah kita sudah menjaga dan mengerjakan keselamatan yang sudah kita terima dari Tuhan

KUASA INJIL MEMBAWA KEPADA KESELAMATAN YANG KEKAL

Katak yang Tuli



Katak yang Tuli

“…agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.”
Ibrani 6:12

Masih ingat cerita tentang beberapa katak yang mengadakan kontes untuk memilih siapa yang terhebat di antara mereka?  Barang siapa yang berhasil melompat ke atas menara curam yang tinggi ke atas dengan waktu tercepat adalah pemenangnya.  Ketika lomba dimulai, semua peserta melompat dengan antusias.  Sorak tepuk tangan menyemangati para peserta.  Namun beberapa dari mereka tergelincir jatuh.  Penonton mulai berkomentar, medannya terlalu berat, dindingnya terlalu licin, menara nya terlalu tinggi, dan lain sebagainya.  Sebagian dari peserta tersebut mencoba untuk naik lagi, namun gagal lagi.  Hingga akhirnya hanya ada satu pemenang yang berhasil sampai ke puncak menara, yaitu sang katak yang tuli.
Kadang kala iman tak saja cukup lewat kata-kata dan pendirian yang teguh.  Iman perlu disertai dengan perbuatan yang nyata, yaitu ketekunan.  Banyak orang Kristen seperti katak yang gagal.  Ia percaya bahwa Tuhan hebat dan sanggup melakukan hal yang mustahil dan memberikan jalan keluar untuk setiap masalah mereka.  Namun di tengah jalan, ketika mereka menemukan kegagalan, kemustahilan, halangan, dan rintangan, seringkali iman mereka menjadi lemah dan mereka menyerah.
Tuhan tidak selalu langsung menjawab doa dan menolong kita saat kita berada dalam masalah, ada perbedaan antara waktu kita dengan waktu Tuhan.  Namun seringkali kita cepat menjadi tidak sabar dalam menantikan janji Tuhan.  Itu sebabnya kita perlu kesabaran dan ketekunan.  Iman menjadi sama pentingnya dengan kesabaran.
Iman kita ucapkan dan kita akui dalam doa-doa kita, tapi kesabaran kita praktekkan dalam tindakan puasa kita, sebagai tindakan nyata kita untuk tetap tekun dalam menantikan janjiNya.  Oleh karena itu doa dan puasa menjadi dua hal yang sama pentingnya dalam menantikan janjiNya.  Lewat doa, iman kita diteguhkan.  Lewat puasa, kedagingan kita dilatih untuk tetap tekun dan berharap kepadaNya, sebagai tindakan nyata dalam perbuatan kita sehari-hari.


Ketika janji Tuhan seakan tak terlihat, iman dan kesabaranlah yang membuatmu tetap bertahan sampai pada akhirnya.

Hal yang Terabaikan



Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.
Roma 12:11

Semenjak hidup berumah tangga, saya belajar untuk tidak hidup bagi diri saya sendiri saja.  Sebagai seorang istri, ada banyak hal yang harus saya urus dan rawat setiap hari, seperti kebersihan dan kerapian rumah, sehingga enak dipandang dan kami yang tinggal di dalamnya menjadi nyaman saat berada di rumah.  Satu hal yang seringkali terabaikan adalah kerapian taman depan.  Di depan rumah, kami punya taman kecil yang kami tanami beberapa rerumputan dan tanaman.  Seringkali saya lupa menyiram tanaman-tanaman tersebut dan memangkas daun kering yang berguguran di rerumputan.  Sepertinya hal sepele yang mudah dilakukan dan tidak terlalu menyita waktu bagi saya, untuk sekedar menyiram tanaman, namun juga menjadi hal yang tidak terlalu prioritas dibandingkan  dengan harus memasak, mencuci piring, dan lain sebagainya.  Sehingga seringkali pekerjaan ini menjadi terlupakan beberapa hari lamanya.  Tiba-tiba saya menemukan beberapa tanaman akhirnya layu dan mati.
Sama halnya seperti kerohanian kita.   Seringkali kita berpikir, terlalu sibuk hari ini untuk menyediakan waktu untuk Tuhan: bangun kesiangan di pagi hari, atau setumpuk aktivitas yang harus kita lakukan, membuat kita berpikir, “Ah, sehari tidak saat teduh tidak akan membuat kita “mati”.”  Ya, memang kerohanian kita tidak akan mati hanya dalam waktu satu hari.  Namun satu hari akan menjadi dua hari, dua hari menjadi satu minggu, dan begitu seterusnya.
Kekristenan adalah soal hubungan.  Dan hubungan harus terus menerus dijaga mulai dari hal dan kebiasaan yang terlihat sepele dan mudah, namun itulah yang membuatnya terus bertahan.  Sekedar berdialog dengan Tuhan dan melibatkan Tuhan di tengah-tengah kesibukan kita, atau merenungkan beberapa ayat Firman di tengah-tengah waktu istirahat kita akan membuat kita terus berhubungan 24 jam bersama dengan Tuhan.  Itulah yang menjaga “api” rohani kita tetap menyala untuk Tuhan.  Percayalah, hidup tanpa Tuhan adalah kehidupan yang sia-sia dan tidak berarti


KEHANCURAN SEBUAH HUBUNGAN DIMULAI DARI HILANGNYA KEBIASAAN BAIK YANG KELIHATANNYA SEPELE.