Search

4.9.12

Ibu

Kasih Mama kepada Elin
tak terhingga sepanjang masa
hanya memberi, tak harap kembali
bagai Sang surya menyinari dunia


Aku menyanyikan lagu ini dengan lembut di telinga Elin berulang kali sampai dia tertidur.  Dan tanpa sadar air mataku menetes.  Tiba-tiba teringat Mama dan terbayang semua perlakuan kasih sayangnya dari aku kecil hingga sebesar ini.  Bahkan sampai hari ini, dia masih menganggap aku putri kecilnya yang butuh kasih sayang dan bantu aku memenuhi semua kebutuhan rumah tanggaku.

Aku sangat bersyukur dilahirkan menjadi seorang wanita.  Sehingga aku bisa merasakan bagaimana kasih sayang dan perjuangan seorang ibu untuk anaknya.  Aku juga sangat bersyukur bahwa Tuhan memberikanku seorang anak perempuan, sehingga aku dapat mengajarkan bagaimana seorang wanita seharusnya bersikap di setiap masa hidupnya.

Walaupun perjuanganku sebagai seorang ibu baru saja dimulai, aku percaya Tuhan yang sudah memercayakannya kepadaku, akan memperlengkapi aku dengan berbagai macam hikmat, kesabaran, kelemahlembutan, dan kasih sayang yang berlimpah untuk si cantik Jesslyn.

22.6.12

Baca Spec-nya dong, Mba...


Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
Yeremia 29:11


Saya bekerja di sebuah perusahaan manufaktur yang membuat sarung tangan olahrga, di bagian pre-production.  Tugas saya adalah mengatur semua development sample process yang sudah di-approve oleh buyer kami untuk produksi massal dan membuatkan lembar spesifikasi untuk masing-masing model sarung tangan tersebut.  Dalam lembar spec tersebut, dicantumkan seperti apa desainnya, bagaimana cara menjahitnya, material/ bahan apa saja yang diperlukan, hingga bagaimana cara packing nya sampai barang tersebut dikirim sampai ke tangan buyer kami.  Tentu saja lembar spesifikasi tersebut yang menjadi panduan untuk bagian produksi menjahit sarung tangan tersebut dengan benar. 
Namun seringkali kami menemukan beberapa kesalahan yang terjadi di lapangan dan tidak sesuai dengan spec yang telah kami buat.  Sering juga kami menjumpai beberapa orang dari bagian produksi bertanya kepada kami jika mereka menemukan kesulitan dan kebingungan tentang cara menjahit suatu model tertentu. 
Kami sebenarnya dengan senang hati akan membantu mereka, namun seringkali kami menjadi kesal karena sebenarnya pertanyaan yang mereka ajukan atau kesalahan yang terjadi di produksi disebabkan karena mereka tidak membaca spec yang kami buat.  Mereka hanya melihat contoh sarung tangannya dan langsung mengerjakannya.  Atau mereka hanya membaca setelah terjadi kesalahan.  Sehingga beberapa orang dari tim kami sering sekali melontarkan perkataan ini: “Makanya, spec nya dibaca dong, Mba..”.
Seringkali sudah menjadi sebuah kebiasaan bahwa kita juga seringkali memakai cara kita sendiri untuk menjalani kehidupan ini.  Kita merasa kita tau banyak hal dan hanya kitalah yang benar-benar mengerti tentang diri kita.  Padahal Tuhan sudah menyiapkan sebuah panduan dan rencana yang terbaik tentang bagaimana cara kita menjalani kehidupan kita.  Dia yang mengerti masa depan kita, dan Dia pula yang telah merancangkan bagaimana kehidupan kita berjalan, sejak kita ada di dalam kandungan.  Seringkali tanpa sadar kita lupa membaca “spec”-nya Tuhan, yang sudah disiapkan untuk kita.  Sehingga banyak kali kita menemukan kegagalan dalam hidup yang seharusnya tidak perlu terjadi, karena Tuhan tidak pernah merancangkan hal yang buruk terjadi dalam hidup kita.
Hari ini kita diingatkan Tuhan lagi untuk kembali pada “spec” yang sudah Tuhan buat untuk kita.  Sudahkah kita membaca “spec”-Nya dan melakukannya dalam kehidupan kita

TARUHLAH RENCANA TERBAIKMU DALAM TANGAN TUHAN, KARENA MUNGKIN TUHAN PUNYA YANG LEBIH BAIK DARI RENCANAMU.


UNTUK DIRENUNGKAN: MAZMUR 139:1-16
- Bagaimana Tuhan merancang kehidupan kita?
- Bagaimana cara kita menemukan tujuan dan rancangan spesifik yang sudah Tuhan tetapkan untuk kita dan bagaimana cara kita memahami dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari?

26.3.12

Follow your heart vs. LEAD your heart

Dunia menganjurkan untuk mengikuti hati Anda, tetapi jika Anda tidak mengarahkannya, maka seseorang atau sesuatu yang lain yang akan melakukannya.  Alkitab mengatakan bahwa, "Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu" (Yeremia 17:9), dan hati akan selalu mengejar apa yang terasa benar saat itu.
Kami menantang Anda untuk berpikir dengan cara yang berbeda-- memilih untuk memimpin hati Anda ke arah yang terbaik pada akhirnya.  Inilah kunci untuk hubungan yang langgeng dan memuaskan.
-The Love Dare, Stephen & Alex Kendrick-

Seringkali kita mendengar beberapa nasihat dari orang-orang yang kita anggap "bijak" untuk mengikuti apa kata hati kita atas setiap permasalahan yang kita hadapi.  "Ikuti saja apa kata hatimu.  Dia pasti benar."  Sepertinya kalimat tersebut cukup bijak dan cukup benar.  Hati kecil kita tau apa yang benar dan yang salah.  Memang, sekilas terkesan benar, namun ini tidak sepenuhnya benar.

Masalahnya, ke mana selama ini kita mengarahkan hati kita?  Kepada apa kata dunia?  Atau kepada apa kata Tuhan?  Hati kita bisa kita ibaratkan seperti pohon.  Jika selama ini kita menanamkan input-input yang negatif dalam hidup kita, maka yang keluar adalah buah-buah yang negatif pula.  Sama seperti otak.  Jika pikiran yang kita terima dan kita tinggal dalam lingkungan yang negatif, jangan heran bahwa yang keluar hanyalah tindakan-tindakan yang negatif, pesimis, dan mudah memiliki prasangka buruk terhadap segala sesuatu.

Manakah yang lebih hebat dan kuat?  Anjing putih atau anjing hitam?  Jawabannya adalah siapa yang lebih banyak diberi asupan makanan yang bernutrisi.  Jika selama ini hati kita hanya diisi dengan input-input yang negatif, maka suara hati kita (yang semula cenderung mengenal apa yang benar dan salah) akan menjadi kebal dan tidak lagi berpegang pada kebenaran.

Apa yang selama ini kita masukkan ke dalam hati nurani kita?  Hati-hatilah dengan itu.  Karena tanpa sadar, jika kita hanya mengikuti ke mana hati kita melangkah, kita akan menemukan suatu ketika bahwa kita telah berjalan kepada jalan yang salah.  Pimpinlah hatimu ke arah mana dia seharusnya pergi.  Jagalah hati nuranimu, karena dari situlah Tuhan berbicara tentang apa yang ingin Ia katakan dan Ia ingin kita lakukan dalam kehidupan kita.

21.1.12

Si Bodoh Tommy yang Mengejutkan Dunia


“Sebab katanya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.”  Markus 5:28

Suatu hari seorang ibu bernama Nancy Mathew Edison menerima secarik surat dari sekolah anaknya yang mengatakan bahwa anaknya yang tuli dan bodoh dikeluarkan dari sekolah karena tidak dapat mengikuti pelajaran.  Membaca tulisan itu, sang Ibu sangat marah dan bertekad untuk mengajari sendiri anaknya berbagai macam pelajaran di rumah.  Selama beberapa tahun ia lewati untuk mengajari anaknya.  Tidak mudah memang, namun sang Ibu terus berusaha dan tidak pernah menyerah.  Belasan tahun kemudian, sang anak bertumbuh dewasa dan mulai tertarik melakukan penelitian.  Seringkali penelitiannya gagal, namun setelah beribu kali mencoba, akhirnya ia berhasil menciptakan sebuah penemuan yang diakui dunia.  Betapa tidak, Thomas Alfa Edison, nama anak itu, adalah seorang penemu pertama lampu yang kita gunakan saat ini.  Bayangkan, jika di tengah jalan sang Ibu merasa kelelahan dan menyerah untuk mengajar Tommy yang bodoh, tidak akan ada Thomas Alfa Edison yang menciptakan sebuah penemuan besar.
Beribu-ribu tahun yang lalu, seorang perempuan telah mengalami sakit pendarahan selama dua belas tahun lamanya.  Dua belas tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk tetap bisa tahan dan berjuang dengan penyakit tersebut.  Sepertinya tidak ada lagi harapan untuk sembuh.  Berbagai tabib dan pengobatan sudah dijalani.  Tak ada lagi yang dapat dilakukan selain pilihan untuk menyerah.  Namun tidak begitu dengan perempuan ini.  Ia menaruh harapannya pada Yesus dan beriman untuk sembuh.  Imannya menyembuhkannya.  Mujizat terjadi.
Sahabat, seringkali kita merasa lelah untuk berharap ketika setelah sekian lama doa-doa kita belum terjawab.  Namun mujizat terjadi saat kita masih berharap bahkan ketika sepertinya semua jalan sudah tertutup.  Terkadang Tuhan sengaja membawa kita pada suatu keadaan yang kelihatannya tidak mungkin, dengan tujuan memperkuat iman kita bahwa kita hanya dapat menggantungkan harapan kita padaNya.  Ia ingin masalah tidak membuat kita menyerah, apapun keadaannya.  Karena kita tidak pernah tahu bahwa keputusan kita untuk berharap (sekali lagi) adalah ujian terakhir kita supaya mujizat Tuhan terjadi dan janjiNya dipenuhi dalam hidup kita

MUJIZAT TERJADI SAAT KITA MASIH BERHARAP

Testimoni Palsu


“… dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kisah Rasul 1:8b

Seorang teman terus membujuk saya untuk membeli sebotol obat dan suplemen kesehatan yang ia jual secara MLM (multi level marketing).  Menurutnya, obat tersebut berkhasiat dan meningkatkan stamina, daya tahan tubuh, dan menjaga kesehatan.  Ia seringkali menceritakan pengalaman berbagai orang yang telah mencobanya.  Saya nampaknya kurang tertarik karena sudah cocok dengan suplemen kesehatan yang saya gunakan, lagipula harganya tidak murah dan cukup menguras uang bulanan saya. Saya telah menolak dengan berbagai alasan.  Namun, karena terus menerus dibujuk setiap hari, saya agak jengkel juga.  Yang menjengkelkan saya adalah ceritanya tentang berbagai tesmoni orang-orang yang telah menggunakannya terkesan dibuat-buat dan agaknya tidak masuk akal saya.  Akhirnya saya tanya, bagaimana dengan pengalamannya sendiri?  Apakah ia telah merasakan khasiat seperti yang selama ia ceritakan tentang orang lain.  Ditanya begitu, ia nampaknya gelagapan dan berkata bahwa ia baru akan membelinya bulan depan setelah gajian.  Saya tertawa.  Bagaimana ia bisa memasarkan suatu produk yang sebenarnya belum pernah ia rasakan atau alami sendiri keunggulannya?
Tapi seringkali kita juga begitu.  Seringkali kita terlihat aktif mengikuti berbagai pelayanan dan bersaksi mengenai kehidupan kita kepada orang lain.  Tak jarang kita sedikit melebih-lebihkan kesaksian kita untuk mendapat penghargaan di mata mereka.  Kita berusaha membangun image rohani baik di dalam maupun di luar gereja.  Namun apakah kehidupan kita sehari-hari yang sebenarnya menjadi kesaksian yang sebenarnya bagi orang lain, terutama yang belum mengenal Tuhan?  Bagaimana saat kita menghadapi masalah?  Bagaimana saat kita ada dalam kondisi tertekan?  Apakah hidup kita tetap memancarkan sebuah testimoni yang baik tentang pekerjaan Tuhan dalam hidup kita bagi orang lain?
Untuk menjadi saksi bagi Kristus, pertama-tama kita harus mengalami Kristus secara pribadi dalam hidup kita.  Ada sebuah pengalaman pribadi yang kita alami bersama Tuhan.  Kekristenan selalu berbicara tentang hubungan.  Ada waktu yang diluangkan, ada komunikasi yang dibangun, ada karakter yang diubah, ada proses yang dibentuk sampai kesempurnaan seperti Kristus terjadi.  Sahabat, bagaimana pengalaman pribadimu dengan Kristus hari-hari ini?

UNTUK MENJADI SAKSI KRISTUS, KITA PERLU MENGALAMI KRISTUS SECARA PRIBADI

24.12.11

Religious Fashion Show

Now Jesus turned to address his disciples, along with the crowd that had gathered with them.  “The religion scholars and Pharisees are competent teachers in God’s Law.  You won’t go wrong in following their teachings on Moses.  But be careful about following them.  They talk a good line, but they don’t live it.  They don’t take it into their hearts and live it out in their behavior.  It’s all spit-and-polish veneer.

Instead of giving you God’s Law as food and drink by which you can banquet on God, they package it in bundles of rules, loading you down like pack animals.  They seem to take pleasure in watching you stagger under these loads, and wouldn’t think of lifting a finger to help.  Their lives are perpetual fashion shows, embroidered prayer shawls one day and flowery prayers the next.  They love to sit at the head table at church dinners, basking in the most prominent positions, preening in the radiance of public flattery, receiving honorary degrees, and getting called ‘Doctor’ and ‘Reverend’.  

Don’t let people do that to you, put you on a pedestal like that.  You all have a single Teacher, and you are all classmates.  Don’t set people up as experts over your life, letting them tell you what to do.  Save the authority for God, let him tell you what to do.  No one else should carry the title of ‘Father’, you heaven only one Father, and he’s in heaven.  And don’t let people maneuver you into taking charge of them.  There is only one Life-Leader for you and them – Christ.  

Do you want to stand out?  Then step down.  Be a servant.  If you puff yourself up, you’ll get the wind knocked out of you.  But if you’re content to simply be yourself, your life will count for plenty.
Mathew 23:1-12 The Message

Saya rasa ayat ini bukan hanya berlaku untuk para pendeta, ahli teologi agama, atau bahkan siswa siswi STT saja.  Ayat ini juga berlaku untuk kita para pelayan Tuhan yang sering kali berkutat di dunia “rohani”, dalam pelayanan di lingkup gereja.

Seringkali secara tidak sadar, posisi dan jabatan kita dalam pelayanan di gereja membuat status sosial kita “naik”, menjadi lebih “tinggi” dari jemaat yang sekedar datang hari Minggu untuk beribadah.  Seolah-olah kita tampak lebih “suci” dan “hebat” dalam soal kerohanian daripada mereka.  Tentu saja kita lebih banyak menghabiskan waktu di gereja dalam pelayanan kita, belum ditambah kelas khusus untuk melengkapi para pelayan dengan firman Tuhan, persekutuan-persekutuan “wajib” bagi para pelayan, pertemuan-pertemuan doa, dan juga mungkin menghadiri lebih dari 1 kali kebaktian karena kita melayani beberapa kebaktian sekaligus.  Itu membuat kita, secara pengetahuan, akan mendapatkan lebih banyak porsi daripada jemaat.

Secara tidak sadar, kita membuat jati diri yang salah di hadapan manusia.  Di gereja, orang selalu mengenal kita baik, luar biasa, pelayanan yang berapi-api, punya hubungan yang intim dengan Tuhan.  Kita selalu terlihat dan tampak “suci” dan seakan tak pernah melakukan kesalahan dan dosa.  Namun, bagaimana kehidupan kita di luar gereja?  Bagaimana kehidupan kita sehari-hari?  Apakah integritas dan nilai-nilai yang selalu kita bicarakan di dalam gereja benar-benar ada dan tertanam dan kita lakukan dalam kehidupan kita?

Dengan level kita yang tadi kita katakan “lebih tinggi” dari jemaat, masihkah kita ada di level berjuang untuk tidak melakukan dosa?  Masihkah kita ada di level berjuang untuk melakukan saat teduh kita setiap pagi?  Masihkah kita ada di level berjuang untuk mengampuni orang lain?  Jika kita memang sudah “lebih tinggi” dari mereka, seharusnya kita sudah tidak ada lagi di level itu.  Tidak perlu lagi sesi pengampunan dosa dan pemulihan luka batin karena kekecewaan.

Secara tidak sadar, kita telah menjadi orang Farisi di gereja.  Tahu dan mengerti semua hal, namun tidak menghidupi kebenaran dalam kehidupan sehari-hari.  Itu semua sia-sia, dan The Message menyebutkan bahwa itu semua hanya sebuah fashion show, memamerkan dan memakai segala sesuatu yang baik dari kehidupan kita, namun melepaskan dan meletakkannya kembali setelah fashion show tersebut berakhir, kemudian kembali memakai pakaian lama kita setelahnya.  Ketika kita memasuki “dunia rohani” kita, seringkali kita mengambil “baju terbaik” kita, dan menyembunyikan baju sehari-hari kita, jangan sampai mereka melihatnya, namun setelah “keluar” dari sana, kita kembali melepaskan baju terbaik tersebut dan kembali dengan kenyamanan “pakaian” lama kita setelah keluar dari gereja.

Ketika ada orang lain yang bertanya dan konseling kepada kita, kita dapat melontarkan berbagai macam ayat untuk menjawab setiap pertanyaan mereka.  Bahkan jika perlu “menyuruh” mereka berbuat ini dan itu seperti yang ditulis di Alkitab.  Seakan-akan kita menjadi lebih “tinggi” dari kita.  Ketika kita melakukan kesalahan, kita berusaha menutupinya dari orang-orang di lingkungan kerja sehingga mereka tidak tahu bagaimana sebenarnya kehidupan kita. 

Saudara, jika kita boleh mengenal dan mengerti tentang keselamatan dan kebenaran, itu hanyalah sebuah anugrah yang luar biasa, dan tidak semua orang mendapatkan anugrah itu.  Itu bukan hasil kekuatan kita, namun hanyalah benar-benar sebuah anugrah.  Jika saat ini kita telah mengenal kebenaran, kita harus belajar untuk menghidupi kebenaran itu dalam keseharian kita.  Janganlah menjadi orang Farisi yang ada di dalam bait Allah.

11.11.11

Ganti Status


Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.
1 Petrus 2:9

Pernahkah kita membayangkan bahwa pada suatu hari seorang raja datang bertamu ke rumah kita dan mengungkapkan bahwa kita sebenarnya adalah anak kandungnya yang telah terpisah sekian tahun lamanya.  Sejak saat itu kita diberikan hak khusus untuk memasuki istana, duduk makan semeja dengan raja, dikawal saat pergi ke tempat umum, dan hak istimewa lain sebagainya.
Kehidupan kita saat itu pasti langsung berubah drastis, dari yang semula biasa-biasa saja menjadi terkenal dan disegani orang banyak.  Bukan itu saja, kehidupan ekonomi kita akan berubah, gaya hidup dan penampilan kita juga akan “naik kelas”.
Kita patut bersyukur bahwa kehidupan kita telah berubah karena kita terlebih lagi diangkat menjadi anak Raja atas dunia ini.  Kita telah menerima kasih karunia yang besar dari Allah.  Namun banyak orang Kristen seringkali lupa dan tidak menyadari kasih karunia ini sehingga mereka menggunakan hidupnya dengan sembarangan.  Itulah yang membuat mereka masih hidup dengan kehidupannya yang lama dan hidup bagi diri mereka sendiri.
Jika kita menyadari bahwa Allah telah memberikan hak istimewanya sebagai untuk kita, seharusnya kita bersikap dan berperilaku sebagaimana kita seharusnya.  Kasih karunia yang Tuhan berikan akan mengubah kehidupan kita.  Akan ada hal-hal dan kebiasaan hidup lama yang ditinggalkan, dan digantikan dengan kebiasaan yang baru.  Kita juga mendapat hak istimewa sebagai anggota kerajaan Sorga dan sebagai seorang anak Raja segala Raja.  Ketika kita mengerti hal ini, kita seharusnya tak perlu lagi kuatir akan segala permasalahan hidup dan masa depan.  Dan hidup kita pun penuh dengan kasih yang telah Allah curahkan atas hidup kita untuk memberkati setiap orang yang belum mengenal kebenaran.  Sudahkah kita menyadari “status” kita di dalam Tuhan dan memakai hak istimewa yang Allah berikan untuk memberkati sekeliling kita?

STATUS YANG ALLAH BERIKAN BUKAN HANYA SEKEDAR STATUS, TAPI SUPAYA KITA BERLAKU SESUAI DENGAN STATUS TERSEBUT.

9.11.11

Patung Marmer atau Lantai Marmer?


Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia. Yakobus 1: 12

Saya pernah berjalan-jalan dan memasuki sebuah mall mewah di Jakarta.  Terlihat dari interiornya yang mewah dan terdapat beberapa patung marmer yang indah yang dipajang di dalamnya.  Saya sempat mendekati sebuah patung marmer yang dipamerkan di sana dan mengaguminya dari dekat.  Juga ada beberapa pengunjung lain yang melihat bersama saya.  Ketika saya selintas melihat ke lantai, saya menyadari bahwa lantai mall tersebut juga terbuat dari marmer.  Namun, tak ada seorang pengunjung pun yang mengagumi keindahan si lantai marmer.  Kalau lantai tersebut bisa bicara, mungkin dia akan protes kepada si patung, betapa irinya si lantai bahwa tidak ada seorang pun yang mengagumi keindahan si lantai marmer, hanya diinjak-injak orang dan tidak berharga sama sekali.

Saya berpikir, mungkin si lantai dan patung tersebut berasal dari gua yang sama, namun kualitas dan nilai jual mereka menjadi berbeda karena proses yang dilakukan terhadap marmer tersebut juga berbeda.  Tentu saja proses pembuatan lantai lebih mudah dari proses pembuatan patung yang harus dipahat dengan seorang ahli pahat yang professional. 

Begitu juga dengan hidup kita.  karakter yang ada dalam hidup kita saat ini dipengaruhi oleh bagaimana kita menerima proses pembentukan karakter kita selama ini.  karakter tidak muncul dalam satu hari, ia muncul dari kebiasaan-kebiasaan yang menjadi gaya hidup kita sehari-hari.

Visi Tuhan dalam hidup kita adalah menjadikan kita SERUPA dan SEGAMBAR dengan karakter Allah.  Dan Tuhan memberikan proses pembelajaran seumur hidup untuk karakter kita SAMA seperti karakterNya.  Namun respon kita terhadap setiap proses tersebutlah yang akan sangat memengaruhi karakter dan kehidupan kita.  Proses memang menyakitkan, tapi ketika kita taat dan tekun dalam proses tersebut, kita akan memiliki karakter yang unggul seperti yang Kristus telah rancangkan atas hidup kita.  Sekarang tinggal pilih, mau jadi lantai marmer yang hanya diinjak-injak orang atau menjadi patung marmer yang keindahannya dikagumi semua orang? :)

13.9.11

Hubungan Terasa Hambar, Jenuh, Flat....? Then u must read this!


repost dari kaskus: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=10094017



mungkin temen² disini banyak yang sering seperti ini:
• Hubungan gue udah ga seharmonis dulu
• Ane mulai jenuh gan dengan pacar ane
• Gimana caranya supaya hubungan ga ngebosenin?
• [Ask] hubungan terasa hambar, pertahankan atau sudahi?


sebelum ke intinya,
ane mau cerita tentang pengalaman ane.

ane mulai pacaran pas kelas 3SMA. tahun ini ane jalan anniversary ke 4.
bulan² pertama, ane mesra nya minta ampun. di sekolah ketemu, ke kantin bareng... pokoknya bener² ky penganten baru deh.

lulus SMA. masuk ke univ yang berlainan.
awal² kuliah, masi beradaptasi dengan kesibukan perkuliahan yang jauh dibanding SMA.
otomatis frekuensi ketemu jadi berkurang. dan kebetulan ane ngekost, seminggu sekali pulang.
di kampus ane banyak cewe yang bisa dibilang seger² ky cendol...
begitu juga dengan pacar ane di kampusnya (ane tau lah secara univ terkenal gitu).

dan pada saat itu lah kita berdua merasa jenuh dengan hubungan kita.
ane merasa jenuh, begitu juga dengan pacar ane.

alasan fundamentalnya apa?
1. jarang ketemu
2. yaa ada lah saat² dimana ane tebar pesona... tapi ga tau dengan pacar ane tebar pesona juga ga...

tapi kok bisa bertahan sampe sekarang?
itu dia gan... ada suatu mind setting yang terpatri di pikiran ane.

mau tau apa yang terpatri di pikiran ane? makanya baca terus sampe abis..

sangat sederhana gan.

ane saat itu berpikiran bahwa:
ane mau konsisten dengan alasan ane jadian. yaitu untuk diseriusin.
ane ga mau pacaran dibuat 'Have Fun'
karena ane beranggapan: Pacaran itu Simulasi Hidup Berumah Tangga

terkait dengan cerita ane:
jadi ane memutuskan untuk berhenti berpikiran bahwa hubungan ane udah ga harmonis.
ane berusaha untuk setia, sayangi dia, tunjukkan rasa sayang itu, dan apa reaksi pacar ane?
dia juga berhenti berpikiran kalau hubungan kita udah terasa hambar.

in other words...
pacaran itu latian kesetiaan kita sebelum membina rumah tangga.
pacaran itu latian mengatasi konflik interpersonal dan intrapersonal.

jadi, kalau kita belum bisa mengatasi konflik dalam diri sendiri atau konflik dengan orang lain, jangan harap rumah tangga bisa bertahan lama.
jadi, kalau kita belum bisa setia dengan pacar, jangan harap rumah tangga bisa bertahan lama.

dan jadi...
kalau kita masih menjadi Pengecut yang tidak berani dan tidak bisa mengatasi masalah dengan pacar kita dan masih seenaknya bilang "Eloh... Gueh... End..."
jangan harap rumah tangga bisa bahagia.

jangan membiasakan suatu kebiasaan buruk.

kenapa ane bisa berpikiran seperti itu?
ini bukan suatu hal yang spontan lahir dari penalaran ane sendiri gan.

jadi, waktu itu ane sekolah ada pelajaran Sosiologi. dikasi tugas disuru cari berita tentang hubungan keluarga dan permasalahannya
ane cari lah di tabloid² nyokap ane. ane pilih berita tentang artis yang baru menikah, besoknya cerai.

dan ane menarik kesimpulan dari tugas ane itu:
"kalau belum bisa setia, jangan harap pernikahan bisa langgeng"

dan hal itu terus terpatri di benak ane.

lo sekarang gonta ganti pacar oke itu hak lo sebagai anak muda yang masi Have Fun.
tapi apa lo ga malu kalo nanti lo gonta ganti suami/istri?

seringkali kejadian seseorang diduai atau menduai pasangannya entah disengaja atau tidak.

disengaja, misalnya, memang pengen ganti² pacar.

tanpa disengaja, misalnya, merasa nyaman dengan orang lain karena sering cerita, curhat, minta pendapat, eh akhirnya demen...
sering lho ane ketemu kasus begini. ga usah jauh². di H2H sini juga banyak kasus bgitu
dan ane terus ikutin perkembangan kasus seperti itu, ternyata ujung²nya:
"Elooh... Gueh... End~"

itu semua bisa terjadi karena (salah satu alasannya) jenuh dengan pacar. betul ga? betul dong...
dan semua itu juga bisa terjadi karena kita selalu mikir "rumput tetangga lebih hijau"

tapi balik lagi aja deh agan² dan sista² semua... ane tetep memiliki mind-set
kalau ga bisa setia sama satu orang, ya ga usah merit
yaa... walaupun ane tau anak muda jaman sekarang masi Have Fun dan selalu mikir "ah gue merit masih lama..."

tapi inget gan n sist... yang namanya kebiasaan yang dianggap Enak itu sulit diubah. sulit dihilangkan.
contoh konkret aja deh. orang kebiasaan merokok, sulit untuk berhenti.
niat buat berhenti sih ada. tapi begitu ngeliat warung dikid aja langsung deh "bang... keteng 3"
ga jadi berhenti deh... tiba² mampus aja...

sama aja... kebiasaan 'hinggap' sana sini juga susah hilang...
apalagi kalau udah ketemu yang dianggep wuidiiih... ganteng... cantik... sexy...


Lalu bagaimana supaya Kita bisa berpikir dan meng-set mind kita seperti demikian?
dengan harapan kita tidak akan pernah merasakan kehambaran dalam hubungan.

ane ga akan bilang "makanya berpikiran seperti ane diatas".
pemikiran orang bisa beda². cara orang pun berbeda satu sama lain.
so.. ane cuma bisa kasi tips hal² apa saja yang bisa dengan mudah semua orang bisa lakukan.
jadi tips ini bersifat eksak. bukan abstrak. dan bersifat universal. bukan partikular.

1. Let it Flow... biarkan hubungan mu berjalan dengan apa adanya.
jangan menambahi aturan² yang tidak penting yang hanya membuat kamu/pasangan kamu merasa tidak nyaman.
akhirnya kamu jadi termakan oleh aturan kamu sendiri.
contohnya...
1. BBM harus cepat dibalas.
2. telponan 3x 1jam sehari
3. sebelum pergi, laporan dulu pergi kemana, sama siapa, pulang jam berapa.
4. dll

2. Ingat lah... bagaimana perasaan kamu saat kamu mengutarakan cinta kamu.
atau bagaimana perasaan kamu saat kamu menerima cinta dari pacar kamu.
senang dan berbunga² kan?
jangan jadi penebang pohon yang kamu tanam sendiri.
jangan menghancurkan perasaan yang kamu munculkan sendiri.
KECUALI kamu memang tidak beda dengan hewan yang suka kimpoi sana sini.

3. Komunikasi itu BUKAN hal terpenting dalam pacaran.
pasti sering denger: "pacaran yang penting adalah kepercayaan dan komunikasi"
tapi yang terpenting bukan itu. melainkan Kedewasaan.
bersikaplah dewasa. kamu bukan anak kecil yang maunya diajak main terus kan?
tunjukkan rasa sayang kamu dengan cara yang dewasa.

bokap ane dokter. kadang suka tugas piket di UGD. pergi malam, pulang pagi.
tapi nyokap ane ga pernah nyariin. tiap kali bokap mau pergi, nyokap ane cuma sediain kotak makan, baju ganti, sama kopi 1termos kecil. taro di tas, tasnya taro di mobil. slesai.
bokap kalo mao pergi cuma bilang "ma... pergi ya. kunci pintu."
nyokap jawab "ya... ati²."
udah. ga ada embel² apa² lagi.
ga ada tuh bilang "jangan lupa BBM yah... kalo lagi nganggur telpon..."
atau "nanti papih BBM dibales yang cepet ya..."

semakin sering berkomunikasi, semakin besar peluang suatu Konflik Muncul dalam komunikasi itu

4. Do not make any excuses to fulfill your selfishness.
Alasan dibuat untuk mendukung argumen yang bertanggung jawab.

"aku minta putus abisnya udah bosen sama hubungan kita..."
itu bukan argumen. tapi itu keegoisan.

instead of:

"hubungan kita membosankan karena kamu sama sekali ga perhatian lagi sama aku. gimana supaya tetep bisa bertahan nih?"
itu adalah alasan yang mendukung argumen. argumen yang baik adalah argumen yang bertanggung jawab.
argumen yang bertanggung jawab adalah argumen yang tidak 'lepas tangan'
melainkan mempertahankan status quo hingga mendapatkan solusi.

5. Bicarakan Masalah secara Dewasa.
berargumen lah yang logis dan dapat dipertanggungjawabkan.
Bicaralah sesuai dengan permasalahan. jangan memunculkan masalah baru dalam pembicaraan itu.
Masalah muncul untuk dibicarakan dan diselesaikan.
BUKAN untuk dipendam, dikembangkan, dan kemudian dijadikan alasan penyebab kehambaran
terlebih dijadikan alasan untuk menyudahi hubungan.

6. Jangan sekali-kali mengatur hidup orang lain sekalipun itu pacar kamu.
kamu belum menjadi siapa-siapa.
jadi... jangan cari masalah yang kamu sendiri tidak inginkan

7. Biarkan pacar kamu menjalani rutinitas dan kepentingannya sehari-hari tanpa gangguan.
dia bukan Baby Sitter kamu yang harus 24jam stand by buat kamu,
kamu juga bukan Baby yang setiap saat ingin selalu ditemani, diajak main, digantiin diapers nya.
KECUALI kalau kamu memang mau dianggap seperti itu.

kalo ada tambahan dari agan², silahkan.

seperti biasa, sebelum mengakhiri thread ini ane ingin berbagi sebuat Quote sederhana:
"Love is Beautiful. but Love in Family, is not as beautiful as Mona Lisa"

25.8.11

Tetap Memikul Beban


“sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai.”
2 Tesalonika 2:13b

Seorang bapak kuli bangunan sedang berjalan mengangkut batu kali untuk dijadikan fondasi sebuah bangunan yang terletak sekitar beberapa kilometer dari kali tersebut.  Kemudian lewatlah sebuah mobil pengangkut brangkal yang kosong dalam perjalanan si bapak tersebut.  Melihat beratnya beban batu yang harus dipikulnya, sang supir menawarkan tumpangan kepada bapak tersebut untuk naik di atas mobil bak terbuka yang ia kemudikan.  Si bapak setuju, lalu kemudian menaiki mobil tersebut hingga sampai tempat kerjanya.
Ketika sampai di tempat kerja si bapak, sang supir kaget ketika melihat bapak tersebut tetap memanggul batunya di atas mobil baknya sepanjang perjalanan.  Pikirnya, lalu apa gunanya dia menawarkan tumpangan dengan maksud meringankan beban si bapak kuli tersebut?
Banyak orang Kristen yang telah mengenal Tuhan juga seperti bapak tadi.  Keselamatan itu telah diberikan kepada kita, orang-orang yang telah dipilihNya sejak semula.  Kebebasan atas dosa dan kehidupan masa lalu telah diberikan kepada kita.  Kita adalah orang-orang yang merdeka.  Namun seberapa sering kita tetap memanggul beban kekecewaan akan masa lalu dan kekuatiran kita akan masa depan kita?  Hal-hal tersebut membuat kita tidak dapat menikmati kasih dan membagikan kasih Allah kepada orang lain.  Betapa seharusnya kita bersyukur karena kita adalah orang-orang terpilih, tidak semua orang menerima anugrah ini.  Bagaimana cara kita mensyukurinya?  Mari hidup dalam kasih karunia yang telah Allah berikan pada kita, serta membagikan kasih itu kepada orang lain di sekeliling kita.
Kita telah menerima anugrah keselamatan secara Cuma-Cuma.  Maukah kita juga membagikannya kepada orang lain dengan Cuma-Cuma tanpa mengharapkan perlakuan balik dari orang lain?

TUHAN MEMBERIKAN KITA KEBEBASAN DAN KESELAMATAN SUPAYA KITA DAPAT MEMBAGIKAN KASIH ALLAH KEPADA ORANG LAIN.