Dunia menganjurkan untuk mengikuti hati Anda, tetapi jika Anda tidak mengarahkannya, maka seseorang atau sesuatu yang lain yang akan melakukannya. Alkitab mengatakan bahwa, "Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu" (Yeremia 17:9), dan hati akan selalu mengejar apa yang terasa benar saat itu.
Kami menantang Anda untuk berpikir dengan cara yang berbeda-- memilih untuk memimpin hati Anda ke arah yang terbaik pada akhirnya. Inilah kunci untuk hubungan yang langgeng dan memuaskan.
-The Love Dare, Stephen & Alex Kendrick-
Seringkali kita mendengar beberapa nasihat dari orang-orang yang kita anggap "bijak" untuk mengikuti apa kata hati kita atas setiap permasalahan yang kita hadapi. "Ikuti saja apa kata hatimu. Dia pasti benar." Sepertinya kalimat tersebut cukup bijak dan cukup benar. Hati kecil kita tau apa yang benar dan yang salah. Memang, sekilas terkesan benar, namun ini tidak sepenuhnya benar.
Masalahnya, ke mana selama ini kita mengarahkan hati kita? Kepada apa kata dunia? Atau kepada apa kata Tuhan? Hati kita bisa kita ibaratkan seperti pohon. Jika selama ini kita menanamkan input-input yang negatif dalam hidup kita, maka yang keluar adalah buah-buah yang negatif pula. Sama seperti otak. Jika pikiran yang kita terima dan kita tinggal dalam lingkungan yang negatif, jangan heran bahwa yang keluar hanyalah tindakan-tindakan yang negatif, pesimis, dan mudah memiliki prasangka buruk terhadap segala sesuatu.
Manakah yang lebih hebat dan kuat? Anjing putih atau anjing hitam? Jawabannya adalah siapa yang lebih banyak diberi asupan makanan yang bernutrisi. Jika selama ini hati kita hanya diisi dengan input-input yang negatif, maka suara hati kita (yang semula cenderung mengenal apa yang benar dan salah) akan menjadi kebal dan tidak lagi berpegang pada kebenaran.
Apa yang selama ini kita masukkan ke dalam hati nurani kita? Hati-hatilah dengan itu. Karena tanpa sadar, jika kita hanya mengikuti ke mana hati kita melangkah, kita akan menemukan suatu ketika bahwa kita telah berjalan kepada jalan yang salah. Pimpinlah hatimu ke arah mana dia seharusnya pergi. Jagalah hati nuranimu, karena dari situlah Tuhan berbicara tentang apa yang ingin Ia katakan dan Ia ingin kita lakukan dalam kehidupan kita.
Search
26.3.12
21.1.12
Si Bodoh Tommy yang Mengejutkan Dunia
“Sebab
katanya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Markus 5:28
Suatu hari
seorang ibu bernama Nancy Mathew Edison menerima secarik surat dari sekolah
anaknya yang mengatakan bahwa anaknya yang tuli dan bodoh dikeluarkan dari
sekolah karena tidak dapat mengikuti pelajaran.
Membaca tulisan itu, sang Ibu sangat marah dan bertekad untuk mengajari
sendiri anaknya berbagai macam pelajaran di rumah. Selama beberapa tahun ia lewati untuk
mengajari anaknya. Tidak mudah memang,
namun sang Ibu terus berusaha dan tidak pernah menyerah. Belasan tahun kemudian, sang anak bertumbuh
dewasa dan mulai tertarik melakukan penelitian.
Seringkali penelitiannya gagal, namun setelah beribu kali mencoba,
akhirnya ia berhasil menciptakan sebuah penemuan yang diakui dunia. Betapa tidak, Thomas Alfa Edison, nama anak
itu, adalah seorang penemu pertama lampu yang kita gunakan saat ini. Bayangkan, jika di tengah jalan sang Ibu
merasa kelelahan dan menyerah untuk mengajar Tommy yang bodoh, tidak akan ada
Thomas Alfa Edison yang menciptakan sebuah penemuan besar.
Beribu-ribu
tahun yang lalu, seorang perempuan telah mengalami sakit pendarahan selama dua
belas tahun lamanya. Dua belas tahun
bukanlah waktu yang sebentar untuk tetap bisa tahan dan berjuang dengan
penyakit tersebut. Sepertinya tidak ada
lagi harapan untuk sembuh. Berbagai
tabib dan pengobatan sudah dijalani. Tak
ada lagi yang dapat dilakukan selain pilihan untuk menyerah. Namun tidak begitu dengan perempuan ini. Ia menaruh harapannya pada Yesus dan beriman
untuk sembuh. Imannya
menyembuhkannya. Mujizat terjadi.
Sahabat,
seringkali kita merasa lelah untuk berharap ketika setelah sekian lama doa-doa
kita belum terjawab. Namun mujizat
terjadi saat kita masih berharap bahkan ketika sepertinya semua jalan sudah
tertutup. Terkadang Tuhan sengaja
membawa kita pada suatu keadaan yang kelihatannya tidak mungkin, dengan tujuan
memperkuat iman kita bahwa kita hanya dapat menggantungkan harapan kita
padaNya. Ia ingin masalah tidak membuat
kita menyerah, apapun keadaannya. Karena
kita tidak pernah tahu bahwa keputusan kita untuk berharap (sekali lagi) adalah
ujian terakhir kita supaya mujizat Tuhan terjadi dan janjiNya dipenuhi dalam
hidup kita
MUJIZAT
TERJADI SAAT KITA MASIH BERHARAP
Testimoni Palsu
“…
dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria
dan sampai ke ujung bumi.” Kisah Rasul 1:8b
Seorang
teman terus membujuk saya untuk membeli sebotol obat dan suplemen kesehatan
yang ia jual secara MLM (multi level marketing). Menurutnya, obat tersebut berkhasiat dan
meningkatkan stamina, daya tahan tubuh, dan menjaga kesehatan. Ia seringkali menceritakan pengalaman
berbagai orang yang telah mencobanya.
Saya nampaknya kurang tertarik karena sudah cocok dengan suplemen
kesehatan yang saya gunakan, lagipula harganya tidak murah dan cukup menguras
uang bulanan saya. Saya telah menolak dengan berbagai alasan. Namun, karena terus menerus dibujuk setiap
hari, saya agak jengkel juga. Yang
menjengkelkan saya adalah ceritanya tentang berbagai tesmoni orang-orang yang
telah menggunakannya terkesan dibuat-buat dan agaknya tidak masuk akal
saya. Akhirnya saya tanya, bagaimana
dengan pengalamannya sendiri? Apakah ia
telah merasakan khasiat seperti yang selama ia ceritakan tentang orang
lain. Ditanya begitu, ia nampaknya
gelagapan dan berkata bahwa ia baru akan membelinya bulan depan setelah
gajian. Saya tertawa. Bagaimana ia bisa memasarkan suatu produk
yang sebenarnya belum pernah ia rasakan atau alami sendiri keunggulannya?
Tapi
seringkali kita juga begitu. Seringkali
kita terlihat aktif mengikuti berbagai pelayanan dan bersaksi mengenai
kehidupan kita kepada orang lain. Tak
jarang kita sedikit melebih-lebihkan kesaksian kita untuk mendapat penghargaan
di mata mereka. Kita berusaha membangun
image rohani baik di dalam maupun di luar gereja. Namun apakah kehidupan kita sehari-hari yang
sebenarnya menjadi kesaksian yang sebenarnya bagi orang lain, terutama yang
belum mengenal Tuhan? Bagaimana saat
kita menghadapi masalah? Bagaimana saat
kita ada dalam kondisi tertekan? Apakah
hidup kita tetap memancarkan sebuah testimoni yang baik tentang pekerjaan Tuhan
dalam hidup kita bagi orang lain?
Untuk
menjadi saksi bagi Kristus, pertama-tama kita harus mengalami Kristus secara
pribadi dalam hidup kita. Ada sebuah
pengalaman pribadi yang kita alami bersama Tuhan. Kekristenan selalu berbicara tentang
hubungan. Ada waktu yang diluangkan, ada
komunikasi yang dibangun, ada karakter yang diubah, ada proses yang dibentuk
sampai kesempurnaan seperti Kristus terjadi.
Sahabat, bagaimana pengalaman pribadimu dengan Kristus hari-hari ini?
UNTUK MENJADI SAKSI KRISTUS, KITA PERLU
MENGALAMI KRISTUS SECARA PRIBADI
24.12.11
Religious Fashion Show
Now Jesus turned to address his disciples, along with the
crowd that had gathered with them. “The
religion scholars and Pharisees are competent teachers in God’s Law. You won’t go wrong in following their
teachings on Moses. But be careful about
following them. They talk a good line,
but they don’t live it. They don’t take
it into their hearts and live it out in their behavior. It’s all spit-and-polish veneer.
Instead of giving you God’s Law as food and drink by which
you can banquet on God, they package it in bundles of rules, loading you down
like pack animals. They seem to take
pleasure in watching you stagger under these loads, and wouldn’t think of
lifting a finger to help. Their lives
are perpetual fashion shows, embroidered prayer shawls one day and flowery
prayers the next. They love to sit at
the head table at church dinners, basking in the most prominent positions,
preening in the radiance of public flattery, receiving honorary degrees, and
getting called ‘Doctor’ and ‘Reverend’.
Don’t let people do that to you, put you on a pedestal like
that. You all have a single Teacher, and
you are all classmates. Don’t set people
up as experts over your life, letting them tell you what to do. Save the authority for God, let him tell you
what to do. No one else should carry the
title of ‘Father’, you heaven only one Father, and he’s in heaven. And don’t let people maneuver you into taking
charge of them. There is only one
Life-Leader for you and them – Christ.
Do you want to stand out?
Then step down. Be a
servant. If you puff yourself up, you’ll
get the wind knocked out of you. But if
you’re content to simply be yourself, your life will count for plenty.
Mathew 23:1-12 The Message
Saya rasa ayat ini bukan hanya berlaku
untuk para pendeta, ahli teologi agama, atau bahkan siswa siswi STT saja. Ayat ini juga berlaku untuk kita para pelayan
Tuhan yang sering kali berkutat di dunia “rohani”, dalam pelayanan di lingkup
gereja.
Seringkali secara tidak sadar,
posisi dan jabatan kita dalam pelayanan di gereja membuat status sosial kita
“naik”, menjadi lebih “tinggi” dari jemaat yang sekedar datang hari Minggu
untuk beribadah. Seolah-olah kita tampak
lebih “suci” dan “hebat” dalam soal kerohanian daripada mereka. Tentu saja kita lebih banyak menghabiskan
waktu di gereja dalam pelayanan kita, belum ditambah kelas khusus untuk
melengkapi para pelayan dengan firman Tuhan, persekutuan-persekutuan “wajib”
bagi para pelayan, pertemuan-pertemuan doa, dan juga mungkin menghadiri lebih
dari 1 kali kebaktian karena kita melayani beberapa kebaktian sekaligus. Itu membuat kita, secara pengetahuan, akan
mendapatkan lebih banyak porsi daripada jemaat.
Secara tidak sadar, kita membuat
jati diri yang salah di hadapan manusia.
Di gereja, orang selalu mengenal kita baik, luar biasa, pelayanan yang
berapi-api, punya hubungan yang intim dengan Tuhan. Kita selalu terlihat dan tampak “suci” dan
seakan tak pernah melakukan kesalahan dan dosa.
Namun, bagaimana kehidupan kita di luar gereja? Bagaimana kehidupan kita sehari-hari? Apakah integritas dan nilai-nilai yang selalu
kita bicarakan di dalam gereja benar-benar ada dan tertanam dan kita lakukan
dalam kehidupan kita?
Dengan level kita yang tadi kita
katakan “lebih tinggi” dari jemaat, masihkah kita ada di level berjuang untuk
tidak melakukan dosa? Masihkah kita ada
di level berjuang untuk melakukan saat teduh kita setiap pagi? Masihkah kita ada di level berjuang untuk
mengampuni orang lain? Jika kita memang
sudah “lebih tinggi” dari mereka, seharusnya kita sudah tidak ada lagi di level
itu. Tidak perlu lagi sesi pengampunan
dosa dan pemulihan luka batin karena kekecewaan.
Secara tidak sadar, kita telah
menjadi orang Farisi di gereja. Tahu dan
mengerti semua hal, namun tidak menghidupi kebenaran dalam kehidupan
sehari-hari. Itu semua sia-sia, dan The
Message menyebutkan bahwa itu semua hanya sebuah fashion show, memamerkan dan
memakai segala sesuatu yang baik dari kehidupan kita, namun melepaskan dan
meletakkannya kembali setelah fashion show tersebut berakhir, kemudian kembali
memakai pakaian lama kita setelahnya.
Ketika kita memasuki “dunia rohani” kita, seringkali kita mengambil
“baju terbaik” kita, dan menyembunyikan baju sehari-hari kita, jangan sampai
mereka melihatnya, namun setelah “keluar” dari sana, kita kembali melepaskan
baju terbaik tersebut dan kembali dengan kenyamanan “pakaian” lama kita setelah
keluar dari gereja.
Ketika ada orang lain yang bertanya
dan konseling kepada kita, kita dapat melontarkan berbagai macam ayat untuk
menjawab setiap pertanyaan mereka.
Bahkan jika perlu “menyuruh” mereka berbuat ini dan itu seperti yang
ditulis di Alkitab. Seakan-akan kita
menjadi lebih “tinggi” dari kita. Ketika
kita melakukan kesalahan, kita berusaha menutupinya dari orang-orang di
lingkungan kerja sehingga mereka tidak tahu bagaimana sebenarnya kehidupan
kita.
11.11.11
Ganti Status
Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani,
bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan
perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari
kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.
1 Petrus 2:9
Pernahkah kita membayangkan
bahwa pada suatu hari seorang raja datang bertamu ke rumah kita dan
mengungkapkan bahwa kita sebenarnya adalah anak kandungnya yang telah terpisah
sekian tahun lamanya. Sejak saat itu kita
diberikan hak khusus untuk memasuki istana, duduk makan semeja dengan raja,
dikawal saat pergi ke tempat umum, dan hak istimewa lain sebagainya.
Kehidupan kita saat itu pasti
langsung berubah drastis, dari yang semula biasa-biasa saja menjadi terkenal
dan disegani orang banyak. Bukan itu
saja, kehidupan ekonomi kita akan berubah, gaya hidup dan penampilan kita juga
akan “naik kelas”.
Kita patut bersyukur bahwa
kehidupan kita telah berubah karena kita terlebih lagi diangkat menjadi anak
Raja atas dunia ini. Kita telah menerima
kasih karunia yang besar dari Allah.
Namun banyak orang Kristen seringkali lupa dan tidak menyadari kasih
karunia ini sehingga mereka menggunakan hidupnya dengan sembarangan. Itulah yang membuat mereka masih hidup dengan
kehidupannya yang lama dan hidup bagi diri mereka sendiri.
Jika kita menyadari bahwa Allah
telah memberikan hak istimewanya sebagai untuk kita, seharusnya kita bersikap
dan berperilaku sebagaimana kita seharusnya.
Kasih karunia yang Tuhan berikan akan mengubah kehidupan kita. Akan ada hal-hal dan kebiasaan hidup lama yang
ditinggalkan, dan digantikan dengan kebiasaan yang baru. Kita juga mendapat hak istimewa sebagai
anggota kerajaan Sorga dan sebagai seorang anak Raja segala Raja. Ketika kita mengerti hal ini, kita seharusnya
tak perlu lagi kuatir akan segala permasalahan hidup dan masa depan. Dan hidup kita pun penuh dengan kasih yang
telah Allah curahkan atas hidup kita untuk memberkati setiap orang yang belum
mengenal kebenaran. Sudahkah
kita menyadari “status” kita di dalam Tuhan dan memakai hak istimewa yang Allah
berikan untuk memberkati sekeliling kita?
STATUS YANG ALLAH BERIKAN BUKAN
HANYA SEKEDAR STATUS, TAPI SUPAYA KITA BERLAKU SESUAI DENGAN STATUS TERSEBUT.
9.11.11
Patung Marmer atau Lantai Marmer?
Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab
apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan
Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia. Yakobus 1: 12
Saya
pernah berjalan-jalan dan memasuki sebuah mall mewah di Jakarta. Terlihat dari interiornya yang mewah dan
terdapat beberapa patung marmer yang indah yang dipajang di dalamnya. Saya sempat mendekati sebuah patung marmer
yang dipamerkan di sana dan mengaguminya dari dekat. Juga ada beberapa pengunjung lain yang
melihat bersama saya. Ketika saya
selintas melihat ke lantai, saya menyadari bahwa lantai mall tersebut juga
terbuat dari marmer. Namun, tak ada
seorang pengunjung pun yang mengagumi keindahan si lantai marmer. Kalau lantai tersebut bisa bicara, mungkin
dia akan protes kepada si patung, betapa irinya si lantai bahwa tidak ada
seorang pun yang mengagumi keindahan si lantai marmer, hanya diinjak-injak
orang dan tidak berharga sama sekali.
Saya
berpikir, mungkin si lantai dan patung tersebut berasal dari gua yang sama,
namun kualitas dan nilai jual mereka menjadi berbeda karena proses yang
dilakukan terhadap marmer tersebut juga berbeda. Tentu saja proses pembuatan lantai lebih mudah
dari proses pembuatan patung yang harus dipahat dengan seorang ahli pahat yang professional.
Begitu
juga dengan hidup kita. karakter yang
ada dalam hidup kita saat ini dipengaruhi oleh bagaimana kita menerima proses
pembentukan karakter kita selama ini.
karakter tidak muncul dalam satu hari, ia muncul dari
kebiasaan-kebiasaan yang menjadi gaya hidup kita sehari-hari.
13.9.11
Hubungan Terasa Hambar, Jenuh, Flat....? Then u must read this!
repost dari kaskus:
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=10094017
mungkin temen² disini banyak yang sering seperti ini:
• Hubungan gue udah ga seharmonis dulu
• Ane mulai jenuh gan dengan pacar ane
• Gimana caranya supaya hubungan ga ngebosenin?
• [Ask] hubungan terasa hambar, pertahankan atau sudahi?
sebelum ke intinya,
ane mau cerita tentang pengalaman ane.
ane mulai pacaran pas kelas 3SMA. tahun ini ane jalan
anniversary ke 4.
bulan² pertama, ane mesra nya minta ampun. di sekolah
ketemu, ke kantin bareng... pokoknya bener² ky penganten baru deh.
lulus SMA. masuk ke univ yang berlainan.
awal² kuliah, masi beradaptasi dengan kesibukan
perkuliahan yang jauh dibanding SMA.
otomatis frekuensi ketemu jadi berkurang. dan kebetulan
ane ngekost, seminggu sekali pulang.
di kampus ane banyak cewe yang bisa dibilang seger² ky
cendol...
begitu juga dengan pacar ane di kampusnya (ane tau lah
secara univ terkenal gitu).
dan pada saat itu lah kita berdua merasa jenuh dengan
hubungan kita.
ane merasa jenuh, begitu juga dengan pacar ane.
alasan fundamentalnya apa?
1. jarang ketemu
2. yaa ada lah saat² dimana ane tebar pesona... tapi ga
tau dengan pacar ane tebar pesona juga ga...
tapi kok bisa bertahan sampe sekarang?
itu dia gan... ada suatu mind setting yang terpatri di
pikiran ane.
mau tau apa yang terpatri di pikiran ane? makanya baca
terus sampe abis..
sangat sederhana gan.
ane saat itu berpikiran bahwa:
ane mau konsisten dengan alasan ane jadian. yaitu untuk
diseriusin.
ane ga mau pacaran dibuat 'Have Fun'
karena ane beranggapan: Pacaran
itu Simulasi Hidup Berumah Tangga
terkait dengan cerita ane:
jadi ane memutuskan untuk berhenti berpikiran bahwa
hubungan ane udah ga harmonis.
ane berusaha untuk setia, sayangi dia, tunjukkan rasa
sayang itu, dan apa reaksi pacar ane?
dia juga berhenti berpikiran kalau hubungan kita udah
terasa hambar.
in other words...
pacaran itu latian kesetiaan kita sebelum membina rumah
tangga.
pacaran itu latian mengatasi konflik interpersonal dan
intrapersonal.
jadi, kalau kita belum bisa mengatasi konflik dalam diri
sendiri atau konflik dengan orang lain, jangan harap rumah tangga bisa bertahan
lama.
jadi, kalau kita belum bisa setia dengan pacar, jangan
harap rumah tangga bisa bertahan lama.
dan jadi...
kalau kita masih menjadi Pengecut yang tidak berani dan
tidak bisa mengatasi masalah dengan pacar kita dan masih seenaknya bilang
"Eloh... Gueh... End..."
jangan harap rumah tangga bisa bahagia.
jangan membiasakan suatu kebiasaan buruk.
kenapa ane bisa berpikiran seperti itu?
ini bukan suatu hal yang spontan lahir dari penalaran ane
sendiri gan.
jadi, waktu itu ane sekolah ada pelajaran Sosiologi.
dikasi tugas disuru cari berita tentang hubungan keluarga dan permasalahannya
ane cari lah di tabloid² nyokap ane. ane pilih berita
tentang artis yang baru menikah, besoknya cerai.
dan ane menarik kesimpulan dari tugas ane itu:
"kalau belum bisa setia, jangan harap pernikahan
bisa langgeng"
dan hal itu terus terpatri di benak ane.
lo sekarang gonta ganti pacar oke itu hak lo sebagai anak
muda yang masi Have Fun.
tapi apa lo ga malu kalo nanti lo gonta ganti
suami/istri?
seringkali kejadian seseorang diduai atau menduai
pasangannya entah disengaja atau tidak.
disengaja, misalnya, memang pengen ganti² pacar.
tanpa disengaja, misalnya, merasa nyaman dengan orang
lain karena sering cerita, curhat, minta pendapat, eh akhirnya demen...
sering lho ane ketemu kasus begini. ga usah jauh². di H2H
sini juga banyak kasus bgitu
dan ane terus ikutin perkembangan kasus seperti itu,
ternyata ujung²nya:
"Elooh... Gueh... End~"
itu semua bisa terjadi karena (salah satu alasannya)
jenuh dengan pacar. betul ga? betul dong...
dan semua itu juga bisa terjadi karena kita selalu mikir
"rumput tetangga lebih hijau"
tapi balik lagi aja deh agan² dan sista² semua... ane
tetep memiliki mind-set
kalau ga bisa setia sama satu orang, ya ga usah merit
yaa... walaupun ane tau anak muda jaman sekarang masi
Have Fun dan selalu mikir "ah gue merit masih lama..."
tapi inget gan n sist... yang namanya kebiasaan yang
dianggap Enak itu sulit diubah. sulit dihilangkan.
contoh konkret aja deh. orang kebiasaan merokok, sulit
untuk berhenti.
niat buat berhenti sih ada. tapi begitu ngeliat warung
dikid aja langsung deh "bang... keteng 3"
ga jadi berhenti deh... tiba² mampus aja...
sama aja... kebiasaan 'hinggap' sana sini juga susah
hilang...
apalagi kalau udah ketemu yang dianggep wuidiiih...
ganteng... cantik... sexy...
Lalu bagaimana supaya Kita bisa berpikir dan meng-set
mind kita seperti demikian?
dengan harapan kita tidak akan pernah merasakan
kehambaran dalam hubungan.
ane ga akan bilang "makanya berpikiran seperti ane
diatas".
pemikiran orang bisa beda². cara orang pun berbeda satu
sama lain.
so.. ane cuma bisa kasi tips hal² apa saja yang bisa
dengan mudah semua orang bisa lakukan.
jadi tips ini bersifat eksak.
bukan abstrak. dan bersifat universal. bukan partikular.
1. Let it
Flow... biarkan hubungan mu berjalan dengan apa adanya.
jangan menambahi aturan² yang tidak penting yang hanya
membuat kamu/pasangan kamu merasa tidak nyaman.
akhirnya kamu jadi termakan oleh aturan kamu sendiri.
contohnya...
1. BBM harus cepat dibalas.
2. telponan 3x 1jam sehari
3. sebelum pergi, laporan dulu pergi kemana, sama siapa,
pulang jam berapa.
4. dll
2. Ingat
lah... bagaimana perasaan kamu saat kamu mengutarakan cinta kamu.
atau bagaimana perasaan kamu saat kamu menerima cinta
dari pacar kamu.
senang dan berbunga² kan?
jangan jadi penebang pohon yang kamu tanam sendiri.
jangan menghancurkan perasaan yang kamu munculkan
sendiri.
KECUALI kamu memang tidak beda dengan hewan yang suka
kimpoi sana sini.
3. Komunikasi
itu BUKAN hal terpenting dalam pacaran.
pasti sering denger: "pacaran yang penting adalah
kepercayaan dan komunikasi"
tapi yang terpenting bukan itu. melainkan Kedewasaan.
bersikaplah dewasa. kamu bukan anak kecil yang maunya
diajak main terus kan?
tunjukkan rasa sayang kamu
dengan cara yang dewasa.
bokap ane dokter. kadang suka tugas piket di UGD. pergi
malam, pulang pagi.
tapi nyokap ane ga pernah nyariin. tiap kali bokap mau
pergi, nyokap ane cuma sediain kotak makan, baju ganti, sama kopi 1termos
kecil. taro di tas, tasnya taro di mobil. slesai.
bokap kalo mao pergi cuma bilang "ma... pergi ya.
kunci pintu."
nyokap jawab "ya... ati²."
udah. ga ada embel² apa² lagi.
ga ada tuh bilang "jangan lupa BBM yah... kalo lagi
nganggur telpon..."
atau "nanti papih BBM dibales yang cepet ya..."
semakin sering berkomunikasi,
semakin besar peluang suatu Konflik Muncul dalam komunikasi itu
4. Do not
make any excuses to fulfill your selfishness.
Alasan dibuat untuk mendukung argumen yang bertanggung
jawab.
"aku minta putus
abisnya udah bosen sama hubungan kita..."
itu bukan argumen. tapi itu keegoisan.
instead of:
"hubungan kita membosankan karena kamu sama sekali
ga perhatian lagi sama aku. gimana supaya tetep bisa
bertahan nih?"
itu adalah alasan yang mendukung argumen. argumen yang
baik adalah argumen yang bertanggung jawab.
argumen yang bertanggung jawab adalah argumen yang tidak
'lepas tangan'
melainkan mempertahankan status quo hingga mendapatkan
solusi.
5. Bicarakan
Masalah secara Dewasa.
berargumen lah yang logis dan dapat
dipertanggungjawabkan.
Bicaralah sesuai dengan permasalahan. jangan memunculkan
masalah baru dalam pembicaraan itu.
Masalah muncul untuk dibicarakan dan diselesaikan.
BUKAN untuk
dipendam, dikembangkan, dan kemudian dijadikan alasan penyebab kehambaran
terlebih dijadikan alasan untuk menyudahi hubungan.
6. Jangan
sekali-kali mengatur hidup orang lain sekalipun itu pacar kamu.
kamu belum menjadi siapa-siapa.
jadi... jangan cari masalah yang kamu sendiri tidak
inginkan
7. Biarkan
pacar kamu menjalani rutinitas dan kepentingannya sehari-hari tanpa gangguan.
dia bukan Baby Sitter kamu yang harus 24jam stand by buat
kamu,
kamu juga bukan Baby yang setiap saat ingin selalu
ditemani, diajak main, digantiin diapers nya.
KECUALI kalau kamu memang mau dianggap seperti itu.
kalo ada tambahan dari agan², silahkan.
seperti biasa, sebelum mengakhiri thread ini ane ingin
berbagi sebuat Quote sederhana:
"Love is Beautiful. but
Love in Family, is not as beautiful as Mona Lisa"
category:
hubungan
25.8.11
Tetap Memikul Beban
“sebab Allah dari
mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu
dan dalam kebenaran yang kamu percayai.”
2 Tesalonika
2:13b
Seorang bapak kuli bangunan
sedang berjalan mengangkut batu kali untuk dijadikan fondasi sebuah bangunan
yang terletak sekitar beberapa kilometer dari kali tersebut. Kemudian lewatlah sebuah mobil pengangkut
brangkal yang kosong dalam perjalanan si bapak tersebut. Melihat beratnya beban batu yang harus
dipikulnya, sang supir menawarkan tumpangan kepada bapak tersebut untuk naik di
atas mobil bak terbuka yang ia kemudikan.
Si bapak setuju, lalu kemudian menaiki mobil tersebut hingga sampai
tempat kerjanya.
Ketika sampai di tempat kerja
si bapak, sang supir kaget ketika melihat bapak tersebut tetap memanggul
batunya di atas mobil baknya sepanjang perjalanan. Pikirnya, lalu apa gunanya dia menawarkan
tumpangan dengan maksud meringankan beban si bapak kuli tersebut?
Banyak orang Kristen yang telah
mengenal Tuhan juga seperti bapak tadi. Keselamatan
itu telah diberikan kepada kita, orang-orang yang telah dipilihNya sejak
semula. Kebebasan atas dosa dan kehidupan masa lalu telah diberikan
kepada kita. Kita adalah orang-orang
yang merdeka. Namun seberapa sering kita
tetap memanggul beban kekecewaan akan masa lalu dan kekuatiran kita akan masa
depan kita? Hal-hal tersebut membuat
kita tidak dapat menikmati kasih dan membagikan kasih Allah kepada orang
lain. Betapa seharusnya kita bersyukur
karena kita adalah orang-orang terpilih, tidak semua orang menerima anugrah
ini. Bagaimana cara kita mensyukurinya?
Mari hidup dalam kasih karunia yang telah Allah berikan pada kita, serta
membagikan kasih itu kepada orang lain di sekeliling kita.
Kita telah menerima anugrah
keselamatan secara Cuma-Cuma. Maukah
kita juga membagikannya kepada orang lain dengan Cuma-Cuma tanpa mengharapkan
perlakuan balik dari orang lain?
TUHAN MEMBERIKAN KITA
KEBEBASAN DAN KESELAMATAN SUPAYA KITA DAPAT MEMBAGIKAN KASIH ALLAH KEPADA ORANG
LAIN.
Tahu Jalan Ceritanya
Kita
mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.
1
Yoh 4: 19
Apa jadinya jika ketika kita berkenalan dengan seseorang
yang belum pernah kita kenal sebelumnya, ada sebuah informasi lengkap yang kita
dapatkan mengenai semua karakter dan kebiasaan jelek orang tersebut. Selain itu kita juga dapat mengetahui
kejadian apa yang akan terjadi dengan hubungan kita dengannya di masa
depan. Kira-kira, apakah kita akan tetap
menjalin hubungan dengan orang tersebut dengan mengabaikan semua asumsi dan
pikiran negatif kita tentang orang tersebut?
Apakah kita tetap dapat mengasihi dan berhubungan dengannya tanpa
menjaga jarak?
Suatu hari, saya
pernah melontarkan pertanyaan ini dalam hati: “Ketika Tuhan menciptakan manusia,
pernahkah ia berpikir bahwa suatu saat manusia ciptaanNya akan mengecewakan dan
mengkhianatiNya?” Saya yakin, sebenarnya
Tuhan sudah mengetahui peristiwa-peristiwa kejatuhan manusia di dalam dosa. Namun, apa yang membuat Tuhan tetap
menciptakan manusia?
Saya yakin karena
kasihNya yang begitu besar atas manusia, sehingga Ia tetap mengasihi dan
menerima kita, walaupun kita berkali-kali telah gagal. Ketika Dia mengasihi kita, ia juga siap untuk
mengampuni kita. Itulah kasih yang Allah
tunjukkan bagi kita untuk kita teladani.
Tuhan juga mau kita mengasihi sesama kita seperti kasih yang telah
ditunjukkanNya untuk kita: walaupun kita belum mengenal Dia dan masih berdosa,
dan memberikan kesempatan kepada kita setiap hari untuk melakukan yang terbaik,
dan memberikan pengampunan lagi saat kita gagal, dan melupakan serta tidak
mengingat lagi dosa yang sudah kita lakukan di masa lalu.
Kita adalah
orang-orang yang telah diampuni dan menerima kasih karunia. Apakah kita
juga sudah menjadi orang yang mengampuni dan memberikan "kasih
karunia" untuk orang lain yang bersalah pada kita?
KETIKA KITA SIAP MENGASIHI,
KITA HARUS SIAP UNTUK MENGAMPUNI.
1.7.11
Wajib Militer
Seorang prajurit
yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya,
supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.
2 Timotius
2:4
Di beberapa Negara seperti
Korea Selatan, Singapura, Israel, dan Negara lainnya, setiap pemuda yang
berusia sekitar 18-27 tahun diharuskan mengikuti wajib militer (National
Service,-red), sekurang-kurangnya dua tahun, untuk mengabdi pada Negara. Mereka, tak terkecuali orang kaya,
selebritis, atau pejabat sekalipun, diberikan pelatihan militer dan
dipersiapkan untuk siap angkat senjata dan berperang jika suatu saat diperlukan
untuk membela negaranya.
Dalam kamp pelatihan, tentu
saja para pemuda dikondisikan dalam keadaan yang tertekan dan kekurangan. Ia tidak dapat melakukan kehendaknya sendiri
dengan bebas, namun ia harus melaksanakan seluruh komando dari komandannya
dengan taat. Dalam pelatihan tersebut,
gelar dan jabatan social tidaklah berlaku.
Mereka semua sederajat, seorang tentara yang taat dan tunduk pada
perintah atasannya.
Seringkali kehidupan
Kekristenan kita terlalu nyaman. Kita
melayani Tuhan, namun tak jarang dari kita yang masih hidup dengan kemauan dan
kehendaknya sendiri. Hidup dalam kerajaan
Allah berarti hidup dalam pemerintahan Allah.
Bukan lagi kepentingan kita yang diutamakan, tapi kepentingan
Tuhan. Bukan lagi impian hidup kita yang
menjadi prioritas utama, tapi keinginan Tuhan yang terjadi dalam hidup
kita. Jika kerinduan Tuhan adalah jiwa-jiwa
bagi kerjaan Allah, itulah “benteng musuh” yang harus kita rebut dalam
“peperangan rohani” kita.
Apa yang menjadi prioritas kita
hari-hari ini? Masihkah kita berdoa
hanya untuk diri kita sendiri? Hiduplah
dalam panggilanNya lewat apa yang kita kerjakan dan lakukan. Di manapun Tuhan tempatkan kita, di situlah
“ladang peperangan” kita. Mari “berperang” bagi kerajaan Allah.
HIDUP DALAM
KERAJAAN ALLAH BERARTI HIDUP DALAM PEMERINTAHAN ALLAH.
Subscribe to:
Posts (Atom)