Search

10.3.11

Love, First.

“Sekalipun aku mempunyai karunia (roh)…., tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.”
1 Kor 13: 2

Dalam tim kerja saya di kantor, dapat ditemukan berbagai macam tipe orang yang berbeda-beda. Ada yang bertempramen keras, ada yang berkemampuan sosialisasi cukup tinggi, ada yang memiliki kemampuan negosiasi cukup baik, ada pula yang sangat fokus dengan apa yang dikerjakannya. Seringkali terjadi perbedaan pendapat di antara kami karena perbedaan dan kekurangan yang kami miliki. Namun ketika kami belajar menerima dan mengasihi keberadaan tim kami dengan segala kekurangannya, kami saling melengkapi sehingga kami bisa menyelasaikan setiap project yang kami tangani.

Dalam suratnya kepada jemaat Korintus, Paulus pun memberikan ilustrasi yang hampir serupa mengenai karunia Roh yang berbeda-beda. Tidak ada satupun yang dapat menganggap yang lain lebih penting atau kurang penting dari dirinya, karena mereka saling melengkapi.

Jika kita perhatikan pasal 12, Paulus memberikan ilustrasi dan menyebutkan macam-macam karunia yang ada. Sementara di pasal 13, Paulus sengaja “menyelipkan” nilai-nilai tentang kasih di antaranya, baru kemudian di pasal 14 berjudul, “Sekali lagi tentang karunia Roh”. Satu hal yang dapat kita pelajari di sini adalah, karunia Roh adalah karunia yang Tuhan berikan (berbeda-beda) kepada setiap orang yang ditujukan untuk membangun jemaat (14:4). Jadi karunia Roh bukanlah untuk kepentingan dan kehebatan kita sendiri, tapi untuk memperlengkapi kita melayani orang lain. Jadi untuk memperoleh karunia Roh, di mana dengan kata lain untuk melayani orang lain dengan karunia Roh kita, kita pertama-tama haruslah memiliki belas KASIHan terhadap orang lain. (13:1) Apa akibatnya jika kita tidak memiliki kasih dalam hati kita? Akhirnya karunia Roh itu hanyalah kita gunakan untuk kepentingan kita sendiri , menganggap karunia yang kita miliki lebih “hebat” dari orang lain, dan kita tidak menganggap karunia tersebut sebagai pemberian Tuhan yang istimewa, di mana ada tanggung jawab kita kepada Tuhan di dalamnya. Jadi, bagaimana cara untuk mengobarkan karunia Roh dalam hidup kita? Tidaklah lain adalah dengan terus mengobarkan kasih dalam hati kita, seperti yang tercatat dalam 1Kor 14:4-8.

Tim Inti atau Tim Cadangan?


“Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.”

1 Kor 12”: 7

Pernah melihat pertandingan sepak bola di televisi? Ketika sebuah tim bermain, tim tersebut terbagi menjadi dua: tim inti dan tim cadangan. Tim inti diberikan kepercayaan untuk bermain terlebih dahulu dalam sebuah babak pertandingan. Namun apakah ini berarti tim cadangan tidak memberikan kontribusi yang cukup besar dalam pertandingan tersebut? Tentu tidak. Bayangkan sebuah tim bermain tanpa tim cadangan. Ketika ada salah seorang pemain cedera, formasi tim menjadi tidak lengkap, dan ini merupakan titik lemah yang akan terus menerus diincar lawan.

Ketika kita mendapatkan karunia Roh dari Tuhan, ada satu hal yang kita ingat: bahwa “kemampuan” yang kita dapatkan tersebut bisa suatu saat Tuhan ambil daripada kita, ketika kita sudah tidak lagi memakai karunia itu dengan baik sesuai dengan yang Tuhan inginkan. Oleh karena itu, ketika Tuhan masih memercayakan karunia itu kepada kita, marilah kita pergunakan karunia itu dengan baik. Bukan untuk kepentingan dan kehebatan kita sendiri, namun untuk membangun jemaat atau orang lain.

Karunia Roh adalah suatu karunia yang Tuhan berikan kepada setiap kita secara gratis dan Cuma-Cuma, namun tidak semurah dan serendah itu karunia yang Tuhan berikan. Pernahkah kita berpikir, untuk apa Tuhan memberikan karunia-karunia Roh yang kita miliki dalam hidup kita? Tidakkah Tuhan memiliki sebuah tujuan khusus? Setiap karunia yang Tuhan taruh dalam hidup kita adalah sesuai dengan rencana dan kehendak Tuhan atas kehidupan kita, yang harus kita pertanggungjawabkan kepada Tuhan. Mari kita memakai setiap pemberian Tuhan tersebut dengan baik, karena kita tidak selamanya ada dalam pertandingan. Mungkin ada kalanya kita harus “rela” ketika Tuhan “memindahkan” karunia itu ke dalam hidup orang lain ketika kita tidak memakainya sesuai dengan tujuan Tuhan.

2.3.11

Di Balik Keegoisan Anak-anak

 
“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.”
1 Petrus 5:7


Seorang anak kecil di depan saya sedang merengek-rengek pada ibu nya minta dibelikan mainan yang dia inginkan waktu saya sedang mengantri hendak membayar barang belanjaan saya di kasir sebuah toko perbelanjaan.  Anak kecil itu menarik-narik tas ibu nya sambil merengek-rengek untuk menarik perhatian sang Ibu.  Dia berusaha melakukan segala cara untuk mendapatkan mainan itu.  Namun si Ibu menolak karena harganya yang lumayan mahal dan saya pikir mungkin ada keperluan dan kebutuhan lain yang harus dia penuhi daripada mainan itu.  Walaupun begitu, ia terus merengek-rengek tidak mau tahu, yang penting ia mendapatkan mainan itu.

Saya berpikir, mengapa anak kecil begitu egois.  Saya mengerti apa yang Ibu ini pikirkan.  Mungkin masih banyak keperluan yang lebih penting, bukan karena si Ibu kejam tidak mau membelikannya untuk anaknya.  Namun saya mengerti mengapa anak itu begitu seolah-olah egois hanya memikirkan keinginannya.  Saya pun pernah menjadi anak-anak sehingga saya mengerti.
Waktu saya masih kecil, saya menghabiskan waktu saya setiap hari dengan begitu bahagia.  Lari ke sana kemari, bermain dengan teman-teman, dan meminta ini dan itu.  anak-anak tidak pernah bertanya apa yang akan saya kerjakan besok, apakah uang sekolah saya bulan ini sudah dibayar atau belum, apa saya punya uang untuk jajan di sekolah besok, dan lain sebagainya.  Ia tidak pernah kuatir akan hari esok, karena ia tau bahwa orang tuanya selalu menjaganya dan menjamin kehidupannya.

Di balik keegoisan mereka, saya belajar sesuatu yang sangat berharga.  Seharusnya, status kita sebagai anak-nya Tuhan membuat kita percaya akan tangan pemeliharaan Bapa kita di surga.  Namun seringkali kekuatiran kita mendominasi kehidupan kita sehingga kita takut untuk melangkah dan menghadapi masa depan.  Kekuatiran memang wajar pernah dialami setiap manusia, karena ia tidak pernah tahu apa yang terjadi akan hari esok.  Namun sikap selanjutnya lebih penting, apakah kita tetap menyimpan kekuatiran itu dalam pikiran kita dan membuat kekuatiran kita itu berkembang sehingga kita takut mengambil resiko dan mengambil peluang dan kesempatan?  Ataukah kita menyimpan kekuatiran tersebut dalam tangan Tuhan dan belajar memercayaiNya seperti janda Sarfat yang percaya bahwa minyak dalam buli-bulinya tidak akan pernah habis.  

Hidup dalam kekuatiran memiliki banyak efek yang negatif: menjadi pesimis dalam hidup, takut mengambil resiko maupun peluang yang ada, selalu mengeluh dan tidak pernah mengucap syukur.  Mari belajar menjadi janda Sarfat yang percaya sepenuhnya kepada Tuhan, bahwa hidupnya dan seisi keluarganya dipelihara oleh Tuhan.  Mari belajar mengucap syukur untuk setiap pencapaian keuangan yang bahkan sebenarnya belum kita capai. Mengucap syukur adalah bukti iman percaya kita kepada Allah.  Ketika mengucap syukur dalam segala keadaan, kita sedang mendeklarasikan Allah berdaulat atas hidup kita apapun keadaannya.

1.2.11

Hikmat Lewat Kata-kata

Lukas 2
46  Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka.
47  Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya.
48  Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau."
49  Jawab-Nya kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?"
50  Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka.
51  Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.
52  Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.

Saya memang belum pernah menjadi seorang ibu.  Saya tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan satu-satunya anak selama tiga hari lamanya.  Namun saya bisa merasakan apa yang Maria rasakan saat menyadari bahwa anaknya hilang di kota lain yang bukan kota tempat dia tinggal, selama tiga hari.  Pasti ada rasa bersalah, rasa takut, rasa cemas dan kuatir, sedih, dan lain sebagainya.  Sebagai seorang wanita, saya tau rasanya kehilangan seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya.  Mungkin saat itu Maria merasa gagal sebagai seorang Ibu, apalagi Yesus bukanlah anak biasa, Ia telah dinubuatkan untuk menjadi sang Mesias dan Maria adalah wanita yang terpilih untuk membesarkan anak tersebut.  Dan sekarang, anak itu hilang di kota lain, dan ia tidak bisa menemukannya selama tiga hari.  Beribu cara pasti sudah ia lakukan untuk mencari Yesus, mungkin dengan menanyakannya pada orang sekitar, mungkin pula membuat pengumuman sederhana, mengunjungi setiap tempat yang mungkin dikunjungi Yesus sebagai seorang anak berumur 12 tahun.

Hingga pada akhirnya orang tuaNya menemukan Yesus sedang asik berdiskusi dengan para ahli Taurat di Bait Allah, tanpa merasa cemas sedikitpun.  Saya membayangkan perasaan Maria saat ia akhirnya menemukan Yesus dan melihatnya dari kejauhan.  Maria pasti sangat senang dan gembira menemukan kembali anakNya, namun juga kaget karena ia menemukannya di Bait Allah.  Mari kita perhatikan bagaimana sebaliknya dengan respon Yesus.  Lihat Lukas 2: 48.  Ketika Maria dengan cemas menanyakan mengapa Yesus "menghilang" dari tengah-tengah mereka, Yesus malah menjawab: "Mengapa kamu mencari Aku?".  Mari bayangkan sebentar, jika suatu hari nanti mungkin anak kita yang berbicara seperti itu kepada kita.  Saat kita begitu cemas menantikan anak kita yang hilang ditemukan kembali, pasti bukan respon seperti itu yang kita harapkan datang dari mulut anak kita, bukan?  Kita pasti berharap mereka pun dengan cemas mencari kita, keberadaan orang tua yang melindungi mereka dan menjaga mereka aman dalam lindungan kita.  Bayangkan bagaimana perasaan Maria saat itu.  Mungkin Maria sedih dan kecewa mendengar Yesus berbicara suatu perkataan yang "menyakiti" perasaannya.

Namun lihat bagaimana respon Maria menghadapi ini.  Ayat 51 berkata "Dan IbuNya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.".  Maria tidak menunjukkan perasaan dan emosi nya kepada siapapun, namun ia memilih untuk menyimpannya sendiri dan membereskannya dengan hatinya.  Maria bisa saja memarahi Yesus di depan banyak orang dan menyuruhnya pulang saat itu.  Maria berhak untuk itu, karena ia adalah ibuNya yang seharusnya mendidik anaknya dengan baik.  Namun Maria tidak tergesa-gesa untuk melakukan itu.  Ia memilih untuk menyimpan perkara tersebut di dalam hatinya dan dengan hikmat Allah ia membawa Yesus kembali pulang dalam asuhan mereka hingga genap waktunya Ia melakukan pekerjaan dan kehendak BapaNya.

Dan lihatlah ayat selanjutnya, konsekuensi dari tindakan Maria yang penuh hikmat dan bijaksana: "Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmatNya dan besarNya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia." (Lukas 2:52)

Wanita, kita adalah makhluk yang unik diciptakan Tuhan, memiliki perasaan dan emosi dan kepekaan yang sangat sensitif untuk melakukan dan mengenali segala sesuatu.  Bersyukurlah karena Tuhan mengaruniakan suatu karunia khusus dan istimewa untuk kita setiap wanita.  Namun seringkali kita menggunakannya dengan salah dan sembarangan, sehingga tidak membawa kemuliaan bagi Tuhan dan tidaklah menjadi berkat dan berfungsi bagi orang lain.  Seberapa sering kita tidak dapat mengontrol emosi kita ketika kita marah, sedih, takut, kecewa, dan lain sebagainya?  Seberapa sering kita mengeluarkan kata-kata negatif yang menyakitkan orang lain, melukai perasaan mereka, bertindak dengan emosi kita, dan tidak membangun karakter diri kita sendiri dan orang lain?

Tuhan mau kita belajar dari seorang Maria, yang dapat menjaga perkataan, sikap, dan perasaannya untuk tetap membawa kemuliaan bagi Tuhan dan menjadi berkat bagi orang lain, di tengah-tengah situasi yang tidak kita inginkan, sehingga kita tetap berfungsi sebagai seorang wanitaNya Allah yang bijaksana dan penuh hikmat Allah.  Dapatkah kita belajar menjaga mulut kita untuk berkata hal-hal yang tidak perlu kita katakan tentang keburukan orang lain?  Dapatkah kita belajar untuk mengontrol emosi kita ketika kita marah?  Dapatkah kita belajar menjaga sikap kita kepada setiap orang yang melukai hati dan perasaan kita?  Mari kita belajar untuk tetap menjadi bijaksana di tengah-tengah keadaan yang tidak menentu, menjadi bijaksana dan di atas rata-rata, sehingga setiap orang yang bertemu dengan kita dapat mengatakan: "Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua." (Amsal 31:29).

30.1.11

Freedom

Pernah masuk ke arena bermain seperti Universal Studio, Disneyland, Sea World, atau..yah, jangan jauh-jauh, Dunia Fantasi, atau Taman Safari?  Ketika kita beli tiket masuk, tangan kita akan diberikan tanda, bisa berupa cap, hand tag, atau apapun, di pintu masuk sebelum kita memasuki arena tersebut.  Tanda tersebut seperti one access to all, satu tanda masuk untuk semua tempat di dalam arena tersebut yang dapat kita kunjungi.  

Pengunjung yang datang bisa saja keluar dari tempat tersebut (untuk membeli sesuatu yang tidak terdapat di dalam arena tersebut, atau pergi ke tempat parkir untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di dalam kendaraan mereka).  Dan apakah mereka perlu membeli tiket ulang untuk mereka dapat masuk lagi ke dalam?  Ataukah mereka perlu merasa malu bahwa mereka telah keluar dan mereka tidak dapat masuk lagi ke tempat tersebut?  Tentu tidak bukan?  Karena untuk itulah tanda masuk tersebut berfungsi.  Sekali kita membeli tiket dan kita telah memiliki tanda masuk tersebut, itulah jaminan kita untuk kita dapat masuk kembali ke dalam arena.

Namun seringkali kita lupa, bahwa dalam hidup kitapun, saat kita menerima keselamatan, kita telah diberikan "tanda masuk" ke dalam hadirat Tuhan, di mana kita bisa bertemu dan bersekutu dengan Tuhan setiap hari.  Seringkali, ketika kita "keluar" dari hadirat Tuhan karena dosa dan kesalahan yang kita lakukan, kita merasa malu dan tidak layak untuk memasuki tempat tesebut lagi, seakan-akan kita tidak memiliki fasilitas "tanda masuk" itu.

Ibrani 10:10  Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.

Kita datang ke hadirat Tuhan dengan wajah tertunduk dan penuh kegentaran untuk masuk ke dalam hadiratNya.  Ada intimidasi yang begitu kuat sehingga kita merasa kotor dan tidak layak untuk menyentuh baitNya yang kudus sedikitpun.  Namun kita perlu tau kebenaran ini: bahwa Yesus telah mati di kayu salib untuk menebus seluruh dosa kita, yang telah kita lakukan, maupun kemungkinan dosa yang akan kita lakukan.  Kita telah dibenarkan oleh karya penebusanNya.  Tuhan telah menganggap kita adalah orang-orang yang telah dibenarkan oleh Allah.  Hanya, hati nurani kitalah yang merasa bersalah atas setiap dosa yang kita lakukan.
1 Korintus 6:11  Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.

Seringkali kita menyangka bahwa usaha kita untuk menjadi kudus akan membuat kita menjadi orang benar di hadapan Allah.  Tapi sesungguhnya, ketika telah menerima Yesus dalam hati kita, otomatis kita telah dibenarkan oleh Allah.  Artinya, kita telah menjadi orang benar.  Terlapas dari apakah kita melakukan dosa lagi atau tidak di masa yang akan datang, proses pembenaran sudah diselesaikan oleh Yesus di atas kayu salib.
Ibrani 4:16  Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.

Namun sebaliknya, untuk menjadi kudus adalah proses untuk menjadi seperti Kristus dengan cara hidup dalam roh tiap hari.  Jadi, tidak ada satupun hal yang kita lakukan dalam pengejaran akan kekuduskan menambahkan sesuatu kepada pembenaran kita.
Roma 5:6  Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah.

Solusi untuk mengalami pengudusan tersebut adalah percaya sepenuhnya kepada Kristus.  Seringkali kita terlalu berfokus untuk tidak melakukan dan menghindari hal-hal yang membawa kita kepada dosa.  Akhirnya kita kelelahan karena kita merasa bahwa kita tidak sanggup.  Bagaimana pun juga kita masih hidup di dunia dan belum menanggalkan daging kita, tubuh kita yang fana.  Daripada berfokus dan membuat berbagai macam cara dan peraturan untuk menjauhkan diri kita dari dosa, mari kita berfokus pada hal-hal yang dapat kita lakukan untuk hidup dengan lebih baik, yang tentu saja sesuai dengan kehendak Allah.  
Yehezkiel 36:26  Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.

Kita tidak diminta untuk berjuang sendirian, dengan kekuatan kita sendiri.  Karena itulah Tuhan ingin agar kita memakai kekuatanNya.  Kita memiliki iman untuk percaya sepenuhnya pada kekuatan Kristus.  Dia yang memampukan kita untuk dapat taat sepenuhnya pada Kristus.  Mari tanggalkan semua harapan kita untuk membebaskan diri kita dari dosa dengan kekuatan kita sendiri dan tempatkan iman dalam kekuatanNya untuk menyelamatkan kita dari dosa.
Ibrani 4:16  Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.

Firman Allah adalah firman yang memberikan kebebasan dan kemerdekaan.  Mengapa kita masih terbelenggu dengan intimidasi?  Tuhan telah memberikan kita sebuah anugrah dan perkenanan yang besar.  Mengapa tidak kita pergunakan itu?
Galatia 5:13  Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa.

Namun bukan berarti, dengan "tanda masuk" yang kita miliki, kita bisa "keluar-masuk" seenaknya.  Kasih karunia Tuhan terlalu mahal untuk kita perlakukan secara murahan.  Mari pergunakan dengan sebaik-baiknya.  Mari hormati perkenanan dan kasih karuniaNya.  Belum tentu Ia akan memberikannya untuk kita pada esok hari.  Hiduplah seperti saat ini adalah kesempatan terakhir untuk hidup.

16.1.11

Mobil Tanpa Mesin

Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."
Kejadian 1:26


Bayangkan sebuah mobil mahal tanpa mesin canggih yang terletak di dalamnya.  Apalah artinya mobil sport mahal dua pintu keluaran terbaru, jika mesin dari mobil tersebut dicabut dari dalamnya, atau tanpa bensin sehingga mobil tersebut tidak dapat dijalankan.  Tidaklah pernah berguna selain hanya menjadi pajangan di garasi mobil.

Begitu pula hidup kita jika tanpa kuasa Kristus di dalamnya.  Saat pertama kali manusia diciptakan, Tuhan telah menaruh kuasaNya dalam kita, kuasa yang sama untuk menaklukkan bumi dan seluruh makhluk yang ada di dalamnya, termasuk segala masalah dan pergumulan hidup kita.  Namun, apakah saat ini kuasa yang sama itu masih ada dan aktif dalam hidup kita?

Hidup yang kita jalani tanpa kuasa Kristus adalah hidup yang penuh dengan rutinitas dan biasa saja, tanpa kemenangan atas setiap hal yang terjadi dalam hidup kita.  Kita perlu kuasa Kristus tetap ada dan aktif dalam hidup kita untuk kita dapat meraih kemenangan demi kemenangan dalam hidup kita.  Kemenangan akan masalah dan pencobaan, kemenangan akan setiap dosa, kemenangan dari setiap pergumulan hidup kita.

Masalahnya adalah, banyak orang Kristen yang tidak menyadari hal ini.  Mereka hidup seperti layaknya orang Kristen normal pada umumnya, tanpa tahu kebenaran ini.  Itu sebabnya kekristenan menjadi sesuatu yang membosankan dan penuh aturan ini dan itu.  Namun di samping itu, mungkin ada beberapa orang yang menyadari hal ini, namun tak pernah meng”aktif”kan kuasa tersebut bekerja dalam kehidupannya.  Kuasa yang besar, yang sama seperti yang Yesus miliki itu, hanya diam tertimbun dalam hidup kita.

Satu-satunya cara untuk membuat kuasa itu bekerja dalam hidup kita adalah dengan menjaganya tetap penuh dan fully-charged setiap hari.  Hubungan doa yang intim, perenungan firman setiap hari dan melakukannya dengan iman yang terasah hari demi hari adalah kunci untuk mencapai kemenangan.

15.1.11

Bermain Cantik


Karena hanya dengan perencanaan engkau dapat berperang, dan kemenangan tergantung pada penasihat yang banyak.
Amsal 24:6


Sewaktu saya kecil, Ayah sering sekali mengajak saya bermain catur.  Sebagai seorang anak kecil, bagi saya catur tidaklah begitu menarik bahkan cenderung membosankan.  Hanya memindah-mindahkan pion dan bidak melangkah sesuai pola langkah mereka.  Yang saya tahu, apapun dan bagaimana caranya, tujuan akhirnya adalah membuat sang Raja mati. 

Seiring saya dewasa, saya semakin mengerti, bahwa untuk memenangkan sebuah duel catur, bukanlah hanya sekedar berpikir untuk membuat sang Raja si lawan mati dan permainan selesai.  Dalam catur, ada strategi yang dijalankan untuk membuat si Raja “terjebak” dan berada dalam satu kondisi yang tidak memungkinkannya lagi untuk berkutik.  Kita perlu “bermain cantik” untuk mengatur langkah demi langkah setiap bidak yang disediakan.

Seringkali dalam kehidupan kita, kita terlalu sibuk melakukan banyak hal yang seringkali menyita perhatian dan waktu kita sehingga tak sanggup lagi untuk menyediakan waktu untuk merenung sejenak tentang kehidupan kita.

Sama seperti permainan catur, kita tak perlu harus selalu memainkan setiap bidak saat kesempatannya datang.  Kita perlu berhenti dan berpikir sejenak, menyusun strategi, baru kemudian melangkah lagi.  Hidup kita pun perlu perencanaan dan strategi yang matang.  Seringkali perenungan menjadi begitu penting untuk mengevaluasi apa saja yang telah dilakukan dan dicapai, dan apa saja yang harus dan akan dicapai di kemudian hari, untuk kemudian saya dapat menentukan langkah selanjutnya.

Oleh karena itulah mengapa saat teduh menjadi begitu penting.  Tuhan ingin agar kita selalu mengevaluasi diri kita sehingga hidup kita sesuai dengan firman Allah dan juga agar kita selalu menetapkan tujuan dan strategi agar kita dapat menjadi seperti apa yang Tuhan inginkan hari lepas hari dalam hidup kita.

Emotional Health


Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.
Mazmur 37:8


Kata siapa orang yang rajin berolahraga tidak akan pernah sakit?  Beberapa waktu yang lalu, saya seringkali mengalami gangguan dengan pencernaan saya padahal saya rajin berolahraga tiga kali dalam seminggu.  Karena ternyata tidak semua penyakit disebabkan hanya oleh ketidakseimbangan metabolisme tubuh dan organ-organ fisik saja.  Maag saya selalu kambuh ketika saya menghadapi masalah di kantor, karena pikiran dan tingkat stress yang memicu sakit itu datang.

Manusia terdiri dari tiga unsur: tubuh, jiwa, dan roh.  Bukan hanya kesehatan tubuh dan kesehatan roh kita yang perlu kita jaga.  Seringkali kita melupakan kesehatan jiwa kita.  Apakah yang dimaksud dengan kesehatan jiwa?  Ilmu psikologi mungkin bisa menyebutnya dengan angry management, atau kita dapat mengukurnya dengan Emotional Quation (EQ).

Seberapa cepat kita dapat mengendalikan emosi dan jiwa kita saat ada suatu keadaan yang menekan kita?  Seberapa kuat kita dapat mengontrolnya ketika masalah datang dalam hidup kita?  Saya seringkali dilatih Tuhan untuk menjaga kesehatan jiwa saya.  Saya belajar menahan emosi marah, sedih, kuatir, malas, dan perasaan mengasihani diri sendiri dan lainnya.

Hidup ini bukanlah kita jalani berdasarkan perasaan kita semata.  Perasaan dan emosi kita dapat berubah dengan sangat cepat.  Jika hidup kita masih dikuasai oleh perasaan kita, maka kita tidak akan pernah bertumbuh dewasa.  Saya belajar bahwa hidup tidaklah selalu tentang apa yang saya inginkan, tapi apa yang Tuhan inginkan.  Seringkali saya harus belajar taat pada apa yang tidak saya inginkan, namun Tuhan inginkan.

Mari cek lagi kesehatan kita.  Kesehatan tubuh dapat kita jaga dengan olahraga dan pola makan yang teratur.  Kesehatan roh dapat kita pelihara dengan menjaga hubungann intim kita setiap hari dengan Tuhan.  Namun kesehatan jiwa kita dapat kita latih dengan meresponi semua situasi yang terjadi dalam hidup kita dengan baik, sama seperti apa yang Yesus akan lakukan ketika menghadapi situasi-situasi tersebut.

15.11.10

Kacamata Kuda

Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."

Yohanes 4:24


 

Dulu saya tidak mengerti, mengapa kuda tunggangan yang saya sering tumpangi waktu kecil saat berwisata di salah satu daerah di Bandung semua memaki suatu sekat dari kain yang menutupi matanya. Orang-orang menyebutnya kacamata kuda. Untuk apa kacamata itu dipakaikan kepada kuda tersebut? Bukankah akan membatasi si kuda saat berjalan dan dengan kacamata itu? Dia tidak dapat melihat ke kanan dan ke kiri, bagaimana kalau saat ia berjalan, ia bertabrakan dengan kuda lainnya yang sedang melintas?

Setelah semakin besar, saya semakin mengerti, apa fungsinya kacamata itu. Dan apa fungsi si kusir yang mengendalikan kuda tersebut. Tanpa kacamata itu, kusir akan sulit mengendalikan kuda tersebut, karena pandangannya tidak berfokus pada satu arah.

Pada hakikatnya, kita adalah makhluk roh yang diam di dalam tubuh, dan memiliki jiwa. Sama seperti Tuhan yang adalah roh, Ia menghendaki kita untuk kita bersekutu senantiasa dalam roh dan kebenaran. Salah satu caranya adalah hidup dalam pujian dan penyembahan setiap hari.

Pujian dan penyembahan, sekali lagi bukanlah sekedar lagu yang kita nyanyikan, namun gaya hidup untuk bersekutu dalam roh setiap hari. Gaya hidup pujian dan penyembahan membuat kehidupan kita senantiasa berfokus pada Kristus.

Ketika hidup kita berfokus pada Kristus, Tuhanlah yang menjadi "kusir" dan mengendalikan seluruh kehidupan kita. Gaya hidup yang senantiasa bersekutu dalam roh menjadi "kacamata kuda" kita untuk tetap berfokus pada satu tujuan, yaitu rancangan yang telah Tuhan rancangan dalam hidup kita. Dan kita tidak perlu lagi kuatir akan apapun yang terjadi dalam hidup kita, sebab Sang Kusir Agung yang akan menuntun kita berjalan ke arah yang telah Dia rancangkan untuk hidup kita.

14.11.10

Rencana Tuhan untuk Pasangan Hidup

"Tidak, tidak sampai engkau dipuaskan, diteguhkan dan penuh degan cinta dari padaKu sendiri, dengan memberikan hidupmu sepenuhnya hanya kepadaKu."


 

"Aku mengasihi engkau anakKu dan sampai engkau menemukan bahwa hanya di dalam Aku sajalah kepuasanmu dapat ditemukan. Engkau tidak akan dapat menemukan orang yang sempurna bagi kehidupanmu yang Aku rencanakan bagimu. Engkau tidak akan pernah dapat beserta dengan orang lain sampai engkau bersatu denganku."


 

"Aku ingin kau berhenti merencanakan, berhenti berharap dan membiarkan Aku yang membawanya kepadamu. Tetaplah matamu tertuju kepadaKu, haraplah hal0hal yang terbesar terjadi. Tetaplah alami dan kepuasanmu hanya ada padaKu, tetaplah belajar dan mendengarkan akan segala hal yang aku katakan kepadamu. Jangan bimbang, jangan ragu. Dan jangan melihat orang lain yang sudah mendapatkan pasangan hidupnya ataupun yang telah Aku berikan. Jangan melihat seseorang dan menginginkannya."


 

"Tetaplah melihat kepadaKu, atau engkau akan kehilangan hal-hal besar yang akan Aku perlihatkan kepadamu. Pada saatnya nanti engkau akan siap, Aku akan mengejutkan engkau dengan cinta yang jauh lebih indah dari apa yang pernah engkau bayangkan sebelumnya. Engkau lihat, sampai engkau siap dan sampai orang yang Aku persiapkan juga telah siap."


 

"Aku bekerja bahkan pada saat ini untuk mempertemukan engkau berdua siap pada waktunya nanti. Sampai engkau berdua dipuaskan secara penuh hanya denganKu dalam kasih dan hidup yang telah Aku persiapkan untukmu. Ketahuilah Aku mengasihi engkau selamanya. Hubungan yang tak berkesudahan Aku tawarkan bersama diriKu."


 

Allahku akan memenuhi segala keperluanku.

Filipi 4:19