Search

23.1.18

KORUPSI



Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.  Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”
Ibrani 13:5



Sebuah lembaga anti korupsi internasional bernama Transperancy International merilis data indeks persepsi korupsi (Corruption Perception Index) tahun 2015 pada awal Januari lalu, atas 168 negara yang diamati.  Hasilnya, negara-negara Eropa seperti Denmark, Finlandia, Selandia Baru, Swedia, Belanda, dan Norwegia menempati peringkat atas.  Sementara itu, peringkat bawah ditempati oleh Sudan, Afganistan, Korea Utara, dan Somalia.  Indonesia disebut menempati peringkat 88 (dari 168), dengan skor CPI 36 (angka maksimal terbaik adalah 100).  Hasil analisa tim ini untuk Indonesia menyebutkan bahwa skor CPI Indonesia meningkat 2 poin dan berhasil naik 19 peringkat dari tahun lalu.  Namun begitu, mereka menyebutkan nilai ini tidak dapat dipakai secara mutlak untuk menilai tingkat korupsi di sebuah negara, mengingat banyak tindakan korupsi yang dilakukan secara terselubung.  Bahkan, mungkin masih banyak kasus-kasus kecil yang belum terungkap di bidang atau area tertentu yang kurang tersorot oleh publik.
Salah satu tindakan korupsi yang pernah dilakukan oleh orang-orang Israel adalah ketika Tuhan memberi mereka manna saat dalam perjalanan menuju tanah perjanjian Kanaan.  Walaupun Tuhan sudah mengatakan kepada mereka untuk mengambil secukupnya, namun beberapa dari mereka menyimpan lebih untuk persediaan hari esok.  Contoh lain dalam perjanjian baru adalah ketika Ananias dan Safira berusaha mengambil keuntungan atas penjualan tanah yang seharusnya dipersembahkan kepada rasul-rasul untuk membiayai jemaat mula-mula.  Korupsi lahir dari ketidakpercayaan kita kepada Tuhan, yang mendorong kita untuk mengambil lebih dan pada akhirnya membawa kita kepada keserakahan.
          Mungkin kita bukan para pejabat pemerintah yang terbelit kasus korupsi besar seperti yang diberitakan di media massa.  Namun ingatlah, akar dan awal dari korupsi adalah kekuatiran kita akan hari esok dan cinta akan uang.  Bahkan di saat masa-masa tersulit dalam keuangan kita, tetaplah bersyukur bahwa Tuhan masih dan selamanya akan terus memelihara kita sehingga kita tidak akan pernah berkekurangan.

MENGGEDOR HATI TUHAN




“Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.”
Yakobus 5:16

Suatu kali saya didatangi oleh seseorang yang menawarkan sebuah produk kesehatan dan membujuk saya untuk membeli barangnya.  Ia menjelaskan panjang lebar manfaat dari produk yang ia jual dan berusaha meyakinkan saya bahwa produk tersebut sangat baik untuk saya konsumsi.  Awalnya saya tidak tertarik.  Saya tahu, ia adalah seorang sales yang pandai bicara dan berusaha membuat saya membeli produknya supaya ia dapat insentif dari hasil penjualannya.  Namun entah kenapa orang tersebut sangat gigih berulang kali datang pada saya dan menawarkan produk-produknya yang lain.  Padahal sudah berulang kali saya tolak.  Dan entah kenapa juga, bukannya saya jengkel, saya malah merasa penasaran dan tertarik dengan orang tersebut.  Sikapnya yang cukup sopan, ramah, penjelasannya yang masuk akal dan bukan semata-mata memuji-muji produknya saja, dan terutama kegigihan nya dalam menawarkan produk yang ia jual, itu yang membuat saya tertarik.  Singkat cerita, saya malah membeli beberapa produknya, ada yang saya konsumsi sendiri, bahkan ada yang saya hadiahkan kepada orang tua saya untuk dikonsumsi.
Saya jadi ingat cerita Hana ketika ia sangat rindu memiliki seorang anak.  Betapa gigihnya ia berusaha mengetuk hati Tuhan untuk memberikannya anak.  Akhirnya Tuhan mendengar doa Hanna dan memberikan Samuel kepadanya.
Sahabat, bukan berarti tidak boleh berdoa meminta sesuatu kepada Tuhan, asalkan permintaan kita selaras dan sama dengan kehendak dan kerinduan hatiNya.  Untuk itu, kita perlu terlebih dahulu intim dengan Tuhan, supaya kita mengenal kehendak dan kerinduan hati Tuhan, bukan kehendak dan kerinduan kita sendiri.
Dalam bukunya “Tears that Touch the Heart of God”, Sammy Tippit menjelaskan bahwa air mata dalam doa-doa yang dipanjatkan dengan kegigihan kita menyentuh hati Tuhan.  Bila seorang ibu menangisi anaknya yang nakal, hal itu menjamah hati Allah.  Bila seorang ayah menangis kepada Allah atas anak-anaknya yang hidupnya jatuh dalam dosa, ia menarik sorga ke atas bumi.  Bila anak-anak muda hatinya hancur bagi keselamatan jiwa teman-temannya, Roh Allah dicurahkan dari sorga untuk memenangkan mereka bagi Kristus.
Hal apa yang hari-hari ini Saudara rindukan terjadi dalam kehidupan diri Saudara sendiri maupun keluarga atau teman-teman Saudara?  Jika Saudara yakin bahwa kerinduan hati Saudara sama dengan kerinduan hati Tuhan, percayalah, kegigihan Saudara dalam berdoa akan menyentuh hati Tuhan sehingga Ia akan melakukan perkara mencengangkan dan mengabulkan doa Saudara.

Minuman Anggur yang Tumpah



Saat pulang kerja di suatu sore hari, sang Ayah begitu sangat marah melihat minuman anggur mahal yang baru saja dibelinya sepulang dari tugas dinasnya di luar negeri berceceran di lantai dapur.  Melihat pemandangan itu, sang Ayah langsung menebak bahwa ini pasti ulah anak perempuannya yang masih berumur 3 tahun.
Belum sempat ia memanggil anaknya untuk memarahinya, dari sudut ruangan lain, sang anak muncul dengan muka polos dan tidak bersalah lari menghampiri ayahnya untuk memeluknya.  Dalam kegeramannya, ia mencoba tetap tersenyum dan membalas pelukan hangat anaknya.  Lalu secara hati-hati, ia bertanya kepada putrinya, apa yang telah ia lakukan dengan botol minuman anggur ayahnya.  Dengan polos, ia menjawab “Kata Mama, hari ini Papa ulang tahun, jadi aku mau kasih hadiah buat Papa.”  Ia lari sebentar ke dapur, lalu membawa segelas minuman anggur untuk ayahnya.  Hal ini selalu dilakukan ibunya untuk sang ayah saat ia pulang kerja: membawa segelas minuman kopi atau teh untuk menghilangkan keletihan setelah bekerja seharian.  Rupanya sang anak ingin berbuat sesuatu untuk ayahnya di hari spesialnya.  Dengan kepolosannya sebagai seorang anak kecil, ia berusaha menunjukkan bahasa kasihnya untuk sang ayah.  Dan tindakan manis tadi, saya yakin, akan meluluhkan kemarahan ayah manapun di dunia ini.
Tuhan rindu keluarga menjadi tempat pertama kasih diperkenalkan kepada anak-anak.  Bahkan wujud nyata kasih kepada Tuhan, haruslah pertama didemonstrasikan di dalam keluarga.  Oleh karena itu, nilai-nilai kasih yang Tuhan ingin kita miliki haruslah seperti kasih yang sudah Tuhan tunjukkan untuk kita.
Kasih itu proaktif, dan ia perlu dikerjakan (love is a verb, not noun), dipelihara, dan dinyatakan dalam kehidupan berkeluarga sehari-hari. 
Sudahkah tindakan kasih kita menjadi nyata dalam keluarga kita?  Jika belum, marilah kita yang menjadi pelopor kegerakan kasih tersebut.  Tidak peduli bagaimana kondisi keharmonisan keluarga kita sebelumnya, namun percayalah, kasih dapat mengubahnya menjadi jauh lebih baik. 
Pada akhirnya, mengapa kita perlu mengasihi lebih dulu?  Karena Tuhan sudah menunjukkannya terlebih dulu, bahwa ia mengasihi kita bahkan pada saat kita masih berdosa.

SETENGAH GELAS AIR BERWARNA MERAH



Marilah, baiklah kita berperkara!  —  firman TUHAN  —  Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba. Yes 1:18  

Anak saya saat ini berusia 4 tahun dan sesekali saya mulai memperkenalkan percobaan-percobaan ilmiah sederhana yang bisa saya jelaskan kepadanya dengan bahasa yang dapat dia mengerti.  Misalnya mengenai bagaimana gunung dapat mengeluarkan lava, mengapa telur bisa tenggelam dan mengapung, mengapa air dalam gelas yang berisi tissue bisa berkurang dan pindah ke tissue tersebut, dan lain sebagainya.
Salah satu percobaan yang menarik adalah saat kami bersama-sama menuangkan air yang sudah diberi pewarna merah sebanyak setengah gelas.  Kemudian kami menaruh gelas tersebut di bawah keran air dan membiarkan keran tersebut menyala dan mengisi penuh gelas tersebut.  Lama kelamaan, warna air di dalam gelas tersebut bukan lagi merah, namun seluruhnya bening.
Dengan percobaan sederhana seperti itu pun, saya dapat menjelaskan mengenai konsep dosa dan pengampunan kepada anak saya.  Saat kita berdosa, Tuhan selalu mengampuni semua dosa-dosa kita dan hidup kita disucikan oleh kuasa darahNya.  Hal yang sama pula terjadi saat kita dikecewakan oleh orang lain, pengampunan yang kita berikan terus menerus akan memurnikan hati kita sehingga lama kelamaan kita tidak lagi dipenuhi kebencian, amarah, dendam, dan emosi-emosi negatif lainnya, melainkan dengan kasih Kristus yang melekat dengan hati kita.
Saat kita memutuskan untuk mengampuni orang yang menyakitkan hati kita, sebenarnya kita sedang menyangkal dan menyalibkan kedagingan kita.  Secara daging, tidak mudah mengampuni orang yang telah mengecewakan kita, karena hal ini bertentangan dengan perasaan kita.  Namun secara roh, mengampuni akan membawa kita semakin dewasa secara rohani sehingga hidup kita semakin berkenan di hadapan Tuhan.  Mengampuni adalah soal sikap hati dan keputusan kita, namun kita melakukannya bukan karena kekuatan kita sendiri.  Tuhanlah yang memampukan kita untuk melakukannya, karena kita menyerahkan kedagingan kita kepadaNya.
Seringkali kita merasa dengan mengampuni, kita menjadi orang yang kalah.  Namun sesungguhnya, kitalah yang menang karena kita bisa mengatasi ego kita sendiri, dan saat itulah kita sedang melangkah satu maju lebih depan menuju kedewasaan rohani kita.  Sudahkah Saudara mengampuni orang-orang yang pernah melukai hati Saudara

3.7.17

Breaktrough

Di tengah lembah ini aku berjalan.
Tersesat.
Mencoba mencari arah.
Mencari jalan keluar.

Aku entah ada di mana.
Sejauh aku berusaha melangkah, selalu kembali ke titik yang sama.
Sekeras aku mencoba berlari, lalu kemudian hilang kuatku.
Lemas dan merasa menyerah.

Terlalu lama aku di sini.
Kebal sudah rasa.
Lupa rasanya tertawa bahagia.
Hilang asa dan terlalu takut bermimpi lagi.
Merasa tak mampu dan tidak mau berjanji lagi.

Aku ada di posisi terendahku.
Mencoba menerima takdirku.
Kesedihan dan penyesalan menjadi makananku
Dan keputusasaan menjadi nafasku.

Aku mencoba berteriak.
Namun Kau diam.
Aku tau Kau tak jauh.
Namun Kau diam.
Memperhatikanku sambil tersenyum.

Putus asa.
Menangis.
Menyesal.
Kecewa.

Kekuatanku semakin melemah.
Semakin aku merasa aku sendirian.
Berputar-putar mencari jalan keluar dengan sisa kekuatanku.

Di ujung asaku, lalu Kau datang
Mendobrak hatiku
Menerobos jiwaku
Menusuk ruang nuraniku

Lalu ku terdiam, merenung.
Menangis,
Namun kali ini bahagia
Kau menyentuh hatiku dengan kelembutanMu.

Setelah sekian lama hati ini kering
Seperti hujan turun membasahi bumi
Aku menangis dalam tawaku
Kau berbisik meneguhkan kasihMu
Kau memperlihatkan kirbat air mataku
Kau tampung dalam genggamMu
Tak setetes pun yang dibiarkan terjatuh
Lembah kekelamanku, Kau ubah menjadi lembah terobosanku.

Kau mengenalku lebih dari siapapun
KesetiaanMu lebih dari nafasku
Perkenanan dan kasih setiaMu menjadi bagianku selama-lamanya
Penyertaan dan janjiMu kekal
Tak pernah sedetikpun meninggalkan aku.

Kekuatanku ialah Engkau
PenyertaanMu selalu melingkupiku
Seumur hidupku.