Search
2.3.11
Di Balik Keegoisan Anak-anak
1.2.11
Hikmat Lewat Kata-kata
46 Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka.
47 Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya.
48 Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau."
49 Jawab-Nya kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?"
50 Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka.
51 Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.
52 Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.
Saya memang belum pernah menjadi seorang ibu. Saya tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan satu-satunya anak selama tiga hari lamanya. Namun saya bisa merasakan apa yang Maria rasakan saat menyadari bahwa anaknya hilang di kota lain yang bukan kota tempat dia tinggal, selama tiga hari. Pasti ada rasa bersalah, rasa takut, rasa cemas dan kuatir, sedih, dan lain sebagainya. Sebagai seorang wanita, saya tau rasanya kehilangan seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya. Mungkin saat itu Maria merasa gagal sebagai seorang Ibu, apalagi Yesus bukanlah anak biasa, Ia telah dinubuatkan untuk menjadi sang Mesias dan Maria adalah wanita yang terpilih untuk membesarkan anak tersebut. Dan sekarang, anak itu hilang di kota lain, dan ia tidak bisa menemukannya selama tiga hari. Beribu cara pasti sudah ia lakukan untuk mencari Yesus, mungkin dengan menanyakannya pada orang sekitar, mungkin pula membuat pengumuman sederhana, mengunjungi setiap tempat yang mungkin dikunjungi Yesus sebagai seorang anak berumur 12 tahun.
Hingga pada akhirnya orang tuaNya menemukan Yesus sedang asik berdiskusi dengan para ahli Taurat di Bait Allah, tanpa merasa cemas sedikitpun. Saya membayangkan perasaan Maria saat ia akhirnya menemukan Yesus dan melihatnya dari kejauhan. Maria pasti sangat senang dan gembira menemukan kembali anakNya, namun juga kaget karena ia menemukannya di Bait Allah. Mari kita perhatikan bagaimana sebaliknya dengan respon Yesus. Lihat Lukas 2: 48. Ketika Maria dengan cemas menanyakan mengapa Yesus "menghilang" dari tengah-tengah mereka, Yesus malah menjawab: "Mengapa kamu mencari Aku?". Mari bayangkan sebentar, jika suatu hari nanti mungkin anak kita yang berbicara seperti itu kepada kita. Saat kita begitu cemas menantikan anak kita yang hilang ditemukan kembali, pasti bukan respon seperti itu yang kita harapkan datang dari mulut anak kita, bukan? Kita pasti berharap mereka pun dengan cemas mencari kita, keberadaan orang tua yang melindungi mereka dan menjaga mereka aman dalam lindungan kita. Bayangkan bagaimana perasaan Maria saat itu. Mungkin Maria sedih dan kecewa mendengar Yesus berbicara suatu perkataan yang "menyakiti" perasaannya.
Namun lihat bagaimana respon Maria menghadapi ini. Ayat 51 berkata "Dan IbuNya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.". Maria tidak menunjukkan perasaan dan emosi nya kepada siapapun, namun ia memilih untuk menyimpannya sendiri dan membereskannya dengan hatinya. Maria bisa saja memarahi Yesus di depan banyak orang dan menyuruhnya pulang saat itu. Maria berhak untuk itu, karena ia adalah ibuNya yang seharusnya mendidik anaknya dengan baik. Namun Maria tidak tergesa-gesa untuk melakukan itu. Ia memilih untuk menyimpan perkara tersebut di dalam hatinya dan dengan hikmat Allah ia membawa Yesus kembali pulang dalam asuhan mereka hingga genap waktunya Ia melakukan pekerjaan dan kehendak BapaNya.
Dan lihatlah ayat selanjutnya, konsekuensi dari tindakan Maria yang penuh hikmat dan bijaksana: "Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmatNya dan besarNya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia." (Lukas 2:52)
Wanita, kita adalah makhluk yang unik diciptakan Tuhan, memiliki perasaan dan emosi dan kepekaan yang sangat sensitif untuk melakukan dan mengenali segala sesuatu. Bersyukurlah karena Tuhan mengaruniakan suatu karunia khusus dan istimewa untuk kita setiap wanita. Namun seringkali kita menggunakannya dengan salah dan sembarangan, sehingga tidak membawa kemuliaan bagi Tuhan dan tidaklah menjadi berkat dan berfungsi bagi orang lain. Seberapa sering kita tidak dapat mengontrol emosi kita ketika kita marah, sedih, takut, kecewa, dan lain sebagainya? Seberapa sering kita mengeluarkan kata-kata negatif yang menyakitkan orang lain, melukai perasaan mereka, bertindak dengan emosi kita, dan tidak membangun karakter diri kita sendiri dan orang lain?
Tuhan mau kita belajar dari seorang Maria, yang dapat menjaga perkataan, sikap, dan perasaannya untuk tetap membawa kemuliaan bagi Tuhan dan menjadi berkat bagi orang lain, di tengah-tengah situasi yang tidak kita inginkan, sehingga kita tetap berfungsi sebagai seorang wanitaNya Allah yang bijaksana dan penuh hikmat Allah. Dapatkah kita belajar menjaga mulut kita untuk berkata hal-hal yang tidak perlu kita katakan tentang keburukan orang lain? Dapatkah kita belajar untuk mengontrol emosi kita ketika kita marah? Dapatkah kita belajar menjaga sikap kita kepada setiap orang yang melukai hati dan perasaan kita? Mari kita belajar untuk tetap menjadi bijaksana di tengah-tengah keadaan yang tidak menentu, menjadi bijaksana dan di atas rata-rata, sehingga setiap orang yang bertemu dengan kita dapat mengatakan: "Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua." (Amsal 31:29).
30.1.11
Freedom
Pengunjung yang datang bisa saja keluar dari tempat tersebut (untuk membeli sesuatu yang tidak terdapat di dalam arena tersebut, atau pergi ke tempat parkir untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di dalam kendaraan mereka). Dan apakah mereka perlu membeli tiket ulang untuk mereka dapat masuk lagi ke dalam? Ataukah mereka perlu merasa malu bahwa mereka telah keluar dan mereka tidak dapat masuk lagi ke tempat tersebut? Tentu tidak bukan? Karena untuk itulah tanda masuk tersebut berfungsi. Sekali kita membeli tiket dan kita telah memiliki tanda masuk tersebut, itulah jaminan kita untuk kita dapat masuk kembali ke dalam arena.
Namun seringkali kita lupa, bahwa dalam hidup kitapun, saat kita menerima keselamatan, kita telah diberikan "tanda masuk" ke dalam hadirat Tuhan, di mana kita bisa bertemu dan bersekutu dengan Tuhan setiap hari. Seringkali, ketika kita "keluar" dari hadirat Tuhan karena dosa dan kesalahan yang kita lakukan, kita merasa malu dan tidak layak untuk memasuki tempat tesebut lagi, seakan-akan kita tidak memiliki fasilitas "tanda masuk" itu.
Ibrani 10:10 Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.
Kita datang ke hadirat Tuhan dengan wajah tertunduk dan penuh kegentaran untuk masuk ke dalam hadiratNya. Ada intimidasi yang begitu kuat sehingga kita merasa kotor dan tidak layak untuk menyentuh baitNya yang kudus sedikitpun. Namun kita perlu tau kebenaran ini: bahwa Yesus telah mati di kayu salib untuk menebus seluruh dosa kita, yang telah kita lakukan, maupun kemungkinan dosa yang akan kita lakukan. Kita telah dibenarkan oleh karya penebusanNya. Tuhan telah menganggap kita adalah orang-orang yang telah dibenarkan oleh Allah. Hanya, hati nurani kitalah yang merasa bersalah atas setiap dosa yang kita lakukan.
1 Korintus 6:11 Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.
Seringkali kita menyangka bahwa usaha kita untuk menjadi kudus akan membuat kita menjadi orang benar di hadapan Allah. Tapi sesungguhnya, ketika telah menerima Yesus dalam hati kita, otomatis kita telah dibenarkan oleh Allah. Artinya, kita telah menjadi orang benar. Terlapas dari apakah kita melakukan dosa lagi atau tidak di masa yang akan datang, proses pembenaran sudah diselesaikan oleh Yesus di atas kayu salib.
Ibrani 4:16 Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.
Namun sebaliknya, untuk menjadi kudus adalah proses untuk menjadi seperti Kristus dengan cara hidup dalam roh tiap hari. Jadi, tidak ada satupun hal yang kita lakukan dalam pengejaran akan kekuduskan menambahkan sesuatu kepada pembenaran kita.
Roma 5:6 Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah.
Solusi untuk mengalami pengudusan tersebut adalah percaya sepenuhnya kepada Kristus. Seringkali kita terlalu berfokus untuk tidak melakukan dan menghindari hal-hal yang membawa kita kepada dosa. Akhirnya kita kelelahan karena kita merasa bahwa kita tidak sanggup. Bagaimana pun juga kita masih hidup di dunia dan belum menanggalkan daging kita, tubuh kita yang fana. Daripada berfokus dan membuat berbagai macam cara dan peraturan untuk menjauhkan diri kita dari dosa, mari kita berfokus pada hal-hal yang dapat kita lakukan untuk hidup dengan lebih baik, yang tentu saja sesuai dengan kehendak Allah.
Yehezkiel 36:26 Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.
Kita tidak diminta untuk berjuang sendirian, dengan kekuatan kita sendiri. Karena itulah Tuhan ingin agar kita memakai kekuatanNya. Kita memiliki iman untuk percaya sepenuhnya pada kekuatan Kristus. Dia yang memampukan kita untuk dapat taat sepenuhnya pada Kristus. Mari tanggalkan semua harapan kita untuk membebaskan diri kita dari dosa dengan kekuatan kita sendiri dan tempatkan iman dalam kekuatanNya untuk menyelamatkan kita dari dosa.
Ibrani 4:16 Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.
Firman Allah adalah firman yang memberikan kebebasan dan kemerdekaan. Mengapa kita masih terbelenggu dengan intimidasi? Tuhan telah memberikan kita sebuah anugrah dan perkenanan yang besar. Mengapa tidak kita pergunakan itu?
Galatia 5:13 Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa.
Namun bukan berarti, dengan "tanda masuk" yang kita miliki, kita bisa "keluar-masuk" seenaknya. Kasih karunia Tuhan terlalu mahal untuk kita perlakukan secara murahan. Mari pergunakan dengan sebaik-baiknya. Mari hormati perkenanan dan kasih karuniaNya. Belum tentu Ia akan memberikannya untuk kita pada esok hari. Hiduplah seperti saat ini adalah kesempatan terakhir untuk hidup.
16.1.11
Mobil Tanpa Mesin
15.1.11
Bermain Cantik
Emotional Health
15.11.10
Kacamata Kuda
Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."
Yohanes 4:24
Dulu saya tidak mengerti, mengapa kuda tunggangan yang saya sering tumpangi waktu kecil saat berwisata di salah satu daerah di Bandung semua memaki suatu sekat dari kain yang menutupi matanya. Orang-orang menyebutnya kacamata kuda. Untuk apa kacamata itu dipakaikan kepada kuda tersebut? Bukankah akan membatasi si kuda saat berjalan dan dengan kacamata itu? Dia tidak dapat melihat ke kanan dan ke kiri, bagaimana kalau saat ia berjalan, ia bertabrakan dengan kuda lainnya yang sedang melintas?
Setelah semakin besar, saya semakin mengerti, apa fungsinya kacamata itu. Dan apa fungsi si kusir yang mengendalikan kuda tersebut. Tanpa kacamata itu, kusir akan sulit mengendalikan kuda tersebut, karena pandangannya tidak berfokus pada satu arah.
Pada hakikatnya, kita adalah makhluk roh yang diam di dalam tubuh, dan memiliki jiwa. Sama seperti Tuhan yang adalah roh, Ia menghendaki kita untuk kita bersekutu senantiasa dalam roh dan kebenaran. Salah satu caranya adalah hidup dalam pujian dan penyembahan setiap hari.
Pujian dan penyembahan, sekali lagi bukanlah sekedar lagu yang kita nyanyikan, namun gaya hidup untuk bersekutu dalam roh setiap hari. Gaya hidup pujian dan penyembahan membuat kehidupan kita senantiasa berfokus pada Kristus.
Ketika hidup kita berfokus pada Kristus, Tuhanlah yang menjadi "kusir" dan mengendalikan seluruh kehidupan kita. Gaya hidup yang senantiasa bersekutu dalam roh menjadi "kacamata kuda" kita untuk tetap berfokus pada satu tujuan, yaitu rancangan yang telah Tuhan rancangan dalam hidup kita. Dan kita tidak perlu lagi kuatir akan apapun yang terjadi dalam hidup kita, sebab Sang Kusir Agung yang akan menuntun kita berjalan ke arah yang telah Dia rancangkan untuk hidup kita.
14.11.10
Rencana Tuhan untuk Pasangan Hidup
"Tidak, tidak sampai engkau dipuaskan, diteguhkan dan penuh degan cinta dari padaKu sendiri, dengan memberikan hidupmu sepenuhnya hanya kepadaKu."
"Aku mengasihi engkau anakKu dan sampai engkau menemukan bahwa hanya di dalam Aku sajalah kepuasanmu dapat ditemukan. Engkau tidak akan dapat menemukan orang yang sempurna bagi kehidupanmu yang Aku rencanakan bagimu. Engkau tidak akan pernah dapat beserta dengan orang lain sampai engkau bersatu denganku."
"Aku ingin kau berhenti merencanakan, berhenti berharap dan membiarkan Aku yang membawanya kepadamu. Tetaplah matamu tertuju kepadaKu, haraplah hal0hal yang terbesar terjadi. Tetaplah alami dan kepuasanmu hanya ada padaKu, tetaplah belajar dan mendengarkan akan segala hal yang aku katakan kepadamu. Jangan bimbang, jangan ragu. Dan jangan melihat orang lain yang sudah mendapatkan pasangan hidupnya ataupun yang telah Aku berikan. Jangan melihat seseorang dan menginginkannya."
"Tetaplah melihat kepadaKu, atau engkau akan kehilangan hal-hal besar yang akan Aku perlihatkan kepadamu. Pada saatnya nanti engkau akan siap, Aku akan mengejutkan engkau dengan cinta yang jauh lebih indah dari apa yang pernah engkau bayangkan sebelumnya. Engkau lihat, sampai engkau siap dan sampai orang yang Aku persiapkan juga telah siap."
"Aku bekerja bahkan pada saat ini untuk mempertemukan engkau berdua siap pada waktunya nanti. Sampai engkau berdua dipuaskan secara penuh hanya denganKu dalam kasih dan hidup yang telah Aku persiapkan untukmu. Ketahuilah Aku mengasihi engkau selamanya. Hubungan yang tak berkesudahan Aku tawarkan bersama diriKu."
Allahku akan memenuhi segala keperluanku.
Filipi 4:19
Duta Kerajaan Allah
Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:
1 Petrus 2:9
Seorang guru SD hendak membagikan kue dan permen kepada murid-murid di kelasnya. Namun tiba-tiba, ia dipanggil oleh sang kepala sekolah ke ruangannya. Maka ia menaruh kue dan permennya di atas meja dan memersilakan anak-anak untuk mengambil sendiri makanan tersebut, sambil mengingatkan mereka untuk tidak mengambil banyak-banyak dan harus ingat pada teman-temannya supaya semuanya kebagian. Ia juga memperingatkan bahwa Tuhan mengawasi setiap perbuatan mereka.
Rico, seorang murid yang nakal namun cukup cerdas, mengambil sepotong kue dan menuju meja lain untuk mengambil satu raupan besar permen dengan tangannya. Setelah itu, ia menaruh secarik kertas kecil di sebelah mangkuk permen tersebut.
Ketika sang guru kembali ke ruangannya, beberapa anak menangis dan melapor padanya, bahwa mereka tidak kebagian permen. Saat ia menoleh ke meja permen nya, ia membaca tulisan di kertas kecil yang ditaruh oleh Rico. Ia kaget, karena Rico menulis: "Ambil saja sebanyak-banyaknya, karena Tuhan sedang mengawasi kue di meja lain."
Cerita itu tentu saja hanya ilustrasi yang membuat kita tersenyum. Namanya juga anak-anak. Tapi tanpa sadar, kita sering melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Seringkali kita membuat toleransi dan kompromi pada diri kita sendiri untuk melakukan hal-hal yang tidak berkenan di mata Allah saat tidak ada orang yang melihatnya. "Ah.. tak apa lah, hanya melakukan hal ini, semua orangpun melakukannya. Toh tak ada seorangpun yang tahu".
Tuhan ingin kita hidup berbeda dengan dunia ini. Sejak Tuhan memanggil kita dalam terang, kita adalah umat-umat Allah yang dikuduskan dan dikhususkan untuk kemuliaan Allah. Standar yang kita pakai dalam kehidupan kita tentu saja adalah standar yang berbeda dengan dunia. Bukan tentang apa yang dilihat orang lain, tapi lebih dari itu, Tuhan melihat seluruh hati dan perbuatan kita, apakah kita berkenan di mata Allah. Sahabat, kita adalah duta-duta kerajaan Allah yang merepresentasikan nilai-nilai dan gaya hidup kerajaan Allah di dunia ini. Marilah kita hidup dengan nilai dan standarnya Allah, sehingga orang lain boleh melihat Yesus dalam hidup kita.
13.11.10
Saya Adalah Produk Gagal
Tapi saya selalu bisa menjadi bahagia...bersuka cita...bersemangat dan kembali produktif ketika saya disadari ataupun kembali "menyadari" bahwa ada Pribadi yang istimewa dari semua yang ada di dunia ini, yang selalu mengatakan saya "sempurna" saya "bisa" dan yang terpenting selalu setia menunggu saya menjadi "sempurna" dan menjadi "bisa" dimata dunia. Dia tidak pernah mengatakan bahwa saya telah gagal, hanya Dia mengatakan, "ayo coba lagi, kamu pasti bisa..". Dia membuat saya nyaman dan tidak terintimidasi lagi oleh seluruh kegagalan saya. Walaupun orang-orang meninggalkan saya setelah mengetahui kegagalan saya dan memandang saya sebelah mata, namun Dia tak pernah menyerah atas kegagalan saya. Dia selalu seta menanti saya melalui dan belajar dari setiap proses yang harus saya lalui. Ia selalu menunggu saya hingga saya menjadi sempurna dan indah di mataNya.
Dengan pengakuan yang seperti ini, saya berusaha bangkit dari kegagalan saya dan menocba berdiri lagi, berusaha lagi. Cukup besar perjuangan saya untuk tidak berhenti, kemudian menoleh ke belakang, kepada kegagalan saya. Namun saya tahu, bahwa ada seorang Pribadi yang menemani saya berjalan hingga garis akhir. Dia menuntun dan memegang tangan kanan saya, tak akan pernah meninggalkan saya.
Saya pikir, semua orang pernah gagal. Mungkin Anda juga. Tapi satu kebenaran yang selalu saya pegang, dan saya harap ini juga menguatkan Anda untuk tidak berhenti berjuang: Hidup adalah sebuah perjalanan. Hasil akhir tidaklah terlalu penting, tapi proses pembelajaran yang menjadi utama. Teruslah berjuang dan jangan menoleh ke belakang lagi. Masa lalu dan kegagalanmu tidak menentukan kesuksesanmu, kecuali Anda menyerah saat ini.
Mari berjuang bersama saya, teman. Jika kita mau, kita pasti bisa. Tinggalkan MASA LALU Anda, melangkahlah di sebuah jalan bernama SAAT INI, dan tataplah MASA DEPANmu.
Karena masa depan SUNGGUH ADA, dan harapanmu TIDAK AKAN HILANG.
Salam dari temanmu,
ika.