“...dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing... Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,...” (Kisah Para Rasul 2:44-46)
Pernah melihat tanda tersebut (XTC) pada dinding tembok di pinggir-pinggir jalan? Geng ini adalah geng yang cukup terkenal di kota Bandung. Hal ini dapat dilihat dari tanda yang tertera di mana-mana: tembok pinggir jalan, tiang rumah, pagar besi, bahkan dinding tripleks pada warung-warung kecil. Dilihat dari sisi positifnya, ada yang menarik dari geng ini. Seorang teman bercerita, sebelum ia bertobat, ia adalah salah satu anggota yang tergabung dalam geng ini. Dan ia bercerita, betapa kompak dan solidernya mereka di antara sesama anggota geng ini. Loyalitas dan kebanggan menjadi anggota geng ini sangat tinggi. Sehingga bahkan, walaupun mereka tidak saling mengenal baik (karena jumlah anggota yang cukup banyak), mereka siap membantu ketika ada salah satu anggota dari mereka “diserang” oleh geng lainnya.
Cerita tersebut terkadang mengingatkan saya akan satu hal. Bagaimana dengan komunitas yang Tuhan percayakan dalam hidup kita? Apakah kita cukup peduli dengan mereka? Jangankan peduli. Bahkan, apakah kita tahu ketika ada salah satu anggota “keluarga” kita dalam komunitas sel sedang mengalami masalah, pergumulan, atau sakit penyakit?
XTC, yang seringkali dicap masyarakat sebagai sebuah komunitas yang destruktif dan tidak membangun, saja memiliki rasa kekeluargaan yang begitu dalam. Bagaimana dengan kita? Pernahkah kita selama ini mensyukuri komunitas sel yang telah Tuhan tetapkan untuk pertumbuhan iman, kerohanian, dan karakter kita?
Perhatikan cara hidup jemaat mula-mula. Mereka saling mengasihi dan peduli satu sama lain karena ada kasih Kristus dalam hidup mereka dan dalam komunitas tersebut. Mari nyatakan kasih Kristus dan ciptakan kasih persaudaraan antarteman seiman dan seperjuangan yang selama ini telah mendukung dan menguatkan kita untuk tetap bertumbuh di dalam pengenalan akan Tuhan, sehingga kasih Kristus bisa terwujud nyata dalam hidup kita.
Search
15.11.09
Makna Natal
Setiap kali saya inget kata “Natal”, saya bersyukur lagi, bahwa Allah yang begitu besar, dengan semua kedaulatan dan kekuasaanNya, rela berubah wujud jadi manusia biasa dan lahir di sebuah kandang domba yang kotor dan bau. Saya diingetin lagi, untuk apa Ia “harus” turun ke dunia. Cuma buat nyelamatin kita loh, yang waktu itu malah blm lahir dan kenal siapa itu Tuhan, dan masih berdosa.
Tapi kita liat sekarang, makna Natal uda mulai di-blur-in sama liburan, pesta perayaan yang cenderung hedon(isme-red), diskon gede-gedean di toko-toko, baju baru, topi Santa, simbol-simbol sinterklaus , tradisi pohon natal beserta hiasan-hiasannya, dan kado-kado natal yang ditaro di bawahnya. Hei! Natal seharusnya lebih dari itu. Natal adalah waktu kita ngerenungin lagi, seberapa besar “hadiah” yang udah kita kasih buat Tuhan. Apa cuma dua jam setiap hari Minggu di gereja? Atau cuma pelayanan setiap minggu di gereja?
Tau ga, hadiah terindah yang bakal bikin Tuhan seneng banget itu apa? Hadiah itu berupa ego dan hak bebas kita untuk menentukan hidup dan masa depan kita sendiri. Akan jadi hadiah yang paling indah, ketika kita kasih masa depan dan sisa hidup kita untuk kemuliaanNya.
Saya inget, waktu kecil, kalo uda mau Natal, saya berdoa minta maenan baru, baju baru, dan barang-barang lain yang saya inginkan. Seringkali kita juga seperti itu. Kita minta keluarga kita diberkati, minta pasangan hidup, minta kesehatan, dll. Kita terlalu sering meminta sesuatu yang seharusnya ga perlu kita minta lagi, karena Tuhan pasti kasih itu buat kita, asal kita mau serahin seluruh hidup kita sama Dia.
So, ayo inget-inget lagi. Apakah hidup kita uda kita serahin SEPENUHNYA ke dalam tanganNya? Sepenuhnya berarti SELURUH aspek hidup kita. Itu termasuk rencana masa depan kita, uang kita, studi kita, keluarga kita, pasangan hidup kita, dan apapun yang kita anggap penting dalam hidup kita.
Guys, apa kado yang mau kamu kasih buat Tuhan taun ini? =)
Tapi kita liat sekarang, makna Natal uda mulai di-blur-in sama liburan, pesta perayaan yang cenderung hedon(isme-red), diskon gede-gedean di toko-toko, baju baru, topi Santa, simbol-simbol sinterklaus , tradisi pohon natal beserta hiasan-hiasannya, dan kado-kado natal yang ditaro di bawahnya. Hei! Natal seharusnya lebih dari itu. Natal adalah waktu kita ngerenungin lagi, seberapa besar “hadiah” yang udah kita kasih buat Tuhan. Apa cuma dua jam setiap hari Minggu di gereja? Atau cuma pelayanan setiap minggu di gereja?
Tau ga, hadiah terindah yang bakal bikin Tuhan seneng banget itu apa? Hadiah itu berupa ego dan hak bebas kita untuk menentukan hidup dan masa depan kita sendiri. Akan jadi hadiah yang paling indah, ketika kita kasih masa depan dan sisa hidup kita untuk kemuliaanNya.
Saya inget, waktu kecil, kalo uda mau Natal, saya berdoa minta maenan baru, baju baru, dan barang-barang lain yang saya inginkan. Seringkali kita juga seperti itu. Kita minta keluarga kita diberkati, minta pasangan hidup, minta kesehatan, dll. Kita terlalu sering meminta sesuatu yang seharusnya ga perlu kita minta lagi, karena Tuhan pasti kasih itu buat kita, asal kita mau serahin seluruh hidup kita sama Dia.
So, ayo inget-inget lagi. Apakah hidup kita uda kita serahin SEPENUHNYA ke dalam tanganNya? Sepenuhnya berarti SELURUH aspek hidup kita. Itu termasuk rencana masa depan kita, uang kita, studi kita, keluarga kita, pasangan hidup kita, dan apapun yang kita anggap penting dalam hidup kita.
Guys, apa kado yang mau kamu kasih buat Tuhan taun ini? =)
13.10.09
Melakukan Bagian Kita
“".. Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan akupun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku." Berfirmanlah TUHAN kepadanya:"Tetapi Akulah yang menyertai engkau..."” (Hakim-hakim 6:15-16)
Saya selalu ingat dengan kesaksian seorang teman tentang bagaimana Tuhan memakai dirinya untuk memenangkan seluruh isi keluarganya bagi Tuhan. Sebelum ia bertobat, ia hanyalah seorang anak paling bungsu yang tidak memiliki pengaruh apapun bagi keluarganya. Namun, sejak ia mengenal Tuhan dan hidupnya diubahkan, bahkan Tuhan memakainya untuk boleh membawa seluruh isi keluarganya kepada Tuhan, meskipun tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ia selalu membawa seluruh keluarganya ke dalam doa malamnya setiap hari, mendoakan mereka satu persatu, menjadi berkat di tengah-tengah keluarganya, dan berusaha memperkenalkan mereka kepada Yesus Kristus.
Sejak ia mengenal Tuhan, kasih Bapa ada dalam hidupnya, sehingga ia dapat mengasihi keluarganya, karakternya yang buruk dan tempramental perlahan berubah menjadi serupa Kristus. Kehadirannya saat ini di tengah-tengah keluarganya benar-benar membawa suatu atmosfer kasih dan damai sejahtera Tuhan. Dari situlah, satu persatu dari anggota keluarganya juga ikut bertobat dan mengenal Kristus.
Tanpa altar call maupun doa dari seorang hamba Tuhan yang hebat, akhirnya kini seluruh anggota keluarganya mengenal dan melayani Kristus. Hanya doa sederhana dan penuh kerinduan dari seorang anak bungsu yang mungkin tak punya pengaruh besar dalam keluarganya. Sahabat NK, mungkin kita merasa bahwa kita bukanlah orang yang cukup berpengaruh dalam keluarga, bagaimana bisa kita memenangkan seluruh keluarga? Namun lewat kesaksian di atas, kita melihat bahwa hanya dengan campur tangan kuasa Tuhanlah yang mengubah kehidupan seseorang, bukan karena kehebatan kita. Bagian kita hanyalah mendoakan mereka, memperkenalkan mereka pada Kristus, dan memancarkan kasih Tuhan dalam kehidupan kita. Sisanya, biarkan Tuhan yang bekerja secara luar biasa dalam kehidupan keluarga kita.
Saya selalu ingat dengan kesaksian seorang teman tentang bagaimana Tuhan memakai dirinya untuk memenangkan seluruh isi keluarganya bagi Tuhan. Sebelum ia bertobat, ia hanyalah seorang anak paling bungsu yang tidak memiliki pengaruh apapun bagi keluarganya. Namun, sejak ia mengenal Tuhan dan hidupnya diubahkan, bahkan Tuhan memakainya untuk boleh membawa seluruh isi keluarganya kepada Tuhan, meskipun tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ia selalu membawa seluruh keluarganya ke dalam doa malamnya setiap hari, mendoakan mereka satu persatu, menjadi berkat di tengah-tengah keluarganya, dan berusaha memperkenalkan mereka kepada Yesus Kristus.
Sejak ia mengenal Tuhan, kasih Bapa ada dalam hidupnya, sehingga ia dapat mengasihi keluarganya, karakternya yang buruk dan tempramental perlahan berubah menjadi serupa Kristus. Kehadirannya saat ini di tengah-tengah keluarganya benar-benar membawa suatu atmosfer kasih dan damai sejahtera Tuhan. Dari situlah, satu persatu dari anggota keluarganya juga ikut bertobat dan mengenal Kristus.
Tanpa altar call maupun doa dari seorang hamba Tuhan yang hebat, akhirnya kini seluruh anggota keluarganya mengenal dan melayani Kristus. Hanya doa sederhana dan penuh kerinduan dari seorang anak bungsu yang mungkin tak punya pengaruh besar dalam keluarganya. Sahabat NK, mungkin kita merasa bahwa kita bukanlah orang yang cukup berpengaruh dalam keluarga, bagaimana bisa kita memenangkan seluruh keluarga? Namun lewat kesaksian di atas, kita melihat bahwa hanya dengan campur tangan kuasa Tuhanlah yang mengubah kehidupan seseorang, bukan karena kehebatan kita. Bagian kita hanyalah mendoakan mereka, memperkenalkan mereka pada Kristus, dan memancarkan kasih Tuhan dalam kehidupan kita. Sisanya, biarkan Tuhan yang bekerja secara luar biasa dalam kehidupan keluarga kita.
Falling In Love with God
Setiap dari kita pasti uda ga asing lagi sama yang namanya “DOA”. Atau mungkin bahkan udah bosen dengernya. Tapi ironisnya, ga setiap dari kita yang menganggap doa itu sebuah gaya hidup. Bahkan mungkin masih ada dari kita yang berdoa hanya ketika kita “kepepet” ato lagi ada masalah dan kita ga tau lagi jalan keluarnya. Semua orang Kristen mungkin tau bahwa doa itu nafas hidup orang percaya. Tapi berapa dari kita yang tau apa maksudnya? Itu artinya bahwa doa adalah sebuah kebutuhan. Sama kaya klo kita ga makan, kita pasti mati. Jadi, doa seharusnya menjadi gaya hidup setiap orang Kristen.
Masalahnya, kadang kita merasa jenuh untuk berdoa. Merasa tidak mendapatkan apa-apa ketika berdoa. Berdoa itu bikin ngantuk dan membosankan. Iya ga sih? Jadi sebenernya, apa sih yang salah dari doa kita?
Waktu saya tanya Tuhan, Tuhan ingetin saya tentang pengalaman pribadi yang pernah saya alami. Waktu saya mulai jatuh cinta sama pasangan saya, hidup saya sepertinya terasa lebih “hidup”. Saya bergairah mengerjakan setiap kegiatan saya, karena saya selalu mikirin dia setiap saat. Itu menolong saya untuk tetep ngrasa deket sama dia, walaupun saat itu saya sedang tidak bersama ato di deket dia, karena saya selalu ‘melibatkan’ dia dalam setiap kegiatan yang saya lakukan. Saya selalu nunggu2 waktu di mana saya bakal ketemu dia buat ngobrol dan share tentang kehidupan kami masing-masing. Dalam perjalanannya, kami semakin mengenal satu sama lain, dan setiap hal yang terjadi dalam hubungan kami menjadi suatu pengalaman yang baru. Semua itu membuat saya bergairah karena saya mencintainya dan selalu menjaga rasa cinta yang mula-mula itu ada dalam hati saya.
Begitulah seharusnya kehidupan doa kita. Doa kita seharusnya menjadi sesuatu yang menggairahkan kita, ketika kita tetap bisa menjaga kasih yang mula-mula itu dalam hati kita. Sama seperti seseorang yang sedang jatuh cinta akan selalu menunggu-nunggu waktu untuk bertemu dengan kekasihnya, demikian juga dengan orang yang jatuh cinta setiap hari dengan Tuhan. Ia akan dengan bergairah menjalani kehidupannya karena semakin hari ia semakin mengenal kehendak Tuhan dalam hidupnya. karena percuma aja kalo kita sibuk melayani di gereja, tapi ketika kita telah kehilangan kasih kita yang mula-mula sama Tuhan. Itu semua akan menjadi sia-sia. (Wahyu 2:2-4)
Mungkin di antara kita ada yang sedang mengalami kehidupan doa yang kurang bergairah. Mari sama-sama kita minta lagi kasihNya yang mula-mula supaya kita “jatuh cinta” lagi sama Tuhan, dan kita bisa hidup sesuai apa yang menjadi kehendakNya dalam hidup kita sehingga hidup kita menjadi maksimal.
Guyz, jangan pernah berhenti berdoa. Karena doa adalah bentuk komunikasi kita dengan Tuhan. Dan Tuhan mau kasih tau kehendakNya dalam hidup kita. Dia rindu untuk bersekutu sama kita. Yuk, kita ngobrol sama Tuhan.. =)
Masalahnya, kadang kita merasa jenuh untuk berdoa. Merasa tidak mendapatkan apa-apa ketika berdoa. Berdoa itu bikin ngantuk dan membosankan. Iya ga sih? Jadi sebenernya, apa sih yang salah dari doa kita?
Waktu saya tanya Tuhan, Tuhan ingetin saya tentang pengalaman pribadi yang pernah saya alami. Waktu saya mulai jatuh cinta sama pasangan saya, hidup saya sepertinya terasa lebih “hidup”. Saya bergairah mengerjakan setiap kegiatan saya, karena saya selalu mikirin dia setiap saat. Itu menolong saya untuk tetep ngrasa deket sama dia, walaupun saat itu saya sedang tidak bersama ato di deket dia, karena saya selalu ‘melibatkan’ dia dalam setiap kegiatan yang saya lakukan. Saya selalu nunggu2 waktu di mana saya bakal ketemu dia buat ngobrol dan share tentang kehidupan kami masing-masing. Dalam perjalanannya, kami semakin mengenal satu sama lain, dan setiap hal yang terjadi dalam hubungan kami menjadi suatu pengalaman yang baru. Semua itu membuat saya bergairah karena saya mencintainya dan selalu menjaga rasa cinta yang mula-mula itu ada dalam hati saya.
Begitulah seharusnya kehidupan doa kita. Doa kita seharusnya menjadi sesuatu yang menggairahkan kita, ketika kita tetap bisa menjaga kasih yang mula-mula itu dalam hati kita. Sama seperti seseorang yang sedang jatuh cinta akan selalu menunggu-nunggu waktu untuk bertemu dengan kekasihnya, demikian juga dengan orang yang jatuh cinta setiap hari dengan Tuhan. Ia akan dengan bergairah menjalani kehidupannya karena semakin hari ia semakin mengenal kehendak Tuhan dalam hidupnya. karena percuma aja kalo kita sibuk melayani di gereja, tapi ketika kita telah kehilangan kasih kita yang mula-mula sama Tuhan. Itu semua akan menjadi sia-sia. (Wahyu 2:2-4)
Mungkin di antara kita ada yang sedang mengalami kehidupan doa yang kurang bergairah. Mari sama-sama kita minta lagi kasihNya yang mula-mula supaya kita “jatuh cinta” lagi sama Tuhan, dan kita bisa hidup sesuai apa yang menjadi kehendakNya dalam hidup kita sehingga hidup kita menjadi maksimal.
Guyz, jangan pernah berhenti berdoa. Karena doa adalah bentuk komunikasi kita dengan Tuhan. Dan Tuhan mau kasih tau kehendakNya dalam hidup kita. Dia rindu untuk bersekutu sama kita. Yuk, kita ngobrol sama Tuhan.. =)
22.9.09
Harta Karun
“Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.” (Lukas 7:38)
Pelayanan, sekali lagi, bukan hanya sebatas sebuah kegiatan rohani yang kita lakukan untuk Tuhan di gereja, bukan hanya sebatas sebuah kegiatan sosial yang kita lakukan untuk orang lain. Pelayanan bicara tentang hidup kita, apakah berkenan di hadapan Tuhan dan memuliakanNya.
Pelayanan yang terbaik bagi Tuhan adalah pelayanan yang didasari dengan sikap hati yang benar, yang mengasihi Tuhan, dan selalu ingin menyenangkan hatiNya. Pelayanan yang terbaik juga merupakan bukti penyerahan total hidup kita, untuk mengabdi (hidup) bagi Dia. Seperti wanita yang mengurapi Yesus, ia bahkan memecahkan buli-buli minyak yang harganya kira-kira setara dengan upah kerja tiga ratus hari seorang pekerja pada saat itu. Minyak wangi adalah simbol dari sesuatu hal yang berharga dalam hidup kita. Untuk memberikan pelayanan yang terbaik, wanita tersebut bahkan rela memberikan “harta”nya yang terbaik bagi Tuhan.
Sahabat, apakah yang menjadi “harta karun” kehidupan kita? Apakah itu pekerjaan kita, keluarga, teman-teman, hobi, atau hal yang lainnya? Maukah kita menyerahkan semuanya bagi Tuhan dan melayani Tuhan dengan “harta karun” tersebut sebagai persembahan yang terbaik bagiNya?
Pelayanan, sekali lagi, bukan hanya sebatas sebuah kegiatan rohani yang kita lakukan untuk Tuhan di gereja, bukan hanya sebatas sebuah kegiatan sosial yang kita lakukan untuk orang lain. Pelayanan bicara tentang hidup kita, apakah berkenan di hadapan Tuhan dan memuliakanNya.
Pelayanan yang terbaik bagi Tuhan adalah pelayanan yang didasari dengan sikap hati yang benar, yang mengasihi Tuhan, dan selalu ingin menyenangkan hatiNya. Pelayanan yang terbaik juga merupakan bukti penyerahan total hidup kita, untuk mengabdi (hidup) bagi Dia. Seperti wanita yang mengurapi Yesus, ia bahkan memecahkan buli-buli minyak yang harganya kira-kira setara dengan upah kerja tiga ratus hari seorang pekerja pada saat itu. Minyak wangi adalah simbol dari sesuatu hal yang berharga dalam hidup kita. Untuk memberikan pelayanan yang terbaik, wanita tersebut bahkan rela memberikan “harta”nya yang terbaik bagi Tuhan.
Sahabat, apakah yang menjadi “harta karun” kehidupan kita? Apakah itu pekerjaan kita, keluarga, teman-teman, hobi, atau hal yang lainnya? Maukah kita menyerahkan semuanya bagi Tuhan dan melayani Tuhan dengan “harta karun” tersebut sebagai persembahan yang terbaik bagiNya?
Mengaktifkan Kasih Agape
“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (Efesus 2:10)
Kita telah diselamatkan oleh kebenaran. Dan Tuhan telah menciptakan kita untuk hidup melayani Tuhan dan sesama kita. Ia telah memersiapkan suatu “pekerjaan baik” untuk kita dan Ia mau supaya kita hidup di dalamnya. Ketika kita menyadari fungsi kita adalah pelayan bagi Tuhan dan sesama kita, seharusnya kita menyadari satu hal ini: bahwa seorang pelayan tidak mementingkan kepentingannya sendiri, tetapi mendahulukan kepentingan orang lain. Jadi, Tuhan mau supaya kita tidak hidup hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk Tuhan dan untuk orang lain.
Untuk dapat hidup seperti itu, kita perlu sebuah pengikat dan dasar yang kuat, yaitu kasih agape. Kasih agape adalah kasih yang Tuhan tunjukkan kepada manusia. Kasih yang tidak mengharapkan imbalan, tanpa syarat, dan tulus. Kasih agape tidak egois, ia juga tidak mencari penghargaan dan pengakuan atas tindakan kasih yang dilakukannya dari orang lain. Kasih agape tidak memikirkan dirinya sendiri, namun selalu memberi kepada orang lain. Kasih agape sudah ada dalam diri setiap orang percaya, namun ia perlu diaktifkan dan dilatih setiap hari dengan menghadapi setiap kekurangan dan kelemahan manusia. Kasih itu panjang sabar. Ia baru muncul kalau ada orang yang membuat kita tidak sabar. Kasih itu murat hati. Ia baru muncul kalau ada seseorang yang perlu kita ampuni. Dan lain sebagainya.
Jika kita masing-masing tahu bahwa hidup kita telah dirancang oleh Tuhan untuk melayani, bukan hanya dilayani, dan kasih agape itu telah diaktifkan di dalam kita, pelayanan yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari kita akan menjadi ekselen karena kita ingin menyenangkan Tuhan.
Kita telah diselamatkan oleh kebenaran. Dan Tuhan telah menciptakan kita untuk hidup melayani Tuhan dan sesama kita. Ia telah memersiapkan suatu “pekerjaan baik” untuk kita dan Ia mau supaya kita hidup di dalamnya. Ketika kita menyadari fungsi kita adalah pelayan bagi Tuhan dan sesama kita, seharusnya kita menyadari satu hal ini: bahwa seorang pelayan tidak mementingkan kepentingannya sendiri, tetapi mendahulukan kepentingan orang lain. Jadi, Tuhan mau supaya kita tidak hidup hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk Tuhan dan untuk orang lain.
Untuk dapat hidup seperti itu, kita perlu sebuah pengikat dan dasar yang kuat, yaitu kasih agape. Kasih agape adalah kasih yang Tuhan tunjukkan kepada manusia. Kasih yang tidak mengharapkan imbalan, tanpa syarat, dan tulus. Kasih agape tidak egois, ia juga tidak mencari penghargaan dan pengakuan atas tindakan kasih yang dilakukannya dari orang lain. Kasih agape tidak memikirkan dirinya sendiri, namun selalu memberi kepada orang lain. Kasih agape sudah ada dalam diri setiap orang percaya, namun ia perlu diaktifkan dan dilatih setiap hari dengan menghadapi setiap kekurangan dan kelemahan manusia. Kasih itu panjang sabar. Ia baru muncul kalau ada orang yang membuat kita tidak sabar. Kasih itu murat hati. Ia baru muncul kalau ada seseorang yang perlu kita ampuni. Dan lain sebagainya.
Jika kita masing-masing tahu bahwa hidup kita telah dirancang oleh Tuhan untuk melayani, bukan hanya dilayani, dan kasih agape itu telah diaktifkan di dalam kita, pelayanan yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari kita akan menjadi ekselen karena kita ingin menyenangkan Tuhan.
Bertekun Dalam Janji BerkatNya
“..., sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkanNya....”
(Ulangan 8:18)
Facebook. Siapa yang kini tak kenal dengan situs jejaring sosial tersebut. Bahkan kini pamornya di Indonesia mengalahkan situs pendahulunya, Friendster. Pada awalnya, situs ini sebenarnya dibuat sebagai situs jaringan pertemanan terbatas di kalangan kampus Harvard. Penggagas ide situs ini muncul dari seorang pria berumur 25 tahun yang bernama Mark Zuckerberg. Nama ‘facebook’ ia ambil dari buku Facebook, yang berisi daftar anggota komunitas dalam satu kampus dan diberikan kepada mahasiswa atau staf fakultas yang baru agar bisa lebih mengenal orang lain di kampus bersangkutan.
Mark, yang hobi mengotak-atik program pembuatan website dari kamar asramanya, menggarap proyeknya secara serius dan tekun. Hanya dalam waktu sekitar dua minggu, Facebook telah mampu menjaring dua per tiga lebih mahasiswa Harvard sebagai anggota tetap. Bukan hanya itu, Mark pun mengembangkan inovasinya sehingga situs yang ia buat memiliki nilai lebih dari situs pertemanan lainnya. Hasilnya, hingga akhir Februari 2009, pengguna account Facebook telah mencapai angka 150 juta orang. Penghargaan terakhir diterima Mark adalah dari World Economic Forum (WEF) dan termasuk 230 orang yang dianggap berpengaruh bagi dunia sebagai Young Global Leaders 2009.
Sebagian dari kita mungkin berpikir memang ada orang-orang yang dilahirkan untuk sukses dan memiliki segudang prestasi dalam hidupnya. Namun orang yang tak mengenal kebenaran pun tahu, kunci untuk hidup berprestasi adalah ketekunan dan kerja keras. Apalagi kita yang telah mengerti kebenaran. Tuhan menyatakan janji dan berkatNya bagi orang yang mengandalkan Tuhan dalam kehidupannya. Jadi kuncinya, andalkan Tuhan, dan milikilah ketekunan untuk terus berusaha.
TAK ADA KETEKUNAN YANG TAK MEMBAWA HASIL.
(Ulangan 8:18)
Facebook. Siapa yang kini tak kenal dengan situs jejaring sosial tersebut. Bahkan kini pamornya di Indonesia mengalahkan situs pendahulunya, Friendster. Pada awalnya, situs ini sebenarnya dibuat sebagai situs jaringan pertemanan terbatas di kalangan kampus Harvard. Penggagas ide situs ini muncul dari seorang pria berumur 25 tahun yang bernama Mark Zuckerberg. Nama ‘facebook’ ia ambil dari buku Facebook, yang berisi daftar anggota komunitas dalam satu kampus dan diberikan kepada mahasiswa atau staf fakultas yang baru agar bisa lebih mengenal orang lain di kampus bersangkutan.
Mark, yang hobi mengotak-atik program pembuatan website dari kamar asramanya, menggarap proyeknya secara serius dan tekun. Hanya dalam waktu sekitar dua minggu, Facebook telah mampu menjaring dua per tiga lebih mahasiswa Harvard sebagai anggota tetap. Bukan hanya itu, Mark pun mengembangkan inovasinya sehingga situs yang ia buat memiliki nilai lebih dari situs pertemanan lainnya. Hasilnya, hingga akhir Februari 2009, pengguna account Facebook telah mencapai angka 150 juta orang. Penghargaan terakhir diterima Mark adalah dari World Economic Forum (WEF) dan termasuk 230 orang yang dianggap berpengaruh bagi dunia sebagai Young Global Leaders 2009.
Sebagian dari kita mungkin berpikir memang ada orang-orang yang dilahirkan untuk sukses dan memiliki segudang prestasi dalam hidupnya. Namun orang yang tak mengenal kebenaran pun tahu, kunci untuk hidup berprestasi adalah ketekunan dan kerja keras. Apalagi kita yang telah mengerti kebenaran. Tuhan menyatakan janji dan berkatNya bagi orang yang mengandalkan Tuhan dalam kehidupannya. Jadi kuncinya, andalkan Tuhan, dan milikilah ketekunan untuk terus berusaha.
TAK ADA KETEKUNAN YANG TAK MEMBAWA HASIL.
Membuat Allah Tersenyum
“Engkau telah menciptakan segala sesuatu, dan bagi kesenanganMu semuanya itu ada dan diciptakan.” (Wahyu 4:11 NLT—New Living Translation)
Salah satu film favorit saya saat kecil adalah film kolosal yang bercerita tentang kehidupan kerajaan di negeri Cina. Satu hal yang saya pelajari dari film tersebut adalah adegan di mana seluruh isi kerajaan tersebut, entah itu dayang, selir, pembawa pesan, atau bahkan putri dan pangerannya, menyembah Sang Raja dengan penuh hormat. Apapun yang sedang dilakukan, ketika Sang Raja lewat di depan mereka, mereka langsung menghentikan pekerjaan mereka, dan sembah sujud ke hadapan Sang Raja. Seolah-olah mereka sangat menghormati raja mereka dan apapun yang mereka lakukan dalam istana tersebut, semuanya untuk kepentingan Sang Raja dan untuk menyenangkan hati Sang Raja.
Begitu pula dengan kita. Pada saat kita dilahirkan ke dunia, Allah ingin kita hidup, dan kelahiran kita memberiNya kesenangan besar. Allah sebenarnya tidak perlu menciptakan kita, namun Dia memilih untuk menciptakan kita demi kesenanganNya sendiri, untuk kepentinganNya, untuk kemuliaanNya, dan untuk tujuanNya. Itu sebabnya penyembahan kita kepada Tuhan, bukanlah untuk kepentingan dan kesenangan kita, tapi untuk kepentingan dan kesenangan Allah sendiri.
Penyembahan, sekali lagi, bukan soal musik dan tidak ada kaitannya dengan gaya atau volume atau kecepatan lagu. Penyembahan adalah tentang mendatangkan kesenangan bagi Allah. Jadi, apapun yang kita lakukan untuk kemuliaanNya – bekerja, belajar, melayani di gereja, melakukan pekerjaan rumah tangga – dengan penuh kesadaran akan kehadiranNya setiap waktu dalam hidup kita, kita sedang menyembahNya dengan cara yang Ia inginkan.
Salah satu film favorit saya saat kecil adalah film kolosal yang bercerita tentang kehidupan kerajaan di negeri Cina. Satu hal yang saya pelajari dari film tersebut adalah adegan di mana seluruh isi kerajaan tersebut, entah itu dayang, selir, pembawa pesan, atau bahkan putri dan pangerannya, menyembah Sang Raja dengan penuh hormat. Apapun yang sedang dilakukan, ketika Sang Raja lewat di depan mereka, mereka langsung menghentikan pekerjaan mereka, dan sembah sujud ke hadapan Sang Raja. Seolah-olah mereka sangat menghormati raja mereka dan apapun yang mereka lakukan dalam istana tersebut, semuanya untuk kepentingan Sang Raja dan untuk menyenangkan hati Sang Raja.
Begitu pula dengan kita. Pada saat kita dilahirkan ke dunia, Allah ingin kita hidup, dan kelahiran kita memberiNya kesenangan besar. Allah sebenarnya tidak perlu menciptakan kita, namun Dia memilih untuk menciptakan kita demi kesenanganNya sendiri, untuk kepentinganNya, untuk kemuliaanNya, dan untuk tujuanNya. Itu sebabnya penyembahan kita kepada Tuhan, bukanlah untuk kepentingan dan kesenangan kita, tapi untuk kepentingan dan kesenangan Allah sendiri.
Penyembahan, sekali lagi, bukan soal musik dan tidak ada kaitannya dengan gaya atau volume atau kecepatan lagu. Penyembahan adalah tentang mendatangkan kesenangan bagi Allah. Jadi, apapun yang kita lakukan untuk kemuliaanNya – bekerja, belajar, melayani di gereja, melakukan pekerjaan rumah tangga – dengan penuh kesadaran akan kehadiranNya setiap waktu dalam hidup kita, kita sedang menyembahNya dengan cara yang Ia inginkan.
15.5.09
Kesibukan Bukan Penghalang
“Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! ... Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.” (Roma 12:9-10)
Sebagai anak, dulu saya seringkali mengeluh mengapa orang tua saya selalu sibuk dengan urusan pekerjaannya, sehingga tak banyak waktu yang mereka luangkan untuk kami, anak-anaknya. Tak jarang pula saya jadi mulai kurang peduli dengan keadaan keluarga kami. Tak banyak cerita yang saya bagikan untuk mereka, komunikasi pun seperlunya, bahkan cenderung jika ada maunya. Ketika saya pulang dari berbagai aktivitas saya di siang atau sore hari, seringkali saya tidak mendapatkan mereka berada di rumah. Mereka baru pulang larut malam, pada saat beberapa saatnya lagi saya harus tidur.
Sebagai anak, dulu saya seringkali mengeluh mengapa orang tua saya selalu sibuk dengan urusan pekerjaannya, sehingga tak banyak waktu yang mereka luangkan untuk kami, anak-anaknya. Tak jarang pula saya jadi mulai kurang peduli dengan keadaan keluarga kami. Tak banyak cerita yang saya bagikan untuk mereka, komunikasi pun seperlunya, bahkan cenderung jika ada maunya. Ketika saya pulang dari berbagai aktivitas saya di siang atau sore hari, seringkali saya tidak mendapatkan mereka berada di rumah. Mereka baru pulang larut malam, pada saat beberapa saatnya lagi saya harus tidur.
Namun ternyata, bukan saya satu-satunya orang di dunia ini yang mengalami keadaan demikian. Seorang teman terbaik saya pun ternyata hampir-hampir tak pernah ada waktu yang cukup untuk keluarga. Seluruh anggota keluarganya masing-masing sibuk dengan urusan pekerjaannya sendiri. Namun saya sangat mengagumi sikapnya yang selalu tetap berusaha menjaga hubungan baik dengan keluarganya. Setelah pulang beraktivitas di malam hari, tentunya ia sangat lelah dan ingin segera pergi tidur. Namun, ketika ia pulang dan mendapati ayahnya belum tidur, ia selalu memutuskan untuk menemani sang ayah, duduk di sampingnya untuk entah sekedar berbagai cerita hari itu, atau mungkin ada obrolan yang dapat ia diskusikan dengan sang ayah.
Saya selalu ingat kata-katanya, bahwa tak seharusnya melulu kita yang minta diperhatikan. Mungkin orang tua kita sibuk dengan pekerjaannya, namun tak berarti kita menjadi egois dan dengan pasif berharap mereka meluangkan waktunya untuk kita. Mengapa bukan kita yang berusaha berkorban sedikit waktu kita untuk mereka dengan cara kita terlebih dahulu yang menghampiri mereka dan membagi hidup kita untuk mereka? Karena seharusnya kesibukan kita tidak menjadi penghalang untuk kita tetap memiliki hubungan yang hangat di dalam keluarga. Sahabat, sebelum menjadi berkat bagi orang lain, mari menjadi berkat dalam lingkungan keluarga yang telah Tuhan percayakan kepada kita.
n.b: thx to van, my inspirator, yang selalu percaya, bahwa bakat itu ada... ^^
4.5.09
Fokus dan Konsistensi
Suatu kali saya berpikir, mengapa batu yang begitu keras dan besar di sungai dapat suatu hari menjadi lebih kecil daripada hari kemarin-kemarin, bahkan menghilang tak ada lagi. Lalu saya menemukan jawabannya. Air di sungai tersebut mengikis batu tersebut di titik yang sama berulang-ulang sehingga batu tersebut terkikis menjadi semakin kecil kemudian hilang.
Akhir-akhir ini, yang selalu "menghantui" pikiran saya adalah pergumulan saya tentang masa depan. Apa yang akan saya lakukan setelah saya lulus, pekerjaan apa yang akan saya ambil, di mana tempat kerja yang saya inginkan, apa rencana saya empat sampai lima tahun mendatang, dan lain sebagainya. Sejujurnya sebagai mahasiswa tingkat akhir, mungkin itu menjadi sindrom kebingungan yang harus dihadapi. Untuk pertama kalinya dalam hidup mungkin, ia harus benar-benar mengambil suatu keputusan yang tidak mudah dan cukup besar, karena keputusan tersebut akan memengaruhi hidupnya di masa yang akan datang. Untuk pertama kalinya, ia sendiri -tidak lagi oleh orang tua atau teman-teman di sekitarnya- yang harus memutuskan rencana kehidupannya dan belajar untuk mengambil keputusannya sendiri.
Saya mulai memikirkan pekerjaan yang saya sukai, bakat dan hobi yang saya miliki, pekerjaan yang mungkin akan menjadi prospek yang sangat bagus di kemudian hari. Lalu saya menemukan satu hal, bahwa apapun yang akan saya lakukan di masa yang akan datang, hal ini yang harus saya ingat: fokus dan konsistensi.
Fokus berarti terus memandang kepada satu tujuan, tanpa membiarkan diri dialihkan oleh perhatian-perhatian yang lain (yang mungkin lebih menarik perhatian kita). Fokus harus dimulai dari komitmen. Komitmen untuk tetap memandang tujuan tersebut, bagaimanapun kesulitannya. Namun fokus tak berarti apa-apa tanpa konsistensi. Saat kesulitan tersebut datang, kita butuh konsistensi. Konsistensi adalah ketekunan saat halangan dan tantangan datang. Konsistensilah yang menjaga kita akan tetap berada dalam jalur pandang kita, dan membantu kita menyelesaikan tujuan yang kita miliki sampai akhir.
Saya telah melihat beberapa contoh dalam hidup orang lain, bagaimana sulitnya ketika ia memutuskan untuk tetap berfokus pada apa yang sedang dilakukannya, sementara banyak hal lain yang sepertinya menarik untuk juga dilakukan. Namun ketika ia fokus pada apa yang menjadi tujuannya, sekarang saya melihat keberhasilan tersebut dalam hidupnya.
Terkadang kita berhenti berjalan saat batu besar di depan menghadang jalan kita, lalu memutuskan untuk berbelok ke jalan lain daripada menyingkirkan batu besar tersebut sehingga kita bisa menyelesaikan perjalanan kita. Mungkin kita lupa, bahwa di setiap jalan yang kita tempuh, pasti memiliki "batu besar"nya sendiri-sendiri. Daripada memilih jalan yang memiliki "batu" ter"kecil" dan termudah dalam perjalanan kita, lebih baik kita tetap berada dalam jalan kita dan menyingkirkan batu besar tersebut untuk kemudian berjalan lagi menyelesaikan perjalanan kita.
Ketika kita berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, banyak hal yang harus kita mulai lagi. Adaptasi, proses pembelajaran, proses sosialisasi, penetapan tujuan, dan lainnya. Jika kita terus menerus memulai proses tersebut, akhirnya kita hanya membuang-buang waktu untuk hal yang seharusnya dapat kita capai dalam waktu tertentu. Karena sesuatu yang terus menerus dimulai dan dirintis dari awal tidak akan pernah maksimal dan bahkan mencapai kesuksesan yang kita impikan. Mengapa tak memilih fokus dulu di jalan yang kita tempuh, untuk kemudian memulai perjalanan yang baru setelah kita mencapai garis akhir? =)
Akhir-akhir ini, yang selalu "menghantui" pikiran saya adalah pergumulan saya tentang masa depan. Apa yang akan saya lakukan setelah saya lulus, pekerjaan apa yang akan saya ambil, di mana tempat kerja yang saya inginkan, apa rencana saya empat sampai lima tahun mendatang, dan lain sebagainya. Sejujurnya sebagai mahasiswa tingkat akhir, mungkin itu menjadi sindrom kebingungan yang harus dihadapi. Untuk pertama kalinya dalam hidup mungkin, ia harus benar-benar mengambil suatu keputusan yang tidak mudah dan cukup besar, karena keputusan tersebut akan memengaruhi hidupnya di masa yang akan datang. Untuk pertama kalinya, ia sendiri -tidak lagi oleh orang tua atau teman-teman di sekitarnya- yang harus memutuskan rencana kehidupannya dan belajar untuk mengambil keputusannya sendiri.
Saya mulai memikirkan pekerjaan yang saya sukai, bakat dan hobi yang saya miliki, pekerjaan yang mungkin akan menjadi prospek yang sangat bagus di kemudian hari. Lalu saya menemukan satu hal, bahwa apapun yang akan saya lakukan di masa yang akan datang, hal ini yang harus saya ingat: fokus dan konsistensi.
Fokus berarti terus memandang kepada satu tujuan, tanpa membiarkan diri dialihkan oleh perhatian-perhatian yang lain (yang mungkin lebih menarik perhatian kita). Fokus harus dimulai dari komitmen. Komitmen untuk tetap memandang tujuan tersebut, bagaimanapun kesulitannya. Namun fokus tak berarti apa-apa tanpa konsistensi. Saat kesulitan tersebut datang, kita butuh konsistensi. Konsistensi adalah ketekunan saat halangan dan tantangan datang. Konsistensilah yang menjaga kita akan tetap berada dalam jalur pandang kita, dan membantu kita menyelesaikan tujuan yang kita miliki sampai akhir.
Saya telah melihat beberapa contoh dalam hidup orang lain, bagaimana sulitnya ketika ia memutuskan untuk tetap berfokus pada apa yang sedang dilakukannya, sementara banyak hal lain yang sepertinya menarik untuk juga dilakukan. Namun ketika ia fokus pada apa yang menjadi tujuannya, sekarang saya melihat keberhasilan tersebut dalam hidupnya.
Terkadang kita berhenti berjalan saat batu besar di depan menghadang jalan kita, lalu memutuskan untuk berbelok ke jalan lain daripada menyingkirkan batu besar tersebut sehingga kita bisa menyelesaikan perjalanan kita. Mungkin kita lupa, bahwa di setiap jalan yang kita tempuh, pasti memiliki "batu besar"nya sendiri-sendiri. Daripada memilih jalan yang memiliki "batu" ter"kecil" dan termudah dalam perjalanan kita, lebih baik kita tetap berada dalam jalan kita dan menyingkirkan batu besar tersebut untuk kemudian berjalan lagi menyelesaikan perjalanan kita.
Ketika kita berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, banyak hal yang harus kita mulai lagi. Adaptasi, proses pembelajaran, proses sosialisasi, penetapan tujuan, dan lainnya. Jika kita terus menerus memulai proses tersebut, akhirnya kita hanya membuang-buang waktu untuk hal yang seharusnya dapat kita capai dalam waktu tertentu. Karena sesuatu yang terus menerus dimulai dan dirintis dari awal tidak akan pernah maksimal dan bahkan mencapai kesuksesan yang kita impikan. Mengapa tak memilih fokus dulu di jalan yang kita tempuh, untuk kemudian memulai perjalanan yang baru setelah kita mencapai garis akhir? =)
Subscribe to:
Posts (Atom)